WALAUPUN AKU (keturunan) CINA, …

Posted on Updated on

INDONESIA ASLI1

Pernahkah kamu membayangkan sewaktu di surