LIFE and PEOPLE

I’VE MADE A CHOICE, WHAT’s NEXT?…

Posted on Updated on

Walaupun katanya kita sebagai makhluk  yang bernama manusia adalah makhluk yang mempunyai akal budi, pikiran dan kehendak bebas, namun mau tidak mau, selama kita hidup di dalam tatanan masyarakat sosial,  kita secara otomatis terikat di bawah “peraturan-peraturan” yang dibuat untuk mengatur tata cara dan tingkah laku dalam berinteraksi di lingkungan tersebut.

Asal muasal  dari kelakuan, kebiasaan dan sifat seseorang sebagian besar adalah hasil dari interaksi lingkungan dimana dia terlibat.  Orang tua adalah lingkungan pertama yang mengatur hidup kita, mereka adalah penguasa yang tidak terbantahkan. Kita diajarkan dan diharuskan untuk bersikap sesuai dengan norma yang dianut keluarga. Kita diajarkan mengenai kewajiban-kewajiban, misalnya  mandi sebelum makan, membantu pekerjaan rumah, sopan santun kepada orang yang lebih tua dll.

Ketika memasuki usia sekolah, penguasa kita bertambah lagi..yaitu para guru-guru disekolah yang mengontrol kita dengan peraturan-peraturan dan tata tertib  sekolah. Kita diharuskan berpakaian bersih dan rapi, lengkap dengan sabuk, kaos kaki dan sepatu, sepatunya harus berwarna hitam lagi.. Kita diharuskan harus tiba disekolah sebelum jam pelajaran dimulai, harus mengerjakan PR dll.

Keharusan-keharusan yang kita lakukan berulang-ulang dalam jangka waktu tertentu akan membentuk satu kebiasaan, bahkan kemungkinan menjadi sifat. Demikianlah hal tersebut  terus berlangsung, dan sampai urusan kita di dunia ini selesai meninggalkan dunia,  kita akan selalu terikat  peraturan.

Orang tua mulai memberikan kelonggaran ketika kita beranjak dewasa. Dan setelah kita hidup mandiri, punya pekerjaan dan penghasilan tetap, peran  orang tua  sudah sangat jauh berkurang. Saatnya bebas dan menentukan pilihan dan mewujudkan keinginan-keinginan yang terpendam.  Kita merasa bebas, bangga dan merasa berkuasa melakukan apa saja untuk diri kita sendiri.  Perasaan ingin menikmati kebebasan secara seutuhnya  itulah yang  terkadang menjerumuskan kita ke pilihan yang salah. Pilihan yang salah atau keliru bisa terjadi karena tidak berpikir panjang.

KITA MELUPAKAN YANG NAMANYA KOMITMEN dan KONSEKWENSI.

Sebelum menentukan pilihan, pikirkanlah kesanggupan untuk setia berkomitmen  dan sadarilah bahwa ada konsekwensi dalam setiap tindakan kita terhadap pilihan tersebut. Contohnya:

  • Orang yang memilih untuk menjadi juara lari marathon, harus berkomitmen untuk melakukan latihan rutin setiap hari, mengkonsumsi makanan bergizi dan suplemen-suplemen untuk memperkuat otot, meningkatkan tenaga  dan daya  tahan tubuh. Apa yang akan terjadi bila dia tidak melakukan seperti yang seharusnya?  konsekwensinya adalah  hasilnyamenjadi tidak maksimal, dan yang terburuk adalah gagal meraih juara.
  • Orang yang memilih untuk hidup terhormat dalam masyarakat, dia harus berkomitmen berperilaku sopan sesuai aturan masyarakat setempat.  Pepatah mengatakan, DIMANA BUMI DIINJAK, DISITU LANGIT DIJUNJUNG, artinya dimanapun kita berada, haruslah menghormati dan menghargai aturan budaya setempat.   Salah bersikap pada waktu dan tempat yang salah akan sangat merugikan.  Contohnya berpakaian yang pantas, coba bayangkan apabila ada ketua RT yang  hadir dalam rapat pengurus dengan berpakaian minim, apa kira-kira yang akan terjadi?  Apalagi di daerah atau negara yang sangat ketat dalam memberlakukan undang-undang berpakaian, seperti di negara-negara tertentu di Timur Tengah, sangat tidak bijak untuk tidak mentaatinya, konsekwensinya terlalu besar untuk ditanggung, hukumannya terlalu berat.
  • Pasangan yang telah memilih untuk menikah, harus berkomitmen untuk menjalankan kehidupan bersama dalam suka dan duka. Saling menghormati, mengasihi, dan mendukung satu sama lain. Selesaikan konflik. Bila tidak, ujung-ujungnya adalah perceraian. Namun dalam hal ini, komitmen yang dibutuhkan adalah dari kedua belah pihak. Menyandang status “janda” atau “duda”, mempunyai beban mental yang lebih berat, karena kacamata masyarakat seolah-olah lebih tertuju dan terfokus untuk menemukan kesalahan-kesalahan yang diperbuat mereka.
  • Orang yang telah memilih agamanya. Jelas setiap agama mempunyai peraturan-peraturan tersendiri, baik yang tertulis maupun secara harfiah diterjemahkan dari ayat-ayat Kitab suci.

Bila memilih agama Kristen sebagai panutan, kita harus berkomitmen menjalani hidup makin lama makin sempurna seperti Yesus, dan menjauhi seluruh laranganNya.        Bila memilih agama   Islam  sebagai panutan,  komitmennya  tidak  memakan makanan haram, contohnya Babi. 

Intinya, dari 5 agama yang diakui Indonesia, keseluruhannya mempunyai kemiripan, yaitu dilarang melakukan kejahatan, seperti mencuri, menipu, membunuh, memperkosa, mabuk-mabukan, bunuh diri dan sebagainya.

Anehnya, banyak orang yang telah memilih agamanya, namun tidak komitmen dalam menjalankannya karena dalam kehidupan sehari-hari, perbuatan dan tingkah lakunya tidak mencerminkan sikap yang mewakili ajaran dari agamanya tersebut. Konsekwensinya apa?  coba tebak sendiri. 🙂

Satu lagi yang keanehan dalam perilaku manusia yaitu , kita tidak sadar untuk berkomitmen dalam pilihan kita,  dan  apabila hal buruk terjadi, kita cenderung mencari kambing hitam, mencari “dukungan” untuk membenarkan kita, ataupun membuat   1001 alasan yang bisa ditemukan untuk “membersihkan” diri dari situasi tersebut.

    

Nah, sekarang, yukkk …kita  sama-sama renungkan kembali pilihan-pilihan yang pernah kita buat dalam hidup.  Berapakah diantaranya yang kita sungguh-sungguh berkomitmen? Berapakah yang hasilnya diluar harapan?  Mengapa terjadi? Mungkin dari sana kita akan lebih bijak dalam memilih di masa yang akan datang, memilih yang kita yakin  untuk mau  mentaati dan melakukan semua keharusan (peraturan) yang ada didalamnya, dan bersedia menanggung segala konsekwensinya, karena PILIHAN APAPUN YANG KITA BUAT BEREFEK TERHADAP KITA  MAUPUN ORANG-ORANG DI SEKITAR KITA, TERUTAMA KELUARGA KITA.

♥ Be Blessed ♥

Iklan

BERSIH BERSIH HATI

Posted on Updated on

HANYA TUHAN YANG BISA MEMBERSIHKAN KOTORAN DI HATI KITA DENGAN SEMPURNA…

Menjaga hati adalah sebuah kalimat sederhana yang sangat dalam maknanya.  Karena,  hati  adalah pusat  eksistensi dari diri seseorang yang mengekspresikan kehidupan, pembawaan dan tingkah laku seseorang. Menjaga hati, meskipun terdengar sederhana bukanlah  mudah untuk dilakukan. Hanya orang-orang yang benar-benar sadar akan arti kehidupannya yang bisa berusaha menjaganya dengan baik.  Hanya orang-orang yang sadar bahwa hidup bukan semata-mata adalah miliknya sendiri, namun merupakan hidup yang penuh tanggung jawab terhadap Tuhan dan sesama manusia, akan berjuang untuk menjaga hatinya dengan baik.

Perihal hati, aku akan menceritakan sedikit pengalaman hidupku. Dari kecil hingga dewasa, aku memiliki kehidupan yang sangat baik dan jauh dari  masalah.  Dengan pembawaan yang supel, aku gampang berteman dan selalu  diterima dengan baik dimanapun. Aku menjadi anak kesayangan, cucu kesayangan, murid kesayangan, karyawan kesayangan, keponakan kesayangan, teman kesayangan, bahkan nenek-kakek dari teman-teman satu sekolah sangat menyayangi aku. Saat itu,  Hati-ku belum diuji.

Bertahun-tahun kemudian, datanglah ujian-ujian itu. Aku memasuki tahun-tahun  dimana saya  mengalami perlakuan yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Aku mengalami tekanan yang luar biasa. Berbagai macam sumpah serapah, caci maki, penghinaan, cercaan, yang tidak pernah aku dengar sebelumnya, tiba-tiba datang menghiasi hari-hariku. Aku bingung,  karena hal-hal baik dalam hidupku seolah-olah sirna tanpa jejak.

Aku tidak berani mengadu kepada siapapun, bahkan kepada orang tuaku. Tuhan? aku belum mengenalNya pada saat itu. Jadi, yang bisa aku lakukan adalah menghabiskan malam dengan menangis di pojokan kamar mandi.  Aku benar-banar tidak tahu bagaimana bereaksi dengan benar terhadap tekanan itu, aku merasa malang. Dan pada saat-saat konflik berlangsung, aku hanya bisa terdiam, membisu. Dan aku mengira aku SABAR.

Ternyata, aku  keliru!   Aku bukan sedang bersabar! Sama sekali bukan. Tetapi aku tidak tahu cara melawan. Lambat laun, tekanan-tekanan dan konflik-konflik yang terjadi sangat sering itu  mulai membentuk sifat yang baru dalam diriku.  Yang semula hanya merasa  bingung dan hanya bisa menangis, lama kelamaan tersimpan dan tertumpuk dan berubah menjadi marah, kecewa, sakit hati, kepahitan, ketakutan, kegelisahan dan kekhawatiran. Akibatnya, setelah hati  penuh dengan sampah-sampah itu, ia-pun meledak  dan hancurlah  kehidupanku. Aku kembali ke titik nol. Seolah-olah berubah menjadi orang lain, aku hadir dengan pribadi yang lesu, kusam, tidak percaya diri bahkan tidak sanggup untuk mengangkat kepala dan  menatap orang yang berada didepanku.  Orang yang hatinya kotor, tidak akan mampu berbuat hal yang benar dan hidupnya kacau.

Hidup dengan membawa beban berat dalam hati, membuatku sulit melangkah. Aku tidak tahu masa depanku akan menjadi seperti apa. Semua tampak buram. Tetapi, memang benar apa yang dikatakan orang-orang. Bahwa Tuhan mengasihi kita dalam keadaan apapun, dan Dia tidak pernah meninggalkan kita. Kita hanya perlu datang kepadaNya. Waktu itu, aku seolah mengalami titik terang ketika  diajak mengenal Tuhan. Aku mengalami pelepasan, dan mulai  membaca firman Tuhan, memuji  dan berdoa. Dan pembersihan dalam hatiku pun dimulai melalui penghiburanNya.

Melalui setiap doa yang kupanjatkan, curahan hati yang penuh kesedihan, hatiku dibasuhNya. Segala jenis kotoran dan sampah dalam hatiku, sakit, marah, kecewa, takut, benci.. semuanya dibersihkanNya. Tentu pasti ada kotoran membandel, sehingga total aku membutuhkan waktu 4 tahun lamanya, untuk  bersih tuntas dan menjadi pribadi yang baru.  Sejak saat itu, perubahan yang baru mulai tampak, kepribadiaanku mulai tampak.   Dari hari ke hari bersama Tuhan, wajahku makin memancarkan sinar, orang-orang berkata, aku  berubah menjadi semakin cantik, tetapi aku tahu bahwa itu terjadi karena Tuhan telah membersihkan dan menempati hatiku, dan Dia bekerja didalamku.

