firman Tuhan

IDENTITAS SURGAWI

Posted on Updated on

image

IDENTITAS SURGAWI. Pernahkah bertanya pada diri sendiri, “Siapakah aku ini?”. Sudahkah identitas sebagai murid Kristus, anak Tuhan, menancap kuat pada diriku?”.

Masyarakat cenderung menilai kekristenan kita melalui perbuatan sehari-hari, dan yang dicari-cari adalah kelemahan dan kesalahan yang kita buat. Jika ditemukan sesuatu, maka kesalahan itu serta merta menjadi bintang utama yang disorot lampu terang benderang supaya semua orang dapat melihat. Sudah cukup sering kita mendengar kalimat, “percuma ke gereja, percuma Kristen, percuna pelayanan dsb” sebagai reaksi dari tindakan yang dianggap tidak boleh dilakukan seorang Kristen. Bukan hanya dari orang yang belum percaya, tetapi sedihnya… Termasuk dari mereka adalah orang percaya. Kabar gembiranya adalah, reaksi tersebut secara tak langsung telah mengklaim bahwa Kekristenan dianggap sebagai ajaran yang benar dan suci.

Mari kita mulai belajar jujur pada diri sendiri dengan mempertanyakan pada diri sendiri, apakah yang telah kulakukan selama ini. Saya merangkum beberapa ciri orang Kristen Sejati antara lain sbb:

1. Masa lalu yang buruk akan menjadi kesaksian yang membawa kebaikan.
2. Kamu akan sadar untuk hidup dalam kebenaran.
3. Kamu akan bangkit diatas setiap keadaan/ masalah.
4. Menyadari bahwa kekuatanmu adalah dari Tuhan.
5. Menghasilkan 9 Buah Roh dalam hidupmu. Kasih, Sukacita, Damai Sejahtera, Kesabaran, Kemurahan, Kebaikan, kesetiaan, Kelemahlemhutan, dan Penguasaan Diri.

Yukkk introspeksi sejenak.

Efesus 2:10  Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Iklan

BERSAKSILAH

Posted on Updated on

.
image

BERSAKSILAH. Karena itu perintah. Ia menyelamatkan jiwa yang kehilangan harapan. Dan kesaksianmu hari ini, bisa menyelamatkan seseorang.
.
Kisah Para Rasul 10:42 (TB)
Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati.

Jika kita percaya pada Tuhan Yesus dan mengasihiNya, bersaksi adalah bukti pertama yang bisa kita nyatakan kepada siapapun yang berada di sekitar kehidupan kita.

Bersaksilah tentang bagaimana Tuhan mengampuni dan menerima kita yang berdosa apa adany. Bagaimana kita menerima karunia Roh Kudus dan belajar memisahkan diri dari hal-hal yang jahat. Serta perjalanan kita dalam iman, pengharapan dan kasih, yang kita alami bersamaNya setiap hari.

Melalui kesaksian, secara tidak langsung kita telah menabur iman untuk mengikuti Yesus. Dan itulah perintahNya yang terutama. Dan taukah kamu, bahwa kesaksianmu akan menyelamatkan jiwa seseorang di luar sana?

BERSAKSI bukan hanya merupakan tugas bagi pendeta saja, tapi merupakan tugas kita semua sebagai anak-anak Allah. AMIN.

#Jesus #Christ #Bible #blessed #Christian #truth #Church #Scripture #BibleVerses #hope #Pray #God #Love #JesusChrist #GoodNews #Christians #Relationships #christianquote #encouragement #spiritualquote #faithwhisperer #inspirations #instagram #faithfulness #testify #saveonesoul

ANTI SLIP

Posted on Updated on

Jika akhirnya kita mengerti

bahwa kejahatan diizinkan untuk selalu ada di muka bumi,

haruskah kita menghentikan asa

untuk bertahan hidup dalam jalan kebenaran?

MEMIKUL SALIB ITU TIDAK MUDAH

Pada musim hujan seperti sekarang ini, banyak jalanan menjadi rusak, berlubang-lubang dan genangan air tiba-tiba bermunculan menghiasi jalan yang biasanya kita lewati. Kondisi seperti ini mengharuskan kita lebih berhati-hati ketika berjalan di jalanan licin dan rame kubangan, supaya tidak terpeleset dan jatuh.

Jika diperhatikan, kondisi hidup yang semakin hari semakin sulit banyak membuktikan kualitas kita sebagai orang Kristen. Sedihnya, masih banyak yang kurang berhati-hati dan menganggap remeh kubangan-kubangan kecil  dalam kehidupan yang terlihat tidak berbahaya. Penyebabnya mungkin karena salah persepsi tentang makna menerima Kristus sebagai Juru Selamat, atau bisa juga karena pertobatan yang tidak sungguh-sungguh, contohnya banyak orang yang bertobat karena mendapat “iming-iming” untuk hidup sejahtera dan bebas masalah jika mengikuti Kristus.

Hal pertama yang harus kita pahami adalah, bahwa menerima Yesus Kristus  sebagai Juru Selamat adalah dikarenakan kita-lah, Dia rela lahir sebagai manusia untuk menebus dosa kita, bukan untuk menebus hutang kita. MenerimaNya adalah untuk mendapatkan hidup yang kekal, bukan bebas masalah kekal. Meskipun pemulihan, kesembuhan, berkat, dan lain lain bukan hal yang mustahil dilakukanNya, sangat mudah malah, piece of cake!  Tapi mampukah atau maukah kita menjalani kesusahan dan bertahan sampai menang sebelum menerima anugrahNya itu?

Pertobatan yang asal-asalan akhirnya akan berujung pada  kekecewaan, dan sering memancing godaan untuk mencari jalan pintas diluar jalur Tuhan. Misalnya ketika penyakit tidak segera sembuh, maka menerima tawaran dari pengobatan alternatif dari dukun-dukun. Jodoh tak kunjung datang maka ke tukang ramal untuk memperbaiki nasib. Ingin segera kaya maka melakukan kecurangan dalam bisnis atau menjalankan bisnis kotor (haram). Berbohong atau bersaksi palsu untuk membela diri,  dan banyak lagi contoh-contoh lain yang seharusnya tidak kita lakukan. Aku pikir kita harus menarik kesimpulan bahwa hanya keselamatan saja yang diberikan secara cuma-cuma kepada kita, lainnya adalah bonus. Dinamakan bonus karena kita perlu bekerja keras untuk mendapatkannya. Ingatlah bahwa mengikuti Kristus sama artinya dengan memikul salib. Jadi, tidak akan pernah mudah!

Jika begitu, bagaimana cara yang tepat untuk bertahan?

 

1.     Hiduplah sesuai standart  Allah

Seorang tokoh masyarakat yang terkenal dengan bicaranya yang tegas dan lugas, Ahok, Wagub Jawa Barat banyak memberikan kesaksian tentang hidupnya. Tentang bagaimana ia selama ini bekerja keras dengan jujur untuk menegakkan keadilan dan memperbaiki keadaan yang sudah telanjur rusak. Tentang bagaimana ia akhirnya menolak ajakan KKN meskipun demi mendapatkan jabatan yang diincarnya. Demi kebenaran, ia sangat berani bertindak dan melawan meskipun resikonya nyawa melayang. Meskipun begitu, ia tetap menjalankan apa yang seharusnya dilakukan sebagai seorang pejabat pemerintah, tegar berjalan diatas kebenaran dan tidak gentar. Tidak seperti orang Kristen asal-asalan yang gaya hidupnya sering menjadi batu sandungan bagi orang lain, Ahok bertahan dalam bayang-bayang incaran musuh yang menunggu ia lengah. Tapi ia menantang kembali karena tidak ada noda dan cela di masa lalu yang diperbuatnya yang bisa dijadikan senjata untuk mengancamnya (2 Petrus 2:2  Banyak orang akan mengikuti cara hidup  mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat). Ia adalah pengikut Kristus yang sejati (Mazmur 15:2 …  Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran  dengan segenap hatinya). Sebuah teladan yang harus  ditiru oleh semua orang.

2.     MIlikilah moral dan  karakter yang baik 

Moral (bahasa latin Moralitas) adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang memiliki nilai positif. Sedangkan manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral, artinya tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga, moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia.

Moral merupakan kondisi pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia yang terkait dengan nilai-nilai baik dan buruk. Moral mempunyai peranan yang penting dalam menentukan sikap terutama ketika sedang berada dalam kesulitan hidup.  Kalau kita mau sedikit lebih teliti, kita akan mendapati bahwa standart moral dalam kehidupan masyarakat di seluruh dunia setidaknya dilandaskan sekitar 80% dari Hukum Taurat (Alkitab), tidak bisa 100% karena masih ada negara2 komunis/ateis.

3.     Bertambah teguh dalam iman

Kolose 2:6-7 Kamu telah menerima Kristus … karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman

Menjalani dan melakukan hal yang benar dalam hidup kita, terkadang memang sukar sekali. Untuk itu kita perlu untuk senantiasa hidup didalam Dia supaya kita tetap teguh dalam iman dan penyertaanNya. Peperangan kita adalah melawan diri kita sendiri, dimana kita berusaha keras mengalahkan kedagingan kita yang rakus supaya tidak tergoda dengan kenikmatan dan nilai kesuksesan hidup yang fana. Tabunglah Doa dan Firman Tuhan  setiap hari.  Sama halnya dengan menabung uang, jumlahnya tidak penting, asal dilakukan secara rutin dan konsisten, maka akan menjadi senjata yang cukup bagi kita untuk bertahan (baca DIET VS STAMINA SEHAT).

 psalm 86_11

KESIMPULAN

Meskipun kejahatan diizinkan ada dunia ini, Tuhan tidak penah menciptakan manusia sebagai makhluk jahat, tapi sebagai makhluk  yang berkepribadian dengan roh, pikiran, perasaan, kesadaran diri, dan kuasa untuk memilih. Kita ditantang untuk menentukan arah tujuan hidup kita, dimana telah  Dia sediakan yang terbaik.  Karena didalam diri kita kerap terjadi peperangan antara jahat dan baik, kita sendirilah yang harus menjadi kompas bagi diri sendiri untuk menentukan arah. Jauhkanlah diri dari godaan. Jangan mencobai diri sendiri dan masuk ke medan perang yang tidak siap untuk dimenangkan, toh hanya kita yang tahu kelemahan kita yang sebenarnya.  INGATLAH bahwa manusia pertama jatuh ke dalam dosa pertama adalah gara-gara GODAAN. (Kejadian  2 dan 3)

Jika kita ditimpa perbuatan jahat, tetaplah teguh berdiri untuk tidak membalas dengan kejahatan, karena itulah target si jahat untuk menyesatkan kita. Jika kita telanjur berbuat kejahatan, segeralah datang kepadaNya, bertobat dan minta ampun, jangan terpenjara dan mati dalam penyesalan seperti yang dilakukan Yudas Iskariot. Godaan 30 keping perak telah menjerumuskannya pada pertumpahan darah. Marilah kita bersama-sama saling menguatkan supaya mampu bertahan hidup di jalan yang benar untuk menghargai dan menghormati pengorbanan yang telah dilakukanNya untuk kita. Di sisi lain si Jahat tidak akan pernah tinggal diam menyaksikan kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah. (Kisah Para Rasul 13:10 .. “Hai anak Iblis,  engkau penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan, engkau musuh segala kebenaran, tidakkah engkau akan berhenti membelokkan Jalan Tuhan yang lurus itu..). Tidak ada hal yang lebih membanggakan hatiNya seperti ketika Dia melihat kita menang dari godaan si jahat.

Banyak orang benar jatuh karena godaan dan tipu muslihat..

Suatu saat ketika kita sadar, pemandangan indah itu sudah menghilang, 

meninggalkan kita begitu saja tanpa disisakan apa-apa..
Janganlah hidup kita berakhir dengan tangan hampa dan hati hampa
Hidup bersama Tuhan, cukuplah,
Berdiri kokoh dan bertahanlah…
 
 

Semoga memberkati.

==============================================================================

Renungan    : Minggu ke 2. Januari 2014

Tema           : bertahan dalam godaan karena kesulitan hidup

Ayat Utama : Mazmur 86:11-12

 
 
 

PENDEWASAAN (Maturity)

Posted on Updated on

Pertama-tama, aku ingin mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2014. Semoga perjalanan kita di tahun 2014 ini dipenuhi dengan hikmat dan penyertaan Tuhan. Maafkan aku karena beberapa bulan terakhir tidak mampu mengatur waktu untuk menulis. Sebagai balasannya, aku membuat tulisan ini sebagai bahan renungan terutama bagi teman-teman yang bergereja dan terlibat dalam pelayanan. Karena seiring dengan pergerakan gereja kami yang semakin intens, dengan jumlah jemaat yang semakin bertambah, tahun ini tema pendewasaan kembali digulirkan. Dan dengan pergerakan intens tersebut, gereja harus membuat beberapa sistem dan peraturan yang diharapkan bisa membantu mengontrol kerapian dalam berjemaat, dan  terutama dalam kelompok-kelompok pelayanan. Bisa jadi sistem dan peraturan baru adalah penyaringan bagi kita. Seperti menyaring tepung, pasir dan batu tentu tidak akan lolos. Maaf beribu maaf bila tulisan ini akhirnya akan membuat beberapa orang merasa terhakimi, tersinggung atau sakit hati, tapi sekali lagi tujuanku bukan itu, karena aku sendiri bukan jenis orang yang gampang ditundukkan begitu saja dan sedang belajar utk menjadi lebih baik. Jadi mari kita bersama-sama merenungkan bagaimana seharusnya kita menanggapi dan menjalani setiap perubahan yang tidak biasa, yang kita anggap tidak nyaman, suatu perasaan yang mungkin menyebabkan kita memberontak dan timbul akar pahit. Alasan lainnya adalah sejak visi 2013 tentang pendewasaan dan pelipatgandaan (the year of Maturity dan Multiplication), ternyata  telah “menghengkangkan” bahkan beberapa orang yang aku kenal, hanya karena tidak mau menerima jenis makanan yang “keras”.

silakan disimak…

Pendewasaan berasal dari kata dewasa, yang menurut definisinya berarti:

  • cukup umur (bukan kanak-kanak atau remaja lagi)
  • cara berpikir dan bertindak sudah matang, mampu menguasai diri dengan baik, mampu menerima tanggungjawab yang lebih besar, mampu menerima konsekwensi atas tindakannya. .
  • alat reproduksinya sudah mulai berfungsi utuh.

Pendewasaan adalah sebuah proses atau cara untuk menjadi dewasa. Proses pendewasaan itu akan semakin dipercepat oleh munculnya bermacam-macam ujian dan tantangan.

Sebenarnya semua proses menuju pendewasaan tidak lepas dari kata “belajar”. Belajar berarti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu melalui latihan atau pengalaman. Coba bayangkan kembali masa ketika kita masih anak-anak, kita mengalami begitu banyak jatuh bangun ketika belajar hal-hal baru untuk pertama kalinya. Mungkin yang bisa kita ingat hanya sejauh sejak kita belajar membaca dan menulis, tetapi sebelum itu kita sudah melalui banyak hal dari mulai menelan makanan, merangkak,  berjalan,  bicara, berlari  sampai seluruh anggota tubuh dapat beroperasi dengan sempurna. Bukan hanya itu, kita juga belajar untuk taat pada perintah orangtua/guru. Kita belajar menerima konsekwensi bahwa ketika tidak taat, yang ada hanyalah rasa sakit. Seperti kita merasakan sakit ketika jatuh, ketika dihukum/diajar  oleh orangtua/guru kita, termasuk gaji dipotong apabila tidak masuk kerja. Semua pengalaman itu menjadikan kita dewasa, dewasa untuk tahu memilih mana yang baik dan mana yang harus dihindari.

Sejak aku menjadi seorang ibu, berbagai pelajaran tentang cara mengasuh dan mendidik anak kuamati dan kupelajari. Mulai dari orangtua yang cuek terhadap anaknya sampai yang over protective. Seperti yang pernah kusinggung dalam beberapa artikel sebelumnya, papa mendidik kami dengan cara yang unik, yaitu membekali dengan nilai-nilai yang harus kami sandang, tetapi tanpa pendampingan yang intensif. Kami diberikan tanggung jawab dan dilatih untuk mandiri, karena kedua orang tua kami sangat sibuk. Sejak SD aku sudah berangkat sekolah sendiri, diberikan uang untuk bayar uang sekolah sendiri (yang mana jumlahnya tentu terlalu besar untuk dibawa seorang anak kecil), mendaftarkan diri ke kursus-kursus sendiri, termasuk menyelesaikan konflik sendiri, semua dilakukan sendiri kecuali dalam hal mencari uang.  Terkadang timbul iri hati, terutama ketika orang tua dari teman datang ke sekolah hanya untuk memarahi guru karena anaknya diejek oleh anak lainnya. Betapa orang tua yang lain sangat membela anaknya untuk hal sepele. Dan bila ejekan terjadi pada diriku, dan aku ingin mendapatkan perhatian yang serupa, orangtuaku akan berkata,”biarkan saja orang mau bilang apa, tidak usah didengarkan”. Sekarang aku tahu bahwa  tidak menghiraukan ejekan negatif termasuk salah satu cara pendewasaan. Jangan sedikit-sedikit mengadu dan menjadi anak manja. Setelah dewasa, aku mengetahui kebanyakan orang dewasa yang tidak mampu bertanggungjawab bahkan kepada dirinya sendiri ternyata dibesarkan dengan pola dimanjakan. Berbeda dengan pola didikan yang kuterima, alhasil, aku tumbuh menjadi anak yang bermental kuat dan keras hati sebelum kenal Tuhan.

Lahir sebagai manusia, menjadi dewasa secara fisik dan pikiran saja tidak cukup. Untuk menjadi utuh, kita juga harus dewasa secara rohani. Inilah bagian dari pelajaran yang tersulit. Karena dalam hal kerohanian, rata-rata kita baru benar-benar bertemu dengan hadiratNya ketika usia kita sudah beranjak dewasa.  Usia dimana pola asuh dari orang tua dan lingkungan semasa anak-anak telah terbentuk dan melekat menjadi kebiasaan dan karakter. Sehingga secara tidak sadar, kita menuntut perlakuan yang sama ketika mengalami proses untuk menjadi dewasa dalam hal rohani. Bila pada masa anak-anak kita tidak berani memprotes peraturan-peraturan yang ditetapkan, pada usia dewasa akan berbeda karena kita sudah bebas menentukan pilihan.

