yesus

IDENTITAS SURGAWI

Posted on Updated on

image

IDENTITAS SURGAWI. Pernahkah bertanya pada diri sendiri, “Siapakah aku ini?”. Sudahkah identitas sebagai murid Kristus, anak Tuhan, menancap kuat pada diriku?”.

Masyarakat cenderung menilai kekristenan kita melalui perbuatan sehari-hari, dan yang dicari-cari adalah kelemahan dan kesalahan yang kita buat. Jika ditemukan sesuatu, maka kesalahan itu serta merta menjadi bintang utama yang disorot lampu terang benderang supaya semua orang dapat melihat. Sudah cukup sering kita mendengar kalimat, “percuma ke gereja, percuma Kristen, percuna pelayanan dsb” sebagai reaksi dari tindakan yang dianggap tidak boleh dilakukan seorang Kristen. Bukan hanya dari orang yang belum percaya, tetapi sedihnya… Termasuk dari mereka adalah orang percaya. Kabar gembiranya adalah, reaksi tersebut secara tak langsung telah mengklaim bahwa Kekristenan dianggap sebagai ajaran yang benar dan suci.

Mari kita mulai belajar jujur pada diri sendiri dengan mempertanyakan pada diri sendiri, apakah yang telah kulakukan selama ini. Saya merangkum beberapa ciri orang Kristen Sejati antara lain sbb:

1. Masa lalu yang buruk akan menjadi kesaksian yang membawa kebaikan.
2. Kamu akan sadar untuk hidup dalam kebenaran.
3. Kamu akan bangkit diatas setiap keadaan/ masalah.
4. Menyadari bahwa kekuatanmu adalah dari Tuhan.
5. Menghasilkan 9 Buah Roh dalam hidupmu. Kasih, Sukacita, Damai Sejahtera, Kesabaran, Kemurahan, Kebaikan, kesetiaan, Kelemahlemhutan, dan Penguasaan Diri.

Yukkk introspeksi sejenak.

Efesus 2:10  Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Iklan

TINGGALLAH DI DALAM PERAHU

Posted on Updated on

image

Sebuah pesan yang kuat dari kotbah Ps Moses yang berasal  “entah dari mana” di ibadah #MSwoman di GMS beberapa hari yang lalu.

Ceritanya Ps Moses ini suka melayani di daerah pedalaman dan pulau-pulau terpencil yang sering merupakan pulau-pulau kecil di bagian terluar di batas kelautan NKRI. Kali itu, Beliau dan tim menyewa 3 buah perahu, masing-masing bermuatan 4 orang. Mereka hendak menyeberang ke pulau yang jaraknya 11 jam dari tempat mereka berangkat. Pulau  itu terletak disebelah jauh di sebelah utara Pulau Sangir, di Sualwesi utara, dan laut yang akan diseberangi adalah lautan luas (lautan Pacific).

Bapak pendeta ini, mendapatkan perahu yang paling lambat, dan pengemudi perahunya sudah tua. Ketika merasa tertinggal oleh 2 perahu yang lain, dalam hatinya mulai bersungut-sungut, dan ia berusaha untuk menikmati perjalanan.  Beberapa lama kemudian, mulailah mereka memasuki daerah yang bergelombang tinggi, minimal 2 meter tingginya, dan mulailah mereka terayun-ayun, dan rasa gentar mulai melanda, sedangkan 2 perahu yang lain tidak kelihatan sama sekali. Doa mulai dipanjatkan, bahasa roh menengking ombak-pun diluncurkan, namun ombak tak juga berhenti dan mulai kelihatan sirip-sirip berkeliaran disekitar perahu. Bertambah paniklah si bapak pendeta ini. Dalam kepanikan, si bapak pendeta melihat tukang perahu tetap tenang dan santai. . Lalu ia-pun berseru,”ombaknya besar ya, pak”. Si tukang perahu menjawab,”ahh..biasa aja..”, sambil terkekeh. Ia berseru lagi,”ikannya banyak ya, ikan apa namanya (padahal ia tahu bahwa itu ikan Hiu), pak?”. si tukang perahu menjawab lagi, “hehe..biasa aja…didepan sana malah lebih banyak lagi”. Tetapi anehnya si tukang perahu tetap tenang saja. ‘Melihat reaksinya, si bapak pendeta inipun berpikir, “ngapain juga panik, toh si bapak perahu tenang aja, mendingan tidur deh”.

Setelah tertidur beberapa lama, ia terbangun karena merasa perahu berhenti. Mengira sudah sampai di tujuan, ia membuka mata, ternyata mereka masih ditengah lautan, dan anehnya ..kali ini si tukang perahu mengerutkan dahi seolah sedang berpikir keras sambil memandang ke kejauhan. Bapak pendeta bertanya, “ada apa, pak?”