Kekhawatiran, Kepahitan, Kebencian, Hati yang luka, Kemarahan, Tamak, Iri hati adalah sebagian dari sampah yang tidak bolek disimpan, apalagi ditumpuk.  Akibatnya sangat berbahaya, karena kepribadian kita bisa berubah sesuai sifat-sifat sampah itu.

Aku  mencatat beberapa perilaku dan  kepribadian  yang timbul dari orang yang memupuk sampah dihatinya, antara lain

  • Bersikap semaunya, tidak stabil, banyak keluh kesah,  keras hati dan tidak mau terima masukan dari orang lain.  Seperti saluran air yang mampet di bak cuci, air yang mengalir dari atas tidak akan mampu masuk ke saluran karena buntu, ujung-ujungnya banjir dan mengkibatkan area sekitarnya menjadi basah semua. Orang yang demikian sering mengakibatkan kerugian bagi orang-orang disekitarnya.
  • Menjadi mati rasa karena terbiasa mematikan perasaan  untuk menghindari rasa sakit,  sehingga  hidup bagaikan robot, tawar, tiada berwarna, tiada kemauan dan motivasi untuk melakukan apapun.
  • Selalu sulit berhasil dalam hal apapun. Karena disaat pikiran merencanakan sesuatu yang positif,  secara otomotis emosi negatif dalam hati menentangnya, sehingga sulit fokus kepada tujuan.
  • Minder, tidak percaya diri.
  • Suka mencari perhatian dengan cara yang berlebihan, misalnya berbicara dan tertawa keras-keras, mengalami euphoria dan histeria, kebahagiaan semu.

ADAKAH CARA AMPUH UNTUK MEMBERSIHKAN SAMPAH HATI?

Jawabannya ada.  Dan satu-satunya cara paling jitu adalah bekerjasama dengan  Tuhan. Kita melakukan bagian kita, dan mengizinkan Dia melakukan bagianNya untuk kita  (Mazmur 51: 17-21).

Bagian yang  perlu  kita lakukan: mengaku dosa dengan hati yang penuh penyesalan (hati yang patah, hancur dan  remuk).

Maka, Dia akan membersihkan dan memperbaharui kita dengan Roh yang teguh.

Bonusnya, kita mendapat PenyertaanNya, sukacita, dan kerelaan mengajarkan kebenaran Tuhan supaya orang-orang berbalik padaNya

BAGAIMANA CARA MENJAGA HATI SUPAYA SENANTIASA BERSIH?

(Roma 12:14-20) :

  • bersukacita,  bersabar dan  Tekun berdoa!
  • Berkatilah yang menganiaya kamu, jangan mengutuk!
  • Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Bertenggang rasa dengan sesama.
  • Hindar iri hati, keangkuhan dan keseombongan.
  • Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!
  • Usahakan selalu berdamai dengan semua orang
  • Jangan membalas dendam, karena itu adalah Hak Allah.

PERCAYALAH!!!  Resep diatas itu MANJUR.  Meskipun masih  jatuh bangun dalam perjalanan menuju kesempurnaan, aku  yakin bila Tuhan ada dalam hidup kita, kita akan mengalami penyertaanNya.

Terima kasih Tuhan.. kuizinkan Engkau membersihkan hatiku setiap hari, dan membiarkan Engkau menorehkan nada-nada indah diatasnya. Amin.

♥ Puji Tuhan

WHERE SHOULD I GO FROM HERE ~ the english version of “Kemanakah aku harus melangkah”.

Posted on Updated on

The Past, the present and the future are episodes which we are dealing with them  in our life. People said life is a play-scene, a drama, we see acts that fill in every situation in it. Similar in our lives that we take our role in the act. The previous episode has been made is called the past, there might be no conclusion yet, but it has to be continued to the next episode which is called now, our act at the present time, and even though the future story has not been written, we still have to keep going till the story end.

An episode in life which make people do not have enough courage to move on continue the story  mostly is caused by his failure in the past. The failure that caused  trauma and hopeless.

I am sure that there is no one has planned for failure in life, but the wheel of life is spinning and taking everyone to the turn in different areas, or maybe same area but at different level and intencity. Eventually, when it came to the turn, the wheel would stop at the health, finance, family and friends,funtime, relationships, job, private life or even spiritually.

