BERKORBAN…

Posted on Updated on

Korban adalah sebuah kata yang bersifat negatif dan berbicara mengenai kerugian, tetapi pengorbanan berbicara tentang kerelaan. Rela berkorban demi sesuatu yang lebih baik dan layak diperjuangkan. Contohnya seorang ibu yang sedang meregang nyawa melawan rasa sakit pada proses melahirkan anaknya, atau  seorang pahlawan yang berjuang tanpa memperhitungkan nyawanya demi sebuah kemerdekaan, atau satu sosok yang rela menjalani penyaliban untuk menebus dosa manusia. Mereka adalah contoh orang-orang yang menderita atau mati demi suatu tujuan. Tapi kadang kala pengorbanan itu juga harus terjadi karena  perbuatan jahat.

Pada zaman kuno, kita membaca cerita tentang hewan atau bahkan manusia  dikorbankan kepada dewa-dewa demi satu tujuan tertentu.  Pengorbanan untuk bersyukur, menghormati para dewa, selalu ditandai dengan “curahan darah”. Dalam cerita rohani, ada Kain dan Habil yang mempersembahkan korban bakaran dari hasil pekerjaan mereka. Ada juga bapa Abraham yang akan mempersembahkan anaknya, Ishak. Tetapi zaman sekarang, pengorbanan yang terjadi bukanlah korban untuk dipersembahkan kepada dewa ataupun Tuhan, tetapi lebih ke hawa nafsu.  Keinginan yang telah menimbukan begitu banyak cerita kriminal yang menghiasi halaman berita, korban-korban yang bermunculan adalah korban pembunuhan, korban perkosaan, korban perampokan. Namun, ada satu yang luput dari perhatian, karena sifatnya yang tidak tampak yaitu korban fitnah.

Katanya Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Memang benar, karena isinya adalah kebohongan. Ketika ia datang menyerang tanpa tanda-tanda, otomatis pasti terasa sakit di hati, ingin membantah, tidak terima dan rasanya ingin segera membalas. Tetapi kita harus belajar mengontrol diri, mengontrol emosi. Pengalaman yang sangat tidak enak itu pernah terjadi padaku. Aku harus memutuskan dengan cepat, haruskah aku membalas fitnah yang pelaku-nya hanya 1-2 orang, tetapi yang menanggung akibat bisa jadi puluhan orang. Atau mendiamkan, sambil memulihkan sakit hati dan merelakannya. Dan waktu itu, aku memilih cara kedua. Mendiamkan, tidak melawan, aku bersedia menanggungnya walaupun tampaknya mustahil bagiku yang temperamen, tapi saat itu aku yakin di suatu masa yang akan datang, cepat atau lambat, kebenaran akan terungkap.

Pengorbanan  terkadang  harus  dilakukan demi kepentingan orang banyak. Apakah kerelaan untuk berkorban itu karena aku berbaik hati? Tidak. Bukan itu. Tapi pilihannya hanya itu jika aku mau hidup seturut jalan yang diajarkan oleh Tuhan. Terbukti kasihNya memampukanku untuk melepaskan kata maaf dan memaafkan.

Bila hari ini kamu mengalami fitnah yang kejam, diamkanlah dan berdoalah supaya Tuhan menolongmu melaluinya. Dengan itu kita melatih diri untuk berpikiran positif dan berhati tulus  terhadap sesama. Yang terpenting, tidak melanggar Firman Tuhan. AMIN.

Iklan