Tukang perahu menjawab, “gawat”. Si pendeta melihat ke kejauhan, dan kelihatan ombak tinggi tinggi seperti air mancur. Dia bertanya apa itu? Lalu dijelaskan sama tukang perahu, bahwa itu adalah pertemuan arus, dan sangat tidak mungkin untuk dilewati. jadi harus mencari “gerbangnya” dulu. Singkat cerita, ternyata dua perahu yang sebelumnya juga masih berputar-putar di sekitar sana. Panik dan takut tidak menolong, lompat dari perahu juga sama, selain ombaknya besar,, ikannya juga besar-besar. Tetapi singkat cerita, tukang perahu tua ini akhirnya berhasil menemukan jalan, dan menuntun dua perahu yang lain, tiba di pulau tujuan dengan selamat.

Memang benar dikala hidup kita berada dalam badai besar, kita secara spontan merasa gentar dengan apa yang akan kita hadapi di depan. Kita jelas tahu bahwa Tuhan ada disana dan selalu meyertai, tapi kita seolah-olah melupakan apa yang dapat dilakukanNya, bersandar pada pemikiran sendiri dan memilih lompat dari perahu sebagai jalan keluar.

Matius 8:23-26  Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya.
Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur.
Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.

BERSAKSILAH

Posted on Updated on

.
image

BERSAKSILAH. Karena itu perintah. Ia menyelamatkan jiwa yang kehilangan harapan. Dan kesaksianmu hari ini, bisa menyelamatkan seseorang.
.
Kisah Para Rasul 10:42 (TB)
Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati.

Jika kita percaya pada Tuhan Yesus dan mengasihiNya, bersaksi adalah bukti pertama yang bisa kita nyatakan kepada siapapun yang berada di sekitar kehidupan kita.

Bersaksilah tentang bagaimana Tuhan mengampuni dan menerima kita yang berdosa apa adany. Bagaimana kita menerima karunia Roh Kudus dan belajar memisahkan diri dari hal-hal yang jahat. Serta perjalanan kita dalam iman, pengharapan dan kasih, yang kita alami bersamaNya setiap hari.

Melalui kesaksian, secara tidak langsung kita telah menabur iman untuk mengikuti Yesus. Dan itulah perintahNya yang terutama. Dan taukah kamu, bahwa kesaksianmu akan menyelamatkan jiwa seseorang di luar sana?

BERSAKSI bukan hanya merupakan tugas bagi pendeta saja, tapi merupakan tugas kita semua sebagai anak-anak Allah. AMIN.

#Jesus #Christ #Bible #blessed #Christian #truth #Church #Scripture #BibleVerses #hope #Pray #God #Love #JesusChrist #GoodNews #Christians #Relationships #christianquote #encouragement #spiritualquote #faithwhisperer #inspirations #instagram #faithfulness #testify #saveonesoul

KEMENANGAN DALAM DIAM

Posted on Updated on

Renungan Jumat Agung/Paskah

Dalam keheningan malam, tanpa ada tanda-tanda apapun, tiba-tiba segerombolan serdadu muncul di tengah kegelapan. Para serdadu ini hanya mempunyai satu tujuan, yaitu menangkapNya. Kita tahu bahwa cerita ini menceritakan tentang proses pengkhianatan terhadap Yesus Kristus sampai Dia disalibkan, dikuburkan dan kemudian Bangkit pada hari ke 3. Ya, kisah ini berulang-ulang diceritakan dalam 4 Kitab Injil utama, yaitu dalam Matius 26-28, Markus 14-16, Lukas 22-24 dan Yohanes 18-19.

Pengkhianatan kerap mewarnai cerita perjalanan hidup kita, apakah itu hubungan percintaan, hubungan antara atasan-bawahan, hubungan antara teman, hubungan antara keluarga, intinya pengkhianatan terjadi ketika kita memberikan kepercayaan kepada seseorang, namun kepercayaan itu diselewengkan. Dan ketika kita mendapati diri kita dikhianati, umumnya kita tidak terima, kita meresponi dengan perlawanan, karena hati menolak untuk  menerima rasa sakit yang ditimbulkan oleh pengkhiatanan tersebut.  Penolakan dan perlawanan cuma menunjukkan bahwa kita kuat dan tidak gampang  diintimidasi atau diakali oleh orang lain, tetapi bukan untuk  membuat keadaan semakin membaik apalagi menyembuhkan, malah cenderung membuat masalah  semakin lebar dan semakin dalam. Dan itu bukanlah respon yang benar.