One thing to keep in mind,  there is a potential that a failure would invite more failures in diffferent area if we are not aware and make some changes.


There was one big failure in my life which dragged me for 4 years.  That time I was making friends with trauma, fear, unconfidence and I walked with my head down. It was not easy at all despite I know that God loves me and is with me, but the intimidations were coming, haunting and blocking my feet to move forward.

Live uncomfortably with those feelings draw me close to Him at the end. With His love and help, I was awaken with new perception and habits. I live in victory with Him since 2004 then.

VICTORY MEANS TO GET OVER THE PAST AND READY TO RUN TO THE FUTURE

As described above, the areas that failure that  hit us can be small to big ones, low to high level ones. Small failure is like when we learn biking and fall and caused a traumatic feeling to try again, big failure as in separation by death with our beloved ones  or a divorce. Whaever the failure is, it should not be a reason  for us to stick in it and lose the ability to do anything. If it has past, let it past. If we live in there, in means we live in the past.

Do you remember the story of Sodom and Gomorrah? At the moment God saved Lot and his family from  the demolition of Sodom city, and give them a chance  to start a new life, what did his wife do? she looked back and turned into a pillar of salt.

*) Pictures pillar of salt was allegedly as a pillar of salt of Lot’s wife, location at the Dead Sea, Middle East.

Can you see the similarity to our circumstance  when we are dealing with very bad situation, we pray hard to God to show us the way out, and God answered and made the way . But we still look back and at that point we become stuck, we become the pillar of salt, stop there and not going anywhere.  Instead of slumped in grief, fear, worry, we must keep  motivating  ourselves,  look up and see the hope, and live  the coming days with hope. 

Live is only once, and time will continue to run, don’t vain it …

Like when we write something on the sand at the beach, the water will come and  wash to the shore, the writing will disappear and give a new sand surface  again. So don’t keep to live in the  past failures and become habit, leave  it and start from new again. Forget the past … run to the goal …. a future full of hope. DO NOT BE A PILLAR OF SALT.

     ♥ God bless ♥

SUDAH TERLAMBAT?

Posted on Updated on

Kehidupan menyimpan sejuta misteri. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dalam sedetik ke depan.   Segala hal yang keliatan baik-baik saja,  tiba-tiba bisa berubah tanpa kita sadari sebelumnya. Disaat kita sibuk mengejar- seakan-akan berlomba dengan waktu –  apa yang menjadi ukuran dunia sekarang yaitu kekayaan, ketenaran dan kekuasaan, tiba-tiba  kita tersadar dengan kepala serasa digodam dengan palu, bahwa  masalah telah ada disana sini, tiba-tiba muncul konflik yang sulit dicarikan jalan damainya, tiba-tiba persahabatan berakhir, tiba-tiba pernikahan berada di ambang perceraian, tiba-tiba  hutang sudah menggunung, tiba-tiba anak kecanduan narkoba, tiba-tiba terdeteksi penyakit mematikan… Terlalu banyak tiba-tiba bila kita tidak waspada.  Disaat kita menyadarinya,  dunia serasa runtuh! Pertanyaan apa yang telah kuperbuat selama ini tidak akan terjawab selain menyalahkan diri sendiri atau orang lain atau meyalahkan keadaan. 

Ketika “tiba-tiba” tersebut muncul, putus asa dan penyesalan sering mengambil bagian pda satu titik. Kita menolak kejadian “tiba-tiba” tersebut. Pertanyaan-pertanyaan muncul silih berganti, mengapa saya?  Mengapa tidak waspada sejak awal? Mengapa tidak peka dengan keadaan? Mengapa tidak diberitahu sebelumnya? Mengapa hidup ini tidak adil?…  dan sejuta mengapa yang lain ikut  mengiringi ratapan kita.

