percaya diri

Godfidence

Posted on Updated on

image

Percaya diri merupakan salah satu  faktor terpenting dalam berbagai kegiatan di dalam bermasyarakat. Sehingga tidak heran bila Percaya Diri merupakan salah satu produk ilmu yang bisa  dijual di  Pusat Pelatihan Kepribadian.

Belajar dan menambah ketrampilan itu sah-sah aja, dan ingatlah untuk tidak menjadi sombong dan terlalu percaya diri bila sudah pintar. Berhati-hatilah jangan sampai percaya dirimu melampui kepercayaan pada Tuhan, karena akhirnya akan melukai  bahkan menghancurkan diri sendiri.

Orang yang percaya diri sering sekali sangat tergantung pada pengetahuannya,  kepintarannya dan pengalamannya. Padahal seharusnya ia bergantung dan takut kepada Tuhan karena Dialah awal dari segala pengetahuan.

Amsal 3:5  Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.

Iklan

PERCAYA DIRI (karena percaya Tuhan)

Posted on Updated on

PERCAYA adalah kata sederhana yang berdampak besar, fungsinya untuk mendorong dan menggerakkan seseorang sehingga menjadi berani dan bersemangat untuk melakukan sesuatu. Contohnya: Seorang anak kecil yang  memerlukan rasa aman akan menggandeng tangan orang dewasa yang dipercayainya ketika berada ditempat yang dirasanya mengancamnya.

Selain mempercayai orang lain, ada juga yang disebut sebagai PERCAYA DIRI. Percaya diri saat ini sangat ramai digembar-gemborkan oleh para motivator di dalam sesi-sesi motivasi mereka. Mereka mendorong peserta seminar untuk percaya diri dalam melakukan hal apapun. BELIEVE IN YOURSELF, kalimat itu mempunyai pengaruh yang  sangat kuat. Jika dilakukan dengan benar, ia akan mampu meledakkan potensi positif dalam diri seseorang.

Setiap orang  mempunyai potensi untuk meraih apa yang menjadi kebutuhannya, keinginannya, dan cita-citanya. Namun, tidak semua orang mempunyai rasa percaya diri yang sama.  Ada orang yang tidak percaya diri meskipun memiliki potensi,  dan sebaliknya ada orang yang sangat percaya diri meskipun tidak mempunyai bakat dalam bidang yang ingin dikerjakannya.   Terdapat juga orang yang tetap percaya diri bahwa hidupnya akan baik-baik saja meskipun belum berhasil mencapai apa yang menjadi keinginannya. 

Jadi, apakah perbedaan antara orang yang berhasil karena percaya diri dan berkemauan keras dengan orang yang berhasil karena percaya dan taat kepada  Tuhan. Dunia seperti apakah yang akan menyambut mereka ketika mereka berhasil mencapai tujuannya? Dalam kesederhanaan pemikiranku, aku membuat ilustrasi yang menggambarkan situasi tersebut.

=========================

Aku  adalah seorang yang pintar, oleh sebab itu aku sangat percaya diri. Ditambah dengan sifat pantang menyerah, aku akan mengambil resiko apapun untuk mencapai tujuanku. Segala rintangan akan kuterobos karena kata gagal tidak ada dalam kamus kehidupanku. Suatu hari, ketika aku menetapkan satu tujuan, Tuhan bilang gini, “Nak… tunggu dulu,  jangan terburu-buru, itu bukan rencanaKu untukmu”. 

“Biarkan aku, Tuhan. Ini hidupku, aku mau hal tersebut dan aku punya kemampuan untuk itu. Bukankah Engkau mengajarkan bahwa kita harus bekerja keras dan memaksimalkan potensi yang ada? Pergilah! Masih banyak orang lain yang lebih membutuhkanMu. Lihat si itu, dia sangat bodoh dan dia pasti lebih memerlukan Engkau”, jawabku dengan sombong.

Tuhan diam.   MenurutNya hal tersebut tidak baik dan tidak cocok untuk hidupku.  Mana mungkin? pikirku.  Tuhan memang egois,  hanya ingin mengikatku  dan tidak ingin aku sukses.  Jika begini terus, hidupku yah begini-begini saja.  Bisa jadi apa diriku ini? Padahal di depan sana satu kehidupan yang gemerlapan tengah menanti.  Kapan aku bisa berada disana bila tidak mulai dari sekarang?  Aku mau menjadi hebat dan terkenal. 

Tanpa menghiraukan Dia,  aku berlari dengan harapan untuk segera tiba. Namun, sebentar saja aku sudah kelelahan, medannya berat. Letih dan haus mulai merongrong diriku, dan aku tergoda untuk menoleh ke belakang. Ternyata Dia masih disana, di tempat dimana aku meninggalkannya, aku melihat kebutuhanku ada ditanganNya.  Pandangan kami bertemu,  dan Dia mengajakku kembali, “kembalilah, Nak… beristirahatlah disini. Aku akan memuaskan dahagamu dan menyegarkanmu. Aku akan memulihkan keadaanmu dan kamu bisa memikirkannya lagi dengan jernih”.