Mari kita simak contoh dibawah ini:

Illustrasi 1 :

Pernahkah anda melakukan test darah?  Saya kebetulan mempunyai daya tahan yang lemah terhadap  “darah”.  Sewaktu saya remaja, saya berkali-kali pingsan bila mendapati salah satu bagian tubuhku mengeluarkan darah, baik akibat tergores ataupun jatuh, maka tubuhku  serta merta akan terasa lemas, seakan darah berhenti mengalir, jantungku juga melemah, penglihatanku mulai buram dan kemudian tidak sadarkan diri. Pengalaman2 itu secara tidak langsung membuatkan keder duluan apabila hendak menjalani test darah, bahkan pada masa yang lalu, setiap kali test darah, setiap kali saya pingsan. Mengapa itu bisa tersjadi? karena saya dikuasai rasa takut dan menolak untuk menerima akibatnya. Untunglah tidak lama kemudian, saya berhasil mengetahui cara untuk mengatasinya. Pada waktu kita mau test darah, perawat akan menggunakan jarum suntik untuk dimasukkan kebawah kulit kita dan kemudian darah kita akan disedot dengan jarum suntik tersebut, untuk mencegah rasa sakit, maka pada saat jarum masuk ke dalam kulit, hiruplah nafas dalam-dalam dan kemudian bernafas secara teratur sewaktu darah mulai mengalir ke tabung injeksi. Duduk manis dengan diam adalah solusi terbaik untuk mencegah sakit, semakin kita banyak bergerak, semakin terasa sakitnya.

Illustrasi 2 :

Terkadang satu masalah kecil bisa memicu masalah besar, apalagi bila masalah tersebut menimpa seseorang yang mempunyai “pengaruh” dalam satu komunitas.  Jono adalah seorang pria yang sangat disukai dalam kalangan teman-teman sekerjanya, pada suatu hari si Bossnya Jono,  tiba-tiba memanggil si Jono, dan kemudian tanpa alasan memPHK si Jono. Jono tentu saja tidak terima, dan tidak habis pikir, dan semakin diolah, semakin dia tidak menemukan alasan apapun yang masuk akal sehinggga Boss itu memecatnya. Dia  sakit hati dia sama si boss dan mendendam. Lalu dia  memprovokasi teman-temanya untuk mendukungnya, mereka protes, dan akhirnya teman-temannya terseret dan ikut-ikuan di PHK.  Bila Jono bersedia  menerima keputusan itu dengan lapang dada, kemudian memfokuskan diri mencari pekerjaan yang baru, maka dia tidak perlu mencelakakan teman-temannya yang sebenarnya tidak berhubungan dengan masalah itu. Sebuah respon yang buruk, bukan?


Ada beribu-ribu alasan  kita dikhianati atau disakiti dan  kita tidak selalu tahu alasan yang sebenarnya. Mungkin saja alasannya karena rasa iri seperti kaum Farisi yang merasa tersaingi. Mungkin demi menjaga posisi atau kedudukannya seperti Pontius Pilatus. Mungkin juga demi uang seperti yang dilakukan Yudas Iskariot, bahkan mungkin juga untuk menghindari masalah seperti Petrus.

Dalam kisah itu, diceritakan bahwa ketika Yesus ditangkap, dihina dan disiksa, Yesus tidak melawan sama sekali, bahkan  menyembuhkan telinga seorang serdadu yang ditebas oleh Petrus, muridNya. Bahkan mengucapkan doa pengampunan kepada orang-orang yang menganiaya DiriNya. Merasakan dicambuk dengan cambuk berduri yang masuk ke bawah kulit dan kemudian tertarik keluar dengan daging yang hancur dan darah bercucuran, perjalanan di via Dolorosa ketika memanggul salib yang kasar dan berat, sampai dipaku di tiang salib, sungguh tak mampu dibayangkan rasanya.

Apakah  hal tersebut menderingkan sesuatu dalam benak kita? Kita diajarkan bahwa Yesus mati di kayu salib demi menebus dosa umat manusia, memang itulah tujuan Dia dilahirkan (Yohanes 3:16). Tetapi hari ini saya mendapatkan hikmat untuk menuliskan tentang respon Yesus terhadap penderitaanNya, yaitu DIAM. Dia diam karena Dia tahu bahwa inilah yang harus Dia terima.

  • Bila hari ini engkau dikhianati, terimalah dan jangan berkata apa-apa, tidak perlu mengumbar sakit hatimu,  karena itulah yang dilakukan Yesus ketika dikhianati dan dijual oleh Yudas, bahkan terhadap Yudas-pun, Dia tidak menuntut.

Amsal 11:6 berbunyi: Orang benar dilepaskan oleh kebenarannya, tetapi PENGKHIANAT tertangkap oleh hawa nafsunya. Kita tahu bahwa pada akhirnya Yudas bunuh diri karena terperangkap oleh rasa bersalah yang tidak mampu dia tangani. Hal ini juga mengajarkan kita untuk tetap setia terhadap hal-hal yang benar dan jangan tergoda dengan kesenangan atau keuntungan sesaat.

  • Bila hari ini engkau terluka demi hal yang benar, diamlah, jangan berkata apapun, dan terima saja, karena itulah yang dilakukan oleh Yesus ketika dicambuk dan disiksa oleh serdadu Roma.