Waktu aku kanak-kanak, salah satu hobbyku  adalah mendengarkan cerita dari orang-orang yang sudah tua, baik itu kakek nenekku sendiri maupun kakek nenek dari teman-temanku. Orang yang sudah tua, senang menceritakan masa lalu ketika  mereka masih berjaya. Mereka bercerita dengan hati berbunga-bunga dan merasa senang didengarkan. Akan tetapi saat mereka bercerita, masa-masa kejayaan mereka sudah berlalu, sekarang mereka adalah  oang tua yang lemah,  sudah uzur, dan rata-rata sudah tidak  produktif. Mungkin pada masa lalu mereka berhasil dalam pengejaran tersebut, berhasil kaya, berhasil tenar dan berkuasa, tapi jangan lupakan satu hal bahwa  setiap orang akan menua, dan kemampuan secara otomatis akan mengalami degradasi

Apa yang bisa dilakukan dengan kekayaan, bila untuk menikmatinya saja sudah tidak bisa selain memperpanjang umur dengan mesin dan obat-obatan?   Apa yang bisa dilakukan ketenaran bila disaat itu sudah kehilangan orang-orang yang dicintai? Apa yang bisa dilakukan kekuasaan bila kekuasaan itu sudah menjadi incaran dan setiap hari hidup dalam ketidaktenangan?  

Jadi, apa artinya hidup? Kita lelah dengan kehidupan, seolah-olah tidak berarti. Satu pencapaian dibayar dengan satu harga yang lainnya. Siapakah yang patut disalahkan? Menurut kita, kita memaksimalkan potensi yang ada pada diri kita, jadi bukan kita yang berada di posisi bersalah. Jadi apa dong? Salahkan Tuhan? Tepat!!! Karena Tuhan tidak pernah protes bila disalahkan. Mungkin karena itulah kita sering  menyalahkan DIa ketika kita berada dalam masalah. Sungguh tidak adil, bukan? sementara  kita tidak mengingatNya ketika berada dalam kesuksesan.

Kita bisa saja mencari kambing hitam dan menyalahkan Tuhan sebagai  penyebab kekacauan ini. Lalu siapakah yang kita anggap bisa menyelesaikan masalah? Insting pertama akan membuat kita berupaya keras mengandalkan segala daya dan  kekuatan yang ada untuk merubah segalanya kembali seperti semula. Kita mempertaruhkan apa yang ada demi mendapatkan kembali yang sudah hilang, kita  mencoba sampai ke ujung tanduk, dan bila tidak berhasil? Watak kita akan berubah, karena kecewa dan pahit, kita  menjadi dingin, penuh kemarahan dan kebencian. Kita marah pada Tuhan.

Setelah semua daya habis dan tidak ada hasil, sudah terlambatkah bagi kita untuk memperbaikinya? Tidak ada cara lain lagi.  Pada titik inilah kita harus membuat keputusan bahwa tidak ada yang bisa menolong kita selain Tuhan. Karena tidak ada kata terlambat bagi orang yang mau datang kepadaNya. Syaratnya cuma satu, yaitu PERCAYA.

Percayalah dan berjalanlah sesuai kehendakNya, jadilah orang yang  mau ditolong dari segala permasalahanmu, seberat apapun itu, Tuhan mampu membalikkannya semudah membalikkan telapak tangan. Jangan Ragu, Jangan bimbang. Pilih Tuhan untuk hidup dalam damai sejahtera dalam keadaan apapun. 

ORANG LAIN LEBIH BAHAGIA?

Posted on Updated on

Adalah suatu kenyataan bahwa manusia sulit mengenal kata “puas” dalam hidupnya. Terutama sekarang ini, era munculnya motivator-motivator unggulan, yang sebagian besar memberikan inspirasi untuk menghasilkan uang, lebih dan lebih lagi. Lihat saja buku-buku dengan judul “cara cepat menjadi kaya” dan sejenisnya sangat laris di pasaran. Tiap orang seakan berlomba mencapai puncak tertinggi keberhasilan.

Tidak ada hentinya, tidak ada puasnya. Membandingkan hidup dengan orang lain menjadi motor untuk berusaha lebih baik lagi. Rumput tetangga selalu lebih hijau bagi sebagian orang. Mereka melupakan kata “bahagia” yang sejati.  Mereka menganggap memiliki lebih banyak berarti lebih bahagia, menguasai lebih banyak berarti lebih bahagia, mengetahui lebih banyak berarti lebih bahagia. Kapan dan dimana  titik hentinya kalau yang mau dicapai selalu kata “lebih”?