Satu hal lain yang sering membuat rohani mandeg alias tidak tumbuh adalah ketika membuat kita membuat hitung-hitungan dengan Tuhan. Kita berhitung sebagai jemaat sebuah gereja, yang merasa memberikan telah persembahan yang besar, merasa memberikan pelayanan gratis, sehingga merasa layak untuk diperlakukan spesial. Kita menganggap bahwa gereja adalah bentuk kasih dari Tuhan. Bila ditempat lain kita bisa menerima ganjaran atas perbuatan kita, melanggar hukum dan menerima hukuman, tetapi untuk gereja? no no no… gereja adalah transformasi bentuk kasih Kristus sehingga sudah seharusnya memperlakukan dan mengayomi kita dengan lemah lembut dan penuh kasih sehingga harus menuruti kemauan kita. I love you full gitu loh… Hellooo..??? Tidak, saudaraku… Gereja adalah komunitas tempat kita belajar tentang Firman dan KasihNya dan cara-cara untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan kita. Mengaplikasikan Firman Tuhan sehingga menjadi hidup dalam kehidupan kita itulah namanya pengalaman. Disitulah prosesnya terjadi yang menentukan level kedewasaan kita naik, apabila kita mampu melaluinya.

Sungguh disayangkan bahwa pada kenyataannya,  sifat seperti anak-anak yang maunya hanya diberikan susu, yang merengek minta kemauannya dituruti, tidak mau belajar hal baru kecuali dengan rayuan yang intensif persis seperti anak kecil justru muncul dari orang-orang yang sudah lama bergereja. Umur rohaniku termasuk muda (sejak tahun 2000), dan aku heran dengan tanggapan orang-orang yang lebih hafal ayat-ayat Alkitab, lebih lama bergereja, lebih lama pelayanan,  akhirnya memilih berhenti dan hengkang gara-gara tidak dapat menerima sistem operasional yang baru. Bukannya menjadi teladan bagi yang muda dan jiwa-jiwa baru, malahan menyebar akar kepahitan dimana-mana.  

Tetapi jangan karena tulisannya ini kubuat berarti aku ini senantiasa menurut dan taat pada  setiap pembaharuan sistem atau peraturan. Akupun dalam kedaginganku tidak jarang memprotes dan ngomel-ngomel duluan.  Membaca atau mendengar peraturan hanya mengerti bunyi kalimatnya tanpa mencari maknanya. Tetapi sebelum berlarut-larut, I’ll be right on track, aku akan kembali melakukan apa yang seharusnya dilakukan, yaitu mempelajari, mencerna, mencocokkan dengan Firman Tuhan dan jalur laju dari visi gereja. Mengapa? karena aku mau belajar dewasa dan benar-benar terlibat dalam Kerajaan Allah dengan nilai yang utuh yang dilakukan dengan hati yang tindakan yang benar. Dan satu hal yang penting, aku tidak mau tertinggal. Mengapa? Sebab gereja dengan  slogan “we are on the move” berarti senantiasa bergerak maju menuju visi Tuhan, dan  tidak ada waktu bermalas-malasan.  Lalu mengapa kita semua tidak mau bersama-sama mengejarnya? Bukankah kita semua makan dari sumber yang sama? Alkitab yang sama? jenis makanan yang sama? porsi yang sama?

Sungguh dari hatiku aku ingin berkata kepada semua orang, dimanapun gerejamu berada, stay with its vision and collaborate with the mission. Peganglah visi rumah kedua-mu dengan iman yang teguh. Tentukan prioritas dalam hidupmu, apakah kamu telah mengorbankan waktu yang seharusnya dipanggil untuk melayani untuk hal yang kurang penting. Misalnya: minta off pelayanan gara-gara diajak jalan-jalan ke mall. Sungguh, harganya tidak pantas. Aturlah waktumu dan hidupmu dengan baik. Ingat, yang kumaksudkan bukan mengutamakan pelayanan lebih dari kewajiban dasar. Tanyalah pada pendetamu atau guru/mentor rohanimu, apakah benar membiarkan keluarga terlantar kelaparan karena mengutamakan pelayanan daripada memenuhi kewajiban utama seperti menafkahi keluarga. Prioritaskan sesuai dengan urutan kepentingan yang mempunyai nilai. Ingatlah bahwa dewasa berarti cara berpikir dan  bertindak sudah matang, mampu menguasai diri dengan baik, mampu menerima tanggung jawab yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak. Dewasalah… 

Ibrani 12:10-11 Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai  kepada mereka yang dilatih olehnya.

12:14-15 Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh. Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah,  agar jangan tumbuh akar  yang pahit  yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.