Menerima dalam diam demi satu hal yang benar dan pantas dibela, bukan berarti kita bodoh dan lemah. Bukan berarti kita tidak mampu membalas dan memenangkan pertarungan yang dapat diperlihatkan kepada orang-orang.

Menerima dalam diam adalah langkah pertama kita untuk memaafkan. Dan ketika semuanya terungkap, siapa yang bernilai akan berkilau pada akhirnya. Sama seperti Yesus dalam diamNya, menerima sampai mati, demi satu kebenaran, bahwa Dia adalah Tuhan dan Raja atas segala Raja, dan sudah dibuktikanNya melalui kebangkitanNya di hari 3. Haleluya!

Amsal 11:13b 

Siapa yang setia, menutupi perkara.

Berlakulah setia kepada Tuhan dan kepada hal-hal yang benar yang diajarkanNya, maka semua akan  baik pada akhirnya.

Tuhan Yesus memberkati.

HADIAH NATAL

Posted on

 

Damai datang saat Desember menyapa, udara terasa berbeda… sejenak diingatkan seperti adegan tanpa suara…orang-orang mulai merenggangkan rutinitas, dan bersiap-siap memulai aktivitas untuk menyambut Natal dan liburan.

 

Hari kelahiran Kristus telah diidentikkan dengan  hiruk pikuk perayaan, lampu-lampu dan pakaian gemerlapan, tak lupa sang pohon dengan hiasan yang bergelantungan dan dibawahnya, kado-kado yang berserakan.

 

Jujur, bila aku mengumpamakan diriku akan terlahir sebagai Sang Kristus, aku akan menolak, akan kukatakan pada Tuhan, buat apa aku dilahirkan bila akhirnya aku harus dipermalukan, disiksa dan mati demi orang-orang yang bahkan tidak kukenal? Bahkan lahirku saja sudah dibayang-bayangi ancaman kematian. Tetapi..justru disitulah nilainya supaya kita menghargai Natal. Tetapi apakah benar bila Natal hanya dianggap sebagi satu hari besar, satu hari perayaan dan pesta pora, satu hari ke gereja untuk beribadah dalam waktu setahun? Tentu tidak.

 

Bila kita sibuk memikirkan hadiah natal untuk sanak saudara, kolega dan teman-teman, sepatutnya kita juga memikirkan hadiah yang pantas untuk diberikan kepadaNya. Mengapa? Mari kita renungkan mengapa Dia layak mendapatkannya:

1. Dialah Raja segala Raja. Jangan ragukan keberadaanNya sebagai Raja. Cendekiawan di negri Timur Tengah pada zaman dahulu itu, para ahli perbintangan, tidak kenal siapa orangtuaNya, tidak tahu di negeri mana Dia akan dilahirkan, hanya mengandalkan petunjuk sang bintang, rela melintasi gurun dalam perjalanan yang panjang, bahkan membawa persembahan berharga berupa mur, minyak dan kemenyan demi menyambut kedatanganNya.

2. Dialah Allah sang penyembuh. Jangan ragukan keilahianNya, karena Dialah orang kusta disembuhkan, orang buta melihat, orang tuli mendengar, orang lumpuh berjalan dan orang mati dibangkitkan.

3. Dialah Allah yang setia. Jangan ragukan kasihNya, karena Dia telah membuktikannya dengan penderitaannya di kayu salib, demi menyambung kembali jembatan yang hancur oleh Adam dan Hawa, yaitu jembatan yang menghubungkan manusia dan Allah.

• Karena Dia lahir…doa kita didengarkan Bapa di Surga.
• Karena Dia lahir…dosa kita disucikan.
• Karena Dia lahir…penyakit kita disembuhkan.
• Karena Dia lahir…luka kita dipulihkan.
• Karena Dia lahir…kita belajar dan mengerti tentang iman, pengharapan dan kasih.

Oleh sebab itu, hadiah Natal yang patut kita persembahkan bagi Dia adalah tubuh kita yang hidup, yang kudus dan yang berkenan, serta melakukan apa yang menjadi kewajiban kita sebagai anakNya.

 