Tidak ada salahnya mengejar cita-cita bahkan itu baik sejauh dilakukan secara sehat dan tidak melupakan aspek hidup lainnya.  Tetapi untuk mengejar kebahagiaan, kita harus tahu apa yang menjadi tujuan hidup kita yang sebenarnya, sebab setiap manusia dilahirkan dengan porsinya sendiri-sendiri. Bertanyalah ke dalam diri sendiri, hal apakah yang benar-benar membuatmu bahagia, bila menjadi sangat kaya adalah jawabannya, silakan lanjutkan perjuangan.

Berapa orang yang telah menjadi lelah dalam perjalanan hidupnya, bekerja dari pagi sampai malam, sehingga tanpa sadar usianya menua, dan dia tidak memiliki apapun selain hartanya.  Dan ada juga orang yang memiliki segalanya namun tidak memiliki uang secara mandiri. Contohnya seorang wanita karir, yang pergi pagi pulang petang, jabatan tinggi, dan bersosialisasi, namun tidak memiliki yang namanya sahabat, atau pasangan, yang siap berbagi keluh kesah, berbagi canda tawa dengannya. Dia melihat seorang ibu rumah tangga, yang selalu dikelilingi oleh anak-anaknya, dan seorang suami yang setia, dia  melakukan kodrat hidupnya sebagai wanita, dan dia ingin kehidupan seperti itu. Di sisi lain, ibu rumah tangga itu  yang hidupnya tenang tenteram, tidak perlu mengkhawatirkan terlambat ke kantor atau gaji dipotong, namun merasa jenuh sebagai ibu rumah tangga, dan  menginginkan  hidup sebagai wanita karir yang mandiri. Ah… manusia memang tidak pernah merasa puas.

Aku, secara pribadi berani menyatakan bahwa  bahagia adalah titik dimana kita merasa  bersyukur  dan puas dengan apapun yang dimiliki dalam hidup kita, dan mendapat keseimbangan dalam kehidupan jasmani dan rohani (spiritual).

Kepuasan bisa digapai dengan menempatkan prioritas-prioritas  yang tepat  dan seimbang, sehingga kita bisa menikmati segalanya secara maksimal dalam kehidupan sehari-hari, luar dan dalam, tubuh dan jiwa,

Keseimbangan didalam pribadi (secara jiwa/roh), contohnya :

  • Iman percaya pada Tuhan
  • Kesehatan
  • Hikmat dan pengetahuan.

Keseimbangan secara fisik, contohnya:

  • Keluarga
  • Karir
  • Pelayanan
  • Komunitas
  • Hobby.

Yang terpenting dari keseimbangan itu hadirnya Tuhan di dalam kita. Tanpa Dia, jiwa seseorang itu  kosong. Jiwa yang kosong adalah jiwa yang tidak bahagia.

Kekayaan, Kesuksesan, Ketenaran, Kecantikan, Kepintaran atau hal yang terhebatpun tidak akan sanggup mengisi kekosongan hati seseorang. Rasa tidak puas akan selalu mendorongnya untuk mencari dan mencari  sesuatu yang bisa mengisi kekosongan tersebut.

Sorang filsuf bernama Pascal berkata, “Di dalam diri setiap manusia ada ruang kosong  yang dibuat Tuhan dan hanya DIa sajalah yang bisa mengisinya“.


Kondisi jiwa yang kosong, tidak dapat sepenuhnya menikmati apa yang dimilikinya, contohnya:

  • orang yang kaya yang memiliki segalanya namun tidak dapat menikmati kekayaannya.
  • orang terkenal dan selalu dikerumuni massa namun merasa kesepian.
  • orang cantik yang tidak puas dengan kecantikannya
  • orang yang mempunyai pasangan hidup yang baik, namun tidak bisa menghargai pasangannya.

Aku percaya bahwa sebagai  ciptaanNya yang mendapat tempat utama dihatiNya, yang dianggap sebagai biji mataNya, Roh Allah hanya akan mendiami ruang kosong dalam jiwa kita bila kita terbuka untukNya, mengundangNya dan mengizinkanNya untuk berdiam disana.