Ingatlah bahwa pelayanan itu bersifat sukarela (volunteer). Meskipun begitu, kita tetap harus berkomitmen dalam menjalankannya. Jangan semata-mata tidak dibayar, maka boleh semau gue. Jangan karena tidak diupah, maka seenaknya keluar masuk.  Ingatlah bahwa Pelayanan bukanlah untuk mencari upah. Pelayanan bukan karena tidak ada kerjaan. Pelayanan bukan untuk mengisi kekosongan hati karena itu adalah tempatnya Tuhan. Jadi dewasalah, apalagi bagi yang sudah lama melayani. Jangan berhenti karena peraturan berganti. Jangan berhenti karena pemimpin berganti. Jangan berhenti karena tidak sesuai di hati. Boleh marah, boleh tidak setuju, tetapi secepatnya kembalikan semua pada pusatnya, check ke dalam diri sendiri, check hati, berdoa dengan rendah hati minta hikmat, namun pleaseee jangan berhenti,,,

Mazmur 84:7 Mereka berjalan makin lama makin kuat,  hendak menghadap Allah di Sion.

spiritual Maturity

Pengalamanku yang bisa dijadikan catatan:

  • ps. Mazmur 84:7 adalah ayat yang sangat memberkatiku, ketika suatu saat beberapa tahun yang lalu, aku kelelahan dan ingin berhenti karena suatu sebab eksternal. Ketika ayat ini dibagikan  dalam suatu kesaksian dalam CG  oleh penilikku Bapak Hadi Wijaya. Seketika itu, aku memutuskan untuk terus berjalan.
  • Tiap kebijakan baru  yang kurasakan tidak sesuai dan belum mampu kupahami, aku selalu membawanya ke para pemimpin rohaniku. Pemimpin rohani bisa berupa siapapun yang levelnya lebih tinggi dari kita. Dan mereka selalu menanggapi protesku dengan ,”nunut saja.. ikuti saja..”. Membuatku berpikir bila orang2 yang berpendidikan jauh lebih tinggi dariku, jauh lebih pintar dariku, mampu menundukkan diri, kenapa aku tidak?

Semoga memberkati.

MELATIH HATI

Posted on

Sudah menjadi tantangan bagi kita untuk meresponi setiap kejadian yang terjadi disekeliling kita. Susah-senang rutin kita alami.  Hati siapapun akan selalu siap untuk menyambut kejadian yang baik. Bagaimana dengan kejadian yang pahit? apakah hati kita cukup terlatih untuk menerimanya sehingga kita tidak gampang terjatuh dalam perasaan tidak berdaya, diabaikan, dikucilkan, ditolak, yang lama kelamaan akan menimbulkan sakit?.

Di gym tempatku berolahraga, ada satu program latihan yang bernama Flexibility.  Sesuai dengan namanya, Flexibility adalah latihan kelenturan  tubuh dimana otot-otot ditarik dan dipanjangkan dengan gerakan-gerakan stretching, sehingga lama-lama otot menjadi mampu menjangkau lebih jauh.

Ketika kali pertama aku bergabung di program itu, aku mengalami beberapa kesulitan dalam melakukan  gerakan terentu dikarenakan otot-ototku yang cenderung keras dan kaku  karena latihan beban. Salah satu gerakan   ( seperti di foto sebelah) kelihatan mustahil untuk aku lakukan, kalaupun bisa, gerakanku sangat jauh dari maksimal. Sulit sekali untuk meletakkan flexor lurus menempel mendatar di lantai, (flexor adalah bagian depan pinggul sampai paha depan), apabila dipaksakan, akan menimbulkan rasa sakit.

Namun, ada beberapa teman yang sudah terbiasa  bisa melakukannya dengan baik sekali, apalagi instrukturnya, sempurna. Sang instruktur yang walaupun memiliki otot-otot yang kelihatan keras, tapi karena sering melakukan latihan ini, tubuhnya menjadi  lentur,  flexible.

Setelah beberapa kali mengikuti program tersebut, menahan rasa sakit akibat otot-otot yang ditarik, belum lagi rasa jarem seluruh tubuh pada keesokan harinya, rasanya bagaikan habis ditimpa sekarung beras,  lambat laun otot-ototku mulai menyesuaikan diri dengan jangkauan latihan dan lambat laun semakin lentur.  Kelenturan otot sangat  diperlukan  untuk latihan apapun juga, fungsinya untuk menghindari cedera.

Aku melihat adanya suatu hubungan dari latihan tersebut  dengan keadaan hati. Bila hati kita tidak terlatih dengan kejadian manis-pahit, senang-susah, maka akan sulit sekali bagi kita untuk menerima masalah dengan lapang dada. Hati tersebut tidak akan memiliki ketahanan ketika menghadapi intimidasi. Hati tersebut tidak akan kuat ketika ditimpa kemalangan. Efeknya adalah  rasa pahit, dendam, kecewa dan sakit hati menjadi menggumpal didalam hati  dan menyebabkannya  menjadi keras. Hati terasa sesak. Pikiranpun ikut menjadi sempit.

Hati yang keras tidak akan mampu menerima kasih dari orang lain, apapun bentuknya kasih itu. Curiga  terhadap maksud baik yang diberikan orang lain, mencibir ketika melihat orang lain berbuat kebaikan disekitarnya. Orang ini tidak akan tahu caranya hidup berbahagia.

Latihan hati sebenarnya kita peroleh sejak masih kanak-kanak. Ingatkah ketika kita dimarahi oleh orang tua? Ingatkah ketika kita mendapatkan hukuman?

