AKU BUKAN GENERASI MONYET

Memasuki tahun 2013, banyak orang yang was-was karena beberapa kepercayaan tradisional, ditambah lagi dengan angka 13 selama ini dipercaya sebagai angka sial.

Namun, melalui hamba-hamba yang dipercayaiNya, Tuhan telah meletakkan VISI yang luar biasa di tahun 2013 untuk umatNya. Dengan VISI “Maturity and Multiplication” yang artinya “Kedewasaan dan Pelipatgandaan” untuk gereja kami, akupun banyak mendengar banyak visi yang serupa dari teman-teman dan saudara-saudara dari gereja-gereja lain, semuanya serentak mengumandangkan tentang pelipatgandaan.

Nah, VISI yang demikian harus diperjuangkan supaya terjadi dalam hidup kita, khususnya di tahun ini. Selain bersepakat dengan Tuhan supaya apa yang disediakanNya untuk kita di tahun 2013 dapat diraih, kita harus mulai giat memoles karakter kita menjadi karakter yang Dia inginkan,  yang sesuai dengan rencanaNya atas hidup kita.

25356-1920x1200

Mister  Darwin, sang ilmuwan pencetus teori evolusi manusia pastilah  seorang atheis,  atau mungkin sel-sel kelabu  didalam kepalanya terlalu aktif melebihi komputer generasi i7 zaman ini,  sampai-sampai beliau  berkesimpulan dan   mengkategorikan kaumnya (manusia) sebagai turunan monyet (binatang).

Aku beruntung  masih dalam keadaan cukup sehat, cerdas dan sadar untuk tidak menerima teori tersebut sebagai jati diriku.  Karena diriku sebagai keturunan monyet atau salah satu dari  generasi monyet sungguh bukan gambaran Allah. Aku sepenuhnya sadar diriku diciptakan  Tuhan secara khusus.  Semoga kalian setuju dengan pendapatku (yang bukan seorang ilmuwan) haha..

Apakah kamu sadar bahwa sejak zaman purbakala, manusia telah berjerih payah mencari Tuhan. Coba ingat-ingat pelajaran sejarah  sekolah dasar, disana diajari tentang berbagai aliran kepercayaan yang bertujuan menyembah sesuatu yang dianggap berkuasa,  contohnya  animisme, humanisme, politeisme dan lain lain. Apapun namanya, manusia itu dalam alam bawah sadarnya menyadari ada satu kekuatan  supranatural yang mereka butuhkan untuk mengisi kekosongan dalam hatinya,  sebagai sumber pencarian jati diri dan sumber kekuatan yang memberkati hidupnya. 

Aku pernah membaca tentang kepercayaan Mesir kuno yang mempercayai bahwa Sungai Nil mempunyai roh yang hobi ngambek, yang kalau tidak disembah, maka akan terjadi banjir sehingga panen gagal, dan rakyat akan mengalami kelaparan. Atau Dewa Zeus yang dikatakan sangat besar kekuatannya sehingga apabila ia menggerakkan kepalanya maka bumi akan bergetar (mungkinkah karena Dewa Zeus sedang hobi tertawa terbahal-bahak sehingga banyak terjadi gempa bumi dan tsunami dimana2 pada akhir zaman ini?).   Roh nenek moyang-pun dipercayai bisa mendatangkan berkah bagi keturunannya.  Pohon-pohon, gunung-gunung, binatang-binatang, sebut saja apa yang terlintas dipikiran tentang sesuatu yang kuat, pasti sebagian besar pernah disembah. Manusia sebenarnya sadar akan kebutuhan spiritual yang supranatural didalam hidupnya,  tapi banyak sekali yang tersesat dan salah kaprah.

Pertanyaannya sekarang, mengapa manusia melakukan itu? Setelah semua dewa-dewa, pohon keramat, gunung keramat, binatang-binatang buas tidak dapat mengisi kekosongan dan memenuhi kebutuhannya. Ide kreatifitaspun mengalir, sehingga dibentuklah sesuatu yang dianggap menyerupai Tuhan untuk disembah. Lihatlah, bahan-bahan terbaik, dan hasil pekerjaan tangan terbaik dicari-cari untuk mewujudkan kerinduan manusia akan Tuhan. Itu adalah bukti kedua bahwa manusia sadar bahwa Tuhan itu layak diberikan yang terbaik.