“Tidak!  Aku tidak mau,   janganlah memancingku dengan air bodoh itu, Tuhan.   Tekadku sudah bulat, dan aku tidak akan tergoda”, jawabku.

Aku melanjutkan perjalananku dan berkata pada diriku sendiri bahwa  sebentar lagi akan sampai.  Disana aku bisa mendapatkan minuman apapun yang kuinginkan.  Dalam kelelahan itu, aku berlari lagi dengan nafas yang  tersenggal-senggal, bibirku mulai kering dan pecah, tenggorokanku sakit, kakiku mulai lemah, namun aku tidak mau berhenti. Aku memaksakan diriku. Membayangkan orang-orang akan menertawakanku bila gagal membuatku merasa ngeri.  Tiba-tiba aku tersandung dan terjatuh terguling-guling, sekujur tubuhku penuh dengan lecet dan luka, kakiku berdarah. Barusan aku tersandung sebuah batu tajam yang mencuat tajam dari permukaan tanah.

Dari kejauhan, aku mendengar suaraNya lagi,” Kembalilah, Nak, jangan lanjutkan lagi. Kembalilah dan akan Kubalut lukamu dan memulihkanmu, dan kamu bisa memikirkannya lagi”.

“Tidakkkkk!!!…..sudahlahhhh, Tuhan, jangan ganggu aku lagi, sebentar lagi aku akan sampai”, aku menolaknya, sekali lagi.

Dengan membulatkan tekad, aku berusaha berlari  kecil dengan tertatih-tatih. Sebentar lagi sampai.   Kubayangkan keindahan dan kegemerlapannya. Hal itu membuatku bersemangat dan memberikan energi ekstra. Tak lama  kemudian, aku melihat gerbang itu, yang dibaliknya terdapat semua hal yang kuinginkan. Yay!!!! aku menang!!! aku berhasil!!!! aku hebat!!!!

Aku melihat banyak makanan dan minuman terbaik, sedemikian banyaknya sampai melimpah ruah. Kuhampiri tempat itu, aku ingin memuaskan dahaga dan laparku. Namun ternyata aku tidak dapat menikmatinya, bibirku yang pecah, mulutku yang terluka serta tenggorokanku menolak rasa manis yang ditawarkan. Aku tidak dapat menikmatinya.

Aku mendapatkan pakaian terindah, perhiasan termewah dan termahal, namun tidak indah kupakai karena banyaknya luka-luka disekujur kulitku,. Tiba-tiba saja diriku tidak sebanding dengan apa yang kukenakan. Dengan begitu banyak cacat, pakaian terbaikpun tidak dapat menyembunyikannya.

Lukaku akhirnya mengering dan sembuh, namun meninggalkan bekas-bekas. Bekas luka dari perjalanan tersebut tidak mau menghilang, ia senantiasa disana, dan selalu mengingatkanku akan susah payahku. Aku menjadi egois dan sombong, karena merasa bisa tanpa bantuan siapapun. Aku menjadi pelit dan tidak rela berbagi dengan  orang lain, karena bila aku tidak dapat menikmatinya, orang lainpun tidak.   Setiap hari bekas luka  mengingatkanku akan susah payahku. Setiap hari aku takut  dan khawatir semuanya akan hilang, aku takut perjuanganku sia-sia.  Aku tidak bahagia dengan apa yang kumiliki.

dan.. ini perbandingannya: 

Aku  adalah seorang yang pintar dan percaya diri. Aku bersahabat dengan Tuhan, dan aku telah belajar dari kegagalan-kegagalan akibat menuruti keinginanku sendiri.  Satu hari aku mendapat suatu ide melakukan sesuatu, dan aku yakin dengan kemampuanku,  aku akan bisa mencapainya. Aku mencariNya dan bertanya,” aku ingin kesana, baikkah Tuhan?”. 

“Hmm… tidak buruk, tetapi itu bukan yang terbaik. Sini, Kutunjukkan sesuatu”, jawabNya.

Tuhan memaparkan rencana lain. Aku agak bingung. ” Tapi..itu terlalu sulit buatku, dan aku tidak yakin bakal menyukai hasilnya, adakah pilihan lain?”,  aku merespon dan menunjukkan sikap tidak tertarik.

“Lho? Kamu tidak percaya padaKu? Come on… Kutemani dalam perjalanan”, bujukNya.