Seawaktu kanak-kanak, aku yang terlahir sebagai anak sulung dalam keluarga sering menjadi sasaran kemarahan bila adik-adikku rewel. Hal yang paling sulit adalah jarak  usia ang cukup jauh antara aku dan adik kedua dst, sehingga aku merasa hidupku tiba-tiba kacau sejak saat itu. Aku yang  sebelumnya hampir tidak pernah dimarahi, tiba-tiba jadi sering dijeritin oleh mama.  Setelah akrab dengan kejadian seperti itu, akhirnya aku memilih untuk menghindari masalah.

Karena setiap kali aku merasa tidak pernah terlibat dengan kekacauan di dalam rumah, akhirnya sejak kelas 3 SD, aku sengaja meminta les ini itu sehingga hampir seharian penuh aku tidak berada di rumah. Hal tersebut cukup menenangkan, dan dengan pola demikianlah aku hidup selama bertahun-tahun selanjutnya. Bila ada masalah, aku tidak melawan, tidak menerima, tapi menghindarinya. Aku tidak mau “disakiti”.  Hatiku tidak terima untuk dilatih karena ketidakmengertian.

Bila waktu itu aku menerima “kemarahan” dari orang tua yang walaupun tidak bersalah, aku pasti akan banyak belajar bagaimana menghadapi masalah, bagaimana menghadapi adik yang menangis, apa yang harus dilakukan.  Bila berulang-ulang dilakukan, lama-lama perasaan jengkel karena dimarahin pasti akan hilang digantikan dengan perasaan menerima dan berusaha melakukan sesuatu supaya orang tua tidak marah-marah lagi. Aku akan belajar mengontrol adik-adik, belajar mengasihi dan melindungi mereka. Anyway, it was the past! Believe me, I am a far different person now. 😀 😀 😀

Hati yang terlatih adalah hati yang lapang.  Flexibility bicara tentang kemampuan menyesuaikan diri dengan keadaan, flexibility bicara tentang ketahanan, dan kekuatan. Flexibilty bicara tentang kapasitas yang lebih besar, lebih luas, lebih kuat. Dan begitu juga seharusnya dengan hati kita.

Firman Tuhan dalam 2 Korintus 6:13b…bunyinya..bukalah hatimu selebar-selebarnya.  Kita diperintah untuk membuka hati karena hati yang luas dan lapang akan mampu meresponi kejadian apapun dengan benar.  Meresponi dengan benar bicara tentang menyelesaikan persoalan dengan jalan Tuhan. Contohnya: meminta maaf duluan walaupun kita dalam posisi tidak bersalah. Bukan karena takut, tetapi itulah hukum kasih yang diajarkan Tuhan Yesus.

Jadi, marilah kita melatih hati dengan menghadapi setiap persoalan yang terjadi, walau kadang rasanya sakit, janganlah dienyahkan dengan menghindari dan mencari jalan pintas. Untuk menghadapi rasa sakit dan tidak enak, ikutlah Tuhan, karena Dia memberi kelegaan (Mazmur 119:32.. Aku akan mengikuti petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab Engkau melapangkan hatiku), latihlah menghadapi masalah sesuai dengan ajaranNya, bukan dengan keegoisan dan harga diri kita.

Sama seperti latihan otot dengan flexibility tadi, kita harus terus menerus melatih hati kita.  Firman Tuhan,   nasehat dan teguran dari orang tua, saudara, teman dan lain lain terkadang kedengarannya menyakitkan, tetapi sesungguhnya itulah latihan untuk kita.

Kita harus belajar menahan sakit, dan berusaha terus maju ke arah yang benar. Bila kita sudah terlatih, maka kita akan tahan dan kuat terhadap badai dan gelombang kehidupan.  Bila kita tidak mau menerima rasa sakit untuk berubah, maka jangan ragukan bahwa suatu hari penyesalan akan datang.

 

God bless you

TIPE ORANG-ORANG YANG HARUS DIHINDARI | GTHP1

Posted on Updated on

Senang sekali mendapat banyak respon dari para pembaca Gelap Terang Hitam Putih yang masuk melalui private message, luar biasa!! sungguh diluar ekspektasi dan  terima kasih yaaa…semuanya.

Banyak masukan, pertanyaan, dan sanggahan mengenai point2 tertentu. Dan dalam artikel hari ini, aku ingin membahas lebih jelas tentang point2 yang dipertanyakan, dan aku kategorikan menjadi 3 pertanyaan, antara lain:

  1. Mengapa orang baik tidak boleh bergaul dengan orang jahat.
  2. Mengapa orang Kristen tidak diperbolehkan menikah dengan orang non Kristen
  3. Orang Kristen itu fanatik?

Baiklah, aku akan berusaha mengulas pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi 3 blog terpisah (sebab ada pembaca yang memberi masukan supaya blog jangan dibuat terlalu panjang).