Puas dalam Tuhan membuat kita merasa bahagia, membuat kita merasa cantik, membuat kita merasa sehat dan membuat kita merasa kaya. bersyukurlah. Perasaan yang baik membuat kita bahagia.

Orang yang berbahagia tidak akan mengalami kesusahan yang berkepanjangan, walaupun hidupnya sederhana, tidak cantik dan tidak pintar, namun selalu mengerjakan segala sesuatu dengan  penuh arti. Bahagia bukanlah emosi sejenak, bukan dinilai dari seberapa keras kita tertawa, tetapi kebahagian sejati adalah kebahagian yang terpancar dari dalam keluar, dan kamu pasti mengenalinya.

Undanglah Dia ke dalam hidup anda dan berbahagialah, kawan !!!


♥Tuhan memberkati♥

BERKORBAN…

Posted on Updated on

Korban adalah sebuah kata yang bersifat negatif dan berbicara mengenai kerugian, tetapi pengorbanan berbicara tentang kerelaan. Rela berkorban demi sesuatu yang lebih baik dan layak diperjuangkan. Contohnya seorang ibu yang sedang meregang nyawa melawan rasa sakit pada proses melahirkan anaknya, atau  seorang pahlawan yang berjuang tanpa memperhitungkan nyawanya demi sebuah kemerdekaan, atau satu sosok yang rela menjalani penyaliban untuk menebus dosa manusia. Mereka adalah contoh orang-orang yang menderita atau mati demi suatu tujuan. Tapi kadang kala pengorbanan itu juga harus terjadi karena  perbuatan jahat.

Pada zaman kuno, kita membaca cerita tentang hewan atau bahkan manusia  dikorbankan kepada dewa-dewa demi satu tujuan tertentu.  Pengorbanan untuk bersyukur, menghormati para dewa, selalu ditandai dengan “curahan darah”. Dalam cerita rohani, ada Kain dan Habil yang mempersembahkan korban bakaran dari hasil pekerjaan mereka. Ada juga bapa Abraham yang akan mempersembahkan anaknya, Ishak. Tetapi zaman sekarang, pengorbanan yang terjadi bukanlah korban untuk dipersembahkan kepada dewa ataupun Tuhan, tetapi lebih ke hawa nafsu.  Keinginan yang telah menimbukan begitu banyak cerita kriminal yang menghiasi halaman berita, korban-korban yang bermunculan adalah korban pembunuhan, korban perkosaan, korban perampokan. Namun, ada satu yang luput dari perhatian, karena sifatnya yang tidak tampak yaitu korban fitnah.

Katanya Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Memang benar, karena isinya adalah kebohongan. Ketika ia datang menyerang tanpa tanda-tanda, otomatis pasti terasa sakit di hati, ingin membantah, tidak terima dan rasanya ingin segera membalas. Tetapi kita harus belajar mengontrol diri, mengontrol emosi. Pengalaman yang sangat tidak enak itu pernah terjadi padaku. Aku harus memutuskan dengan cepat, haruskah aku membalas fitnah yang pelaku-nya hanya 1-2 orang, tetapi yang menanggung akibat bisa jadi puluhan orang. Atau mendiamkan, sambil memulihkan sakit hati dan merelakannya. Dan waktu itu, aku memilih cara kedua. Mendiamkan, tidak melawan, aku bersedia menanggungnya walaupun tampaknya mustahil bagiku yang temperamen, tapi saat itu aku yakin di suatu masa yang akan datang, cepat atau lambat, kebenaran akan terungkap.

Pengorbanan  terkadang  harus  dilakukan demi kepentingan orang banyak. Apakah kerelaan untuk berkorban itu karena aku berbaik hati? Tidak. Bukan itu. Tapi pilihannya hanya itu jika aku mau hidup seturut jalan yang diajarkan oleh Tuhan. Terbukti kasihNya memampukanku untuk melepaskan kata maaf dan memaafkan.

Bila hari ini kamu mengalami fitnah yang kejam, diamkanlah dan berdoalah supaya Tuhan menolongmu melaluinya. Dengan itu kita melatih diri untuk berpikiran positif dan berhati tulus  terhadap sesama. Yang terpenting, tidak melanggar Firman Tuhan. AMIN.