Roma 12:1-8 dalam bahasa sehari-hari:
(1)Saudara-saudara! Allah sangat baik kepada kita, sebab itu persembahkanlah dirimu sebagai suatu kurban hidup yang khusus untuk Allah dan yang menyenangkan hati-Nya. Ibadatmu kepada Allah seharusnya demikian.(2) Janganlah ikuti norma-norma dunia ini. Biarkan Allah membuat pribadimu menjadi baru, supaya kalian berubah. Dengan demikian kalian sanggup mengetahui kemauan Allah–yaitu apa yang baik dan yang menyenangkan hati-Nya dan yang sempurna.(3) Janganlah merasa diri lebih tinggi dari yang sebenarnya. Hendaknya kalian menilai keadaan dirimu dengan rendah hati; masing-masing menilai dirinya menurut kemampuan yang diberikan Allah kepadanya oleh karena ia percaya kepada Yesus.(4) Tubuh kita mempunyai banyak anggota. Setiap anggota ada tugasnya sendiri-sendiri.(5) Begitu juga dengan kita. Meskipun kita semuanya banyak, namun kita merupakan satu tubuh karena kita bersatu pada Kristus. Dan kita masing-masing berhubungan satu dengan yang lain sebagai anggota-anggota dari satu tubuh.(6) Kita masing-masing mempunyai karunia-karunia pelayanan yang berlainan. Karunia-karunia itu diberikan oleh Allah kepada kita menurut rahmat-Nya. Sebab itu kita harus memakai karunia-karunia itu. Orang yang mempunyai karunia untuk mengabarkan berita dari Allah, harus mengabarkan berita dari Allah itu menurut kemampuan yang ada padanya(7) Orang yang mempunyai karunia untuk menolong orang lain, harus sungguh-sungguh menolong orang lain. Orang yang mempunyai karunia untuk mengajar, harus sungguh-sungguh mengajar.(8) Orang yang mempunyai karunia untuk memberi semangat kepada orang lain, harus sungguh-sungguh memberi semangat kepada orang lain. Orang yang mempunyai karunia untuk memberikan kepada orang lain apa yang dipunyainya, harus melakukan itu dengan murah hati secara wajar. Orang yang mempunyai karunia untuk memimpin, harus sungguh-sungguh memimpin. Orang yang mempunyai karunia untuk menunjukkan belas kasihan kepada orang lain, harus melakukannya dengan senang hati.


Bersosialisasi dalam masyarakat memang gampang-gampang susah. Pepatah  “Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga”,  demikianlah godaan dunia seperti nila, mempunyai pengaruh untuk menodai, mempengaruhi, merusak kebiasaan-kebiasaan baik kita.  Tidak adanya suatu keharusan akan penerapan peraturan-peraturan baku sebagai patokan dasar pendidikan norma-norma, membuat manusia tidak berpikir panjang. Hidup berhura-hura tanpa makna dan tujuan, jatuh dalam jebakan narkoba, perzinahan, berdusta adalah contoh-contoh kerusakan mental yang terjadi di zaman ini.  Waspadalah, sebab satu orang pembuat masalah sanggup mempengaruhi keseimbangan hidup orang-orang yang berada didekatnya. Seperti Firman Tuhan diatas menjelaskan, selain ketaatan kepadaNya, hendaklah kita hidup dan mempergunakan talenta yang telah diberikan kepada kita secara maksimal untuk memberkati sesama. Hiduplah dengan menjaga citra sebagai anakNya, aku teringat pesan ayahku sewaktu usiaku masih remaja,”lakukanlah apa yang baik menurutmu, asal tidak mempermalukan namaku”, seterusnya aku memegang teguh amanat itu, dan berhati-hati dalam tindakan dan tingkah laku agar tidak mempermalukan citra keluarga. Apalagi sebagai pengikut Kristus, kita seharusnya lebih waspada lagi dalam bertindak, berkali-kali lebih waspada, karena sang iblis senantiasa mengintai untuk menjatuhkan iman kita.

Pilihlah untuk tidak menjadi sang pembuat masalah, tetapi jadilah sang pembawa terangKristus dengan hidup sesuai kehendakNya.

Selamat Hari Natal 2011 dan Tahun Baru 2012

KESETIAAN VS KONSISTENSI

Posted on Updated on

Suatu hari, seorang teman lama memintaku menuliskan tentang kesetiaan. Tentang itu, kenanganku tiba-tiba berhenti pada satu masa, ketika aku masih muda belia. Waktu itu aku bekerja di sebuah perusahaan (PMA) di Jakarta dan merupakan karyawan termuda disana.

Aku senang diterima untuk  bekerja disana.  Semua hal kelihatannya baru karena sebelumnya aku belum pernah bekerja di sebuah perusahaan dengan kantor yang besar dan orang sebanyak itu. Disana banyak departemen yang berbeda-beda dengan total sekitar 60 karyawan. Untungnya, aku cepat belajar. Dengan mempelajari sistem yang telah diterapkan oleh pendahuluku, aku mulai bekerja dengan giat walaupun tugasnya masih sederhana. Alhasil, semua pekerjaan bisa kuselesaikan dengan baik dan cepat, sehingga waktu tersisa cukup banyak.

Di sela-sela waktu yang itu, aku mempergunakannya untuk mengunjungi departemen-departemen lain, menanyakan apakah ada hal-hal yang bisa kubantu. Sekalian mengamati dan sambil belajar cara kerja mereka yang senior-senior. Dari sanalah aku kemudian tahu, ketika diminta untuk mengambilkan alat-alat tulis di ruangan stok, bahwa ruangan itu terbuka dengan bebas, siapapun yang butuh sesuatu, boleh mengambilnya disana, dan tidak ada penjaganya.