Jawaban yang aku peroleh sebagai seorang Nasrani adalah bahwa Tuhan menciptakan kita dan memberikan anugerah yang dinamakan nurani. Tujuannya adalah agar kita menyadari keberadaanNya, agar kita mengingat bahwa dia ADA.  Karena kesadaran itulah,  berkembang pencarian-pencarian akan ketuhanan.   Jelas hal itu tidak diberikan kepada si monyet, kalaupun monyet dibuat mirip dengan manusia, mungkin itu hanyalah bagian dari warna warni dunia.

Untuk kita, Tuhan seakan-akan sengaja  memasang satu memory chip dalam hati kita, bahwa dalam denah hati kita mempunyai satu ruang kosong, yang didesain khusus sebagai kediamanNya, dan hanya untuk Dia,  sehingga tidak ada hal apapun yang bisa membuat seorang manusia utuh kecuali dengan menyadari Dia ada, mengundang Dia dan hidup bersama Dia. Disinilah manusia sering  salah kaprah. Adanya  ingatan dan dorongan akan sosok yang berkuasa membuat manusia membabi buta dalam pencariannya, apalagi ketika dalam keadaan putus asa. Yang parahnya,  sering salah menandai sehingga mengtuhankan hal-hal yang tidak seharusnya. Jadinya, sekarang ini banyak orang berbakti kepada orang sakti,  dukun pintar, atau makhluk supranatural yang bisa memberikannya jawaban instan.

Dorongan dari nurani yang lebih rendah tingkatannya adalah agar kita selalu berbuat baik, misalnya ketika kita merencanakan sesuatu yang merugikan di dalam kepala kita, hati nurani akan menggedor kesadaran kita untuk tidak melakukannya. Namun, kenyataannya bahwa zaman sekarang banyak didapati orang-orang yang nuraninya telah mati dalam perjalanan mengarungi hidupnya, sehingga orang-orang itu tidak tahu lagi apa yang harus dicarinya dalam hidup. Orang-orang seperti ini akan terhanyut dalam kehidupan yang sering berakhir dalam penyesalan.

Waktu kecil, amah (oma) sering tiba-tiba memanggilku,” li…li….lai…amah lai kong ko su ho lu thia“. Artinya,” li.. li… (panggilan nama kecilku)..kesinilah…amah mau bercerita untukmu”.

Oma suka bercerita tentang dewa-dewi, surga, dan neraka. Misalnya tentang 7 tingkatan neraka yang sangat menyeramkan, tempat hukuman abadi bagi orang-orang yang sudah meninggal, contohnya orang yang suka berbohong lidahnya akan dipotong, yang suka mencuri tangannya dipotong, ada yang dibakar, ada yang digoreng  dll.

Sehingga, sejak kecil aku sangat takut untuk berbohong maupun mencuri, karena takut masuk neraka dan dihukum. Sejajar dengan cerita-cerita oma, disekolah aku menghafal 10 Hukum Taurat, dan efeknya sama, bikin aku takut setengah mati untuk berbuat kesalahan, takut masuk neraka.

Waktu itu aku hanya tahu Tuhan melalui cerita, tapi belum menyadari keberadaanNya dalam hidupku. Aku hanya TAKUT berbuat salah.

20 tahun kemudian, ketika aku hidupku seolah-olah diterjunkan dari air sungai terjun yang paling tinggi, ketika aku gelagapan, tidak  dapat berenang, capai karena tangan mengayuh-ngayuh, kaki menendang-nendang sedangkan tidak ada satu halpun yang dapat kujadikan pegangan, aku lelah dan hampir menyerah, eh..mendadak Tuhan hadir. Ya, Dia ada dan Dia hadir, meskipun awalnya ragu untuk berpegang padaNya, namun Dia disana, menyertai dan menghibur, mengobati dan memulihkan. Melalui penyertaanNya, aku mengenal pribadi yang ke 2 yaitu Yesus Kristus. Dari situlah titik balik kehidupanku dimulai, terutama dalam hal spiritual. Perkembangan itu membawaku mengenal pribadi ke-3 Allah, yaitu Roh Kudus. Dan melalui belajar,  aku tahu bahwa Roh Kudus-lah yang  akan membantu kita  dalam menjalani kehidupan, baik melewati godaan, rintangan, bahkan ketika kita tidak dapat berkata-kata sangking pahitnya kehidupan yang kita alami, Roh itu bahkan membantu kita berdoa kepada Bapa di Sorga.