Karena tidak ingin menyakitiNya, aku akhirnya menyetujui rencana itu. Awal perjalanan terasa berat, karena hatiku belum sepenuhnya bulat dengan rencana itu. Tapi Tuhan menghiburku senantiasa, sehingga akhirnya perjalanan terasa menyenangkan. Dia menjagaku selalu, memberiku minum ketika haus, memberiku makan ketika lapar dan menyemangatiku ketika lelah. 

Suatu saat, karena kurang hati-hati, aku terjatuh. Sekujur tubuhku lecet dan luka, sakit dan perih. Aku menangis dan protes lagi…, ” Lihatlah, Tuhan…  sudah kubilang aku ga mau kesini, lihat nih sekarang begini jadinya. Luka-luka ini pasti menimbulkan bekas dan aku jadi jelek, aduhhhh….”. Aku menangis lagi.

Tuhan menjawab dengan tersenyum. Dia menghampiriku, dan aku membiarkanNya membersihkan dan membalut luka-lukaku. Sambil menunggu diriku pulih, kami lebih sering mengobrol, dan aku selalu berterima kasih karena ditemani, walaupun keadaanku tidak baik.

Setelah pulih, kami berjalan lagi, tibalah kami di medan yang lebih berat, artinya sudah hampir sampai tujuan.  Didepan sungai yang arusnya deras, aku takut, kakiku terasa kaku, aku tidak berani, ” Tuhan, aku takut, aku tidak mampu menyeberang, aku tidak bisa berenang”, rengekku.

Dia menertawaiku dan berkata,”Masih tidak percaya padaKu? Sini … Kugendong kamu melewatinya”.

Luar biasa. Mempunyai teman perjalanan yang dapat diandalkan, aku tidak takut lagi. Dia yang menopangku. Aku percaya padaNya. FULL! Aku memejamkan mata sejenak dan ketika membuka mataku,  kami ternyata sudah berhasil menyeberang.  

Tinggal sedikit lagi perjalanannya, aku telah melihat gerbangnya. Dengan kondisi segar, aku tiba-tiba menjadi sangat bersemangat dan kegembiraan tiba-tiba membuncah keluar. Rasa haru melingkupiku ketika melihat semua yang tersedia. Semua hal-hal yang baik yang dijanjikanNya ada didepan mataku.  Rasa gembira menguasaiku dan aku ingin mengajak orang lain untuk  ikut merasakannya. Karena ingat apa yang telah dilakukan Tuhan untukku,  Dia  yang menjagaku sepanjang perjalanan menuju kesini.

Aku makin bersinar indah dan cantik dengan balutan pakaian dan perhiasan mahal. Lukaku tidak berbekas karena Tuhan yang membersihkan dan membalutnya. Aku tidak takut kehilangan apa-apa, karena aku tahu Tuhan akan mendampingiku dalam perjalanan yang lain. Aku bahagia…

========

Orang yang berkemauan keras dan percaya diri dengan kekuatan dan pengetahuan yang ada padanya,  mungkin selalu  berhasil, tetapi ia tidak akan pernah puas.  Ia akan mengulang kembali perjalanan-perjalanan yang menyakitkan tersebut untuk mencari lebih dan lebih lagi. Sering dalam perjalanan tersebut dia tersakiti karena lukanya. Bekas luka yang menimbulkan rasa curiga dan kekhawatiran yang berlebihan berkepanjangan akhirnya memicu terjadinya masalah-masalah. Permusuhan tidak akan jauh darinya. Dalam kesendiriannya, dia akan merasa semakin merasa kosong, pencapaiannya walaupun menjadi kebanggannya, tidak pernah menghiburnya. 

Berbeda dengan orang yang penuh sukacita didalam hatinya, dia akan rela melakukan apa saja untuk orang lain karena dia merasakan bahagianya dikasihi Tuhan. Walaupun  tersakiti, hal tersebut tidak akan berlangsung lama, karena dia tahu masa depannya indah bila tetap berjalan dengan Tuhan.  Rasa percaya dirinya akan segera bangkit lagi karena dia percaya Tuhan. Sukacitanya akan segera kembali, karena dia meminum air sukacita dari Tuhan.

proverbs 3_5

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri (amsal 3:5)

Pengertian kita sendiri terbatas, dan mudah salah (Ef 4:18). Karena itu harus diterangi oleh firman Tuhan  dan dipimpin Roh Kudus (Rom 8:9-16). Kita harus berdoa memohon hikmat dan kehendak Tuhan  di dalam semua keputusan dan sasaran hidup kita ( Ams 2:3) daripada bersandar pada pertimbangan kita sendiri (ayat Ams 3:7).

Darimanakah percaya dirimu berasal? Apakah karena cantik, pintar, kuat, sehat, kaya? Ataukah sumbernya karena kamu percaya Tuhan dengan sepenuhnya? Renungkanlah..

Percaya tidak percaya? sebaiknya kamu percaya… 🙂

Semoga diberkati ♥