Ternyata secara kebetulan, ruangan itu tidak jauh dari tempatku. Dan tidak lama kemudian, aku menyadari satu hal, bahwa ada orang yang secara rutin mengambil barang dari dalam sana. Awalnya saya pikir mereka mengambil karena butuh, misalnya bulpen. Tetapi pas kami berada bersama-sama diluar kantor, aku melihat orang itu memakai bulpen dari kantor, notes blok dari kantor, untuk urusan pribadinya.

Aku mulai tertarik dengan perilaku-perilaku para pekerja, dan aku mencatat beberapa hal dalam benakku.    Ada yang yang keluar makan siang jam 12.00, kembali 14.00, padahal waktu makan siang hanya diberikan 1 jam yaitu sampai pukul 13.00.  Ada yang datang pagi-pagi sekali dan selalu tidak pulang pada saat semua karyawan bubaran kerja, padahal sewaktu jam kerja, kerjaannya lebih banyak ngerumpi, dan saat orang-orang sibuk siap-siap mau pulang, orang itu baru mulai mengerjakan pekerjaannya dan pulang malam, artinya lembur.  Pada waktu itu aku hanya melihat sebatas hal yang tidak baik atas dasar standar norma dan etika yang diajarkan keluargaku. Aku jelas belum mengerti, ternyata hal-hal tersebut termasuk tidak setia.

 

APA ITU KESETIAAN?

Kesetiaan adalah hal dituntut kepada orang yang mengikatkan diri pada satu aturan, individu maupun komunitas. Dan jenisnya pun bermacam-macam. Pada zaman kuno, sebagai negara-negara yang lemah memberikan upeti kepada negara yang kuat sebagai tanda bukti kesetiaannya.  Bahkan kita mengenal cerita  tentang Abraham yang bersedia mempersembahkan anaknya  sebagai bukti kesetiaan kepada Allah. 2 individu yang saling mencintai mengikat janji untuk saling setia sampai selama-lamanya.

Kesetiaan,  bila dibandingkan dengan masa dulu semakin memudar. Ini adalah fenomena dari individualisme yang kental.  Masyarakat masa kini saling berlomba untuk mengungguli satu sama lain, dan buruknya, terkadang dengan menghalalkan segala cara. Mereka berani mengorbankan apapun  demi kepentingannya sendiri, ya, kepentingannya sendiri. Manusia sekarang lebih setia terhadap dirinya sendiri  melebihi apapun juga. Dan kesetiaan bisa diperjualbelikan dengan UANG.  Orang yang meng-klaim dirinya baik pun belum tentu mampu bersikap setia terhadap sesuatu selain kepada dirinya sendiri.

Bila anda suka menonton film sejarah kolosal, akan anda temukan bahwa orang-orang yang setia jumlahnya selalu kalah banyak dengan para pemberontak dan orang jahat .  Komplotan yang ber-konspirasi untuk menjatuhkan sang penguasa, sering kali memakai uang dan harta untuk memuluskan jalan. Mereka membeli orang-orang yang terdekat dengan penguasa. Dan orang-orang itu sedemikian mudah tergoyahkan kesetiaannya, demi uang.

Keserakahan, haus kekuasaan dan iri hati sering membuat kesetiaan itu hilang. Contohnya   Kain membunuh Habil karena iri hati. Yakub menipu Esau karena kekuasaan. Yudas menjual Yesus demi beberapa keping emas. Tetapi dari cerita-cerita itu, kita tahu bahwa  hidup orang-orang yang tidak setia tersebut akan berakhir dengan penyesalan.  Dan Bila kita memberikan kesetiaan kita kepada orang yang pantas mendapatkannya,   kita akan berkesempatan  menerimanya kembali, berlipat-lipat kali ganda. Setidaknya, rasa aman dan damai dalam diri yang membebaskan kita untuk melakukan perkara dengan baik dan benar.

BAGAIMANA SUPAYA TETAP SETIA?

Kesetiaan sangat memerlukan konsistensi.  Konsisten adalah kemampuan untuk melakukan perkara-perkara yang benar setiap hari tanpa tergantung situasi dan suasana hati.

Melakukan hal-hal baik secara konsisten akan membuahkan hasil yang luar biasa, contohnya pelajar biasa  yang konsisten belajar akan menjadi lebih pintar dari pelajar berbakat yang malas. Semakin konsisten kita melakukan suatu hal, semakin kuat hal tersebut akan mengakar dalam diri kita.

3 JENIS KESETIAAN YANG MUTLAK DILAKUKAN:

 1. Setia pada Tuhan, apa yang kita lakukan sebagai bukti kesetiaan kita?

Apa yang menjadi ukuran kesetiaan yang kita berikan kepada Tuhan untuk nyawa kita yang ditebusnya? Apakah dengan rajin beribadah? Apakah dengan  cara hidup kita sehari-hari?  Apakah Dia yang menjadi pengharapan kita dalam segala situasi? Apakah kita bersyukur atas apa yang kita miliki pada saat ini?

Pikirkanlah dan bandingkanlah dengan Kasih setia Tuhan kepada kita, Dia   mengokohkan dan menopang ketika kita goyah, yang menghibur dan menenangkan ketika kita galau, yang memberikan kita hikmat dalam menyelesaikan masalah, yang membalaskan kejahatan orang fasik ketika kita dianiaya, karena kasih setiaNya untuk selama-lamanya,  setinggi langit dari bumi, sejauh timur dari barat.

2. Setia terhadap pasangan (keluarga)   

Dalam hal kesetiaan terhadap pasangan, saya teringat kepada alm.  Ibu Tien Soeharto  sebagai penggagas PP10.  UU Pemerintahan  tersebut isinya  melarang setiap anggota pemerintahan/ pejabat negara  beristri lebih dari satu. Gagasan tersebut didasari oleh pemikiran “bila terhadap istri saja tidak bisa setia. bagaimana bisa setia terhadap negara”.

Suami istri harus konsisten terhadap komitmen yang telah disepakati bersama, saling mengasihi, saling menghormati. Suami atau Istri adalah urutan kedua yang harus diutamakan setelah Tuhan, karena laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, bukan orang lain. Satu pesan moral yang juga teramat penting bagi kehidupan suami isteri adalah tidak boleh berselingkuh. Bila satu pernikahan itu bersih dan sejalan dengan janji pernikahan, maka doa keduanya tidak akan terhalang. Tuhan menjanjikan bonus buat kedua orang itu. Berjaga-jagalah.

      

3. Setia dalam pekerjaan

Bila kamu berdomisili di kota Surabaya, kamu pasti tahu ada satu rumah makan yang sangat terkenal. yaitu Warung Bu Rudi. Aku tau tepat itu sejak lama, sejak bangunannya masih kontrak, dan kecil. Saat ini, Warung Bu rudy tidak pernah sepi pengunjung. Bahkan sudah menjadi salah satu acuan untuk menikmati kuliner di kota ini. Yang menjadi perhatianku adalah, sang pemilik, yaitu Bu Rudi. Bu Rudi tidak banyak berubah. Aku mengenal sosoknya sejak dulu, dan beliau masih tetap ramah dan rajin walaupun saat ini usahanya berkembang pesat. Sesekali aku mampir untuk makan disana, dan melihatnya masih membereskan pekerjaan,berbincang-bincang dengan tamu  atau sekedar mengusir lalat. Sementara ditempat lain kita banyak melihat bahwa,  ketika kesuksesan menghampiri seseorang, orang itu akan cenderung lupa diri dan  merubah gaya hidupnya.

Tuhan bilang, setialah kepada perkara-perkara kecil. Kesetiaan dalam perkara kecil  memancing rezeki datang mendekat.   Hukum  juga berlaku untuk kita. Kerjakanlah segala hal dengan sepenuh hati, mulai dari hal terkecil, dan kita akan dipercayakan untuk mengerjakan hal-hal yang lebih besar. Karena Tuhan melihat, orang-orang yang setia pada perkara kecil, akan setia pada perkara besar.

Contoh  kesetiaan lain yang bisa  kita lakukan sehari-hari antara lain setia kepada sahabat dan mendampingi teman dikala kesusahan. Mentaati peraturan dan hukum negara menunjukkan kesetiaan terhadap negara.

KESETIAAN ITU MAHAL HARGANYA.

MENJALANKAN KONSISTENSI PERLU PENGORBANAN.

 

Ilustrasi tambahan :

Anda tentu tidak asing dengan kisah “Hachiko”, seekor anjing yang setia menunggu tuannya yang tidak kunjung datang. Anjing tersebut akhirnya mati dalam  penantiannya. Bila seekor anjing dikenal dengan kesetiaan, bagaimana dengan kita? Mari kita periksa ke dalam diri mengenai kesetiaan kita kepada Tuhan, kepada pasangan hidup/ keluarga, kepada majikan/pimpinan kita di bidang pekerjaan, kepada lembaga/  organisasi2 tempat kita melibatkan diri, kepada bangsa dan negara kita. Bila mendapati ada hal-hal pemicu yang membuat kita tidak setia, kajilah lebih lanjut dan renungkanlah dengan hikmat dan doa.

 *) foto Hachiko yang asli dan patung peringatan kesetiaannya.
 
 
 
 
 

 ♥God Bless You♥

 
 
 
 
 
 

KITA SEMUA BUTUH TEMAN

Posted on Updated on

 

Foto di atas diambil dari salah satu scene  film The Legend. Dibintangi oleh Will Smith, film ini menceritakan tentang sebuah kota yang kehilangan semua penduduknya, kecuali Will dan anjingnya.  Gambaran yang sangat menakutkan, hidup  sendirian di belantara beton-beton bangunan.

Booming jaringan sosial seperti Facebook, Twitter dll serta kemudahan akses komunikasi adalah indikator  bahwa manusia membutuhkan teman alias tidak bisa sendirian.

Sabda Tuhan yang berbunyi,  bahwa tidak baik manusia itu hidup seorang diri saja,  membuat  Tuhan menciptakan Hawa untuk menemani Adam.  Itulah yang menjadi asal muasal komunitas, mulai dari yang terkecil yaitu pasangan hidup, keluarga, sahabat maupun teman-teman dimanapun kita beraktivitas. Teman sekolah, teman bisnis, teman bermain atau hanya kenalan biasa saja. Di dalam komunitas apapun kita melibatkan diri, kita menjalin hubungan dengan orang lain.

Tetapi hubungan antara manusia sering tidak berlangsung lama. Beberapa berakhir dengan  kesedihan, sakit hati dan kekecewaan. Apapun bentuk hubungannya tidak akan luput dari ancaman keretakan dan kehancuran.   Keegoisan manusialah yang sering kali memicu perpecahan. Adu domba, ketidakjujuran,  dengki dan iri, pengkhiatanan merupakan sebagian kecil dari penyebab keretakan.

Dalam berhubungan, ada baiknya kita memahami latar belakang dan karakter seseorang sebelum terlibat terlalu akrab. Gaya dan cara pandang yang berbeda secara otomatis membuat definisi yang berbeda tentang arti sebuah hubungan atau teman.  Sebagian rela  memberikan segalanya untuk temannya, ada yang hanya untuk menambah koneksi, ada yang melihat dari segi kekayaan, ada yang hanya ingin bersenang-senang, tetapi aku yakin semua orang menginginkan paling tidak satu teman sejati.

Kahlil Gibran berkata, “tidak ada yang namanya teman sejati, yang ada hanya kepentingan”.

Kalau kita mau jujur menelaah jenis hubungan yang kita miliki di komunitas manapun, memang hanya ada satu dasar, yaitu dasar kepentingan yang sama, keinginan yang sama, cita-cita yang sama. Hal itulah yang membuat 2 orang atau lebih tetap berjalan bersama.

Hubungan yang terjalin lama dan akrab tidak menjamin pertemanan itu akan langgeng di masa depan, karena manusia berubah.

Bila kita ingin meningkatkan kualitas  diri kita sendiri dalam area pertemanan, mungkin ada beberapa hal yang patut direnungkan. Aku mengutip 3 hal yang bisa kita kembangkan dalam diri kita, antara lain:

  • Motivasi : Ketulusan dalam berhubungan, apakah ada agenda yang tersembunyi?  atau memanipulasi orang lain supaya tujuan kita tercapai. (Roma 12:9 Hendaklah Kasih itu jangan pura-pura).
  • Image : Apakah kita secara sadar memberikan kesan-kesan yang berbeda tentang diri kita dengan kenyataan? (Matius 23:28 Demikian jugalah kamu, disebelah luar kamu tampaknya benar dimata orang, tetapi disebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan)
  • Perkataan : Berbicara secara disiplin, yang dinyatakan adalah kebenaran. (Mat 5:37 Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat).
Dengan memiliki sikap-sikap seperti di atas, kita  setidaknya menempatkan diri dan menawarkan diri sebagai seorang teman yang baik bagi orang yang membutuhkan kita.
Selain itu, aku percaya bahwa Tuhan menempatkan orang-orang tertentu sebagai teman sejati bagi kita, bahkan bisa lebih dari satu. Ciri-cirinya adalah orang yang muncul di saat kita benar-benar membutuhkan topangan. Orang itu  bisa ditemukan di setiap episode kehidupan kita, pada masa kanak-kanak,  remaja, dewasa,  menikah, tua dll.  Cobalah mengenang kembali dan ingat-ingat siapa saja yang pernah muncul sebagai sahabat sejati pada  saat kita mengalami masa-masa sulit dan memerlukan dukungan mental.
Ingatlah bahwa selalu ada sosok sahabat sejati bagi semua orang, yaitu Yesus Kristus.  Dia setia. Walaupun  seisi dunia tidak mempedulikan kita, menganiaya dan membuang kita, hanya Dialah yang selalu setia menopang kita dan menampung air mata kita.
Mari kita belajar seperti Dia.  Menjadi seorang sahabat sejati bagi teman-teman kita,  walaupun terkadang disakiti, difitnah, dihina dan dianiaya, belajarlah senantiasa memiliki kasih yang murni.
Kamu mungkin akan melupakan orang yang tertawa denganmu, tetapi tidak mungkin melupakan orang yang pernah menangis denganmu”.- Khalil Gibran

BE BLESSED ♥