Markitmul (maksudnya mari kita mulai… 🙂 pertanyaan pertama…

1.    Mengapa orang baik tidak boleh bergaul dengan orang jahat.

Sebenarnya dalam artikel tersebut bukan mengelompokkan orang baik dan orang jahat. Tetapi lebih memfokuskan pada perbedaan-perbedaan extreme  dalam kelakuan dan kebiasaan rutin yang membuat hubungan tidak lancar atau tidak bisa dilakukan karena berbeda tujuan, kecuali salah satu pihak mau berkorban lebih supaya hubungan tersebut  tetap berlanjut, itulah sebabnya aku beri judul Gelap Terang Hitam Putih untuk mendramatisir  perbedaan tersebut.  So, bukan boleh atau tidak boleh, tapi harus dipertimbangkan lebih jauh tujuannya kemana.

Dalam ajaran Alkitab (1 Korintus 5:11) yang aku singgung di blog yang lalu, ada 6 jenis orang yang harus dihindari yaitu, orang cabul, kikir, penyembah berhala,  pemfitnah, pemabuk atau penipu

Tetapi berpendapat bahwa menghindari jangan bergaul bukan berarti mengkarantina diri kita terhadap golongan tersebut, tetapi  boleh berkomunikasi dan mengenal mereka, tanpa melibatkan mereka kedalam kehidupan pribadi. Jangan dijadikan teman karib yang dimana-mana kita selalu kelihatan bersama mereka.

Kamu pernah mendengar pepatah “berada di tempat dan waktu yang salah”? aku kasih illustrasi lagi yaa…salah satu pengalaman Ira dan Ani 🙂

Ira yang sudah semakin dekat hubungannya dengan Ani, semakin sering menghabiskan waktu bersamanya.  Ira menikmati tertawa bersama Ani, menikmati cablak-nya, banyolannya, walaupun seringkali kasar dan jorok. Mereka sering makan, nonton, shopping bersama .. dan sangat menikmatinya. Suatu hari, setelah hubungan mereka cukup dekat, Ani mulai  mengajak Ira ke Club, dengan alasan dengerin live musik. Semula Ira ragu-ragu, antara ya dan tidak karena dia menikmati waktu bersama Ani, sedangkan nuraninya menolak.  Tetapi seperti air menetesi batu, lama-kelamaan batupun bolong, akhirnya ajakan Ani berhasil.

Berangkatlah mereka berdua menuju klub langganan si Ani.  Disana, Ani memesan minuman beralkohol tinggi, istilahnya: buka botol dan  menawarkan ke Ira. Ira yang masih “hijau” tentu saja menolak dan memesan softdrink. Mereka duduk di sofa  dan menikmati hingar bingar dan dentuman musik yang menghentak. Ira sesekali merasa gelisah, ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Diperhatikannya Ani  minum-minum dan menertawainya. Hebat,  sampai isi botol habis,  dia masih belum pingsan namun bicaranya semakin melantur. Satu jam …. dua jam …tiga jam-pun berlalu… Ani sudah membuka botol ke 2, dan mulai berteriak memanggil2 rang-orang yang dikenalnya di Club itu… beberapa pria datang  menghampiri, memberinya cipika cipiki dan duduk disampingnya, memeluknya, dan memberinya sesuatu…. pil terlarang.

Ira kaget, dan berusaha mengatakan sesuatu untuk menghentikannya, tetapi dia tidak berani bertindak lebih jauh, Ani mulai lupa diri..dan Ira ketakutan…. dan tiba-tiba saja….. PRIIIIIITTTTTTT….. Sekelompok Polisi menerobos masuk dan melakukan razia dadakan.. dan kemudian sampai ke meja mereka… apa yang ditemukan? obat terlarang berserakan di sofa dan ada yang tanpa sengaja berada pangkuan Ira. Apa yang terjadi lagi? Ira akhirnya ikut diciduk bersama Ani dan para lelaki itu??? kabur… Apa yang terjadi lagi? Ani dan Ira meringkuk di tahanan…

Itulah yang kusebut sebagai berada ditempat yang salah pada waktu yang salah. Mungkin kamu akan menganggap aku berlebihan dan menertawakan apa yang kuilustrasikan diatas,  tetapi please…jangan anggap remeh masalah-masalah yang mengundang bahaya.

Aku ambil pemabuk sebagai perwakilan dari 6 karakter diatas, adalah karena mereka secara sadar merusak diri mereka sendiri, baik secara fisik maupun mental.  baca Alcohol: A Dangerous Enemy. (buat kamu yang kesulitan mengerti dalam bahasa Inggris, aku coba menerjemahkan dalam bahasa Indonesia di artikel berikutnya).

Sekian penjelasan singkat ini.  Aku akan bahas pertanyaan kedua di artikel berikutnya.

Semoga diberkati 🙂