Selain itu, Roh itu membantu kita untuk mengaktifkan dan mengeksekusi keinginan Tuhan di dalam hidup kita yaitu saling mengasihi, bersukacita, hidup dalam damai sejahtera, penuh kesabaran, murah hati, baik hati , setia, lemah lembut dan mampu menguasai diri. Hal tersebut dinamakan Buah Roh.

buah roh

Aku tiba-tiba ingin menambahkan perihal Roh nenek moyang.  Perlu diketahui bahwa bukan roh mereka yang memberkati keturunannya, tapi memang ada janji Tuhan yang berbunyi: Hidup orang benar, anak cucunya tidak akan meminta-minta, dengan kata lain… ga usah ngemis bokkk.  Jika ada yang merasa bahwa hidupnya bahagia karena roh nenak moyangnya, mungkin itu adalah karena nenek moyangnya pernah hidup sebagai orang benar.

Dan alam memang mempunyai kekuatan yang bisa memberikan kebaikan tapi bisa juga menghancurkan. Bila bencana terjadi, bukan karena roh alam mengamuk, tapi hal itu sebagian besar diakibatkan karena tindakan manusia yang tidak bertanggung jawab dan tidak menjaga alam. Bukankah manusia diciptakan Tuhan untuk MENGUASAI Bumi?  Kalau kita dihibahkan satu kuasa atau jabatan, itu sama artinya kita harus bertanggung jawab sepenuhnya atas wewewang itu, bukan sewenang-wenang.

Zaman modern yang berteriak-teriak  perihal kebebasan berekspresi memberikan warna yang lain lagi, dan sayangnya banyak yang tidak berekspresi secara positif malah kebablasan sampai memory manusia tentang jati dirinya terhapus. Banyak kejadian “rem blong”  dimana manusia menjadi semena-mena terhadap yang lain, bahkan kepada yang layak dihormati, kegiatan anarkis dengan topeng memperjuangkan keadilan, hidup tidak bertanggung jawab, saling menyakiti. Manusia tidak lagi berpikir dan mengaktifkan nurani, tapi insting. Bila itu yang terjadi pada diri kita, maka aku rasa si  mister Darwin ini mungkin benar adanya. Kita adalah keturunan monyet yang menggunakan insting, bukan feeling (hati nurani).

Banyak hal sederhana yang kita bisa lihat sehari-hari, salah satu hal yang paling MENGUJI EMOSI adalah ketika melihat ada yang membuang sampah dari jendela kaca mobilnya. Aku membayangkan bagaimana orang itu bertanggung jawab atas kehidupannya, alih-alih kepada masyarakat, lingkungan dan alam sekitarnya. Kewajiban sekecil itupun tidak mampu dia lakukan.

So, dalam keadaan sadar, aktifkanlah dan rasakanlah kehadiran Tuhan dihidupmu, undang Dia untuk bersamamu mengarungi sungai kehidupan.  Maka kamu akan merasa tenang dan aman, dan undang juga pribadi Yesus Kristus beserta Roh Kudus. Asah hati nuranimu, dan biarkan Roh Kudus bekerja dalam hidupmu dengan cara hidup kudus dan cinta akan Tuhan. Jika kita mampu mengaktifkan semua hal itu, kita akan hidup bahagia. Meskipun begitu, jangan pernah teledor karena selalu ada pencuri  yang mengintai.  Musuh-musuh inilah yang suka mencuri melalui  berbagai kejadian dan konflik yang menyebabkan  luka, sakit hati, kekecewaan,  dan lain-lain.  Mereka sungguh terlatih  untuk mencuri dan merampas  sekalipun mereka tidak dapat memilikinya.

Dengan adanya Roh Kudus  kita dimampukan

untuk  menghindari hal-hal yang negatif,

hal-hal yang jahat dan merusak atau apapun yang bisa dinamakan dosa.

Bukan karena kita TAKUT  masuk neraka,

tetapi

karena kita menyadari keberadaanNya dalam diri kita

dan kita MENGASIHINYA.

Monyet tidak mempunyai perasaan, tidak mempunyai nurani tapi hanya insting, ia bisa diajarkan untuk berkelakuan mirip manusia, namun sekali binatang, tetaplah binatang, mereka mengandalkan panca indra dan kelebihannya yang lain untuk bertahan hidup. Mereka bukan mengandalkan kasih karunia Tuhan, dimana dasarnya adalah kasih. Kalau ada kasih maka tidak akan ada hukum rimba yang  tanpa tata krama, hanya kebuasan semata-mata yang berkuasa.

Haleluya. Tuhan beserta kita. Sukses 2013~ Sudah saatnya kita dewasa dan mengalami multiplikasi berkat-berkat dari Tuhan.

Semoga diberkati 🙂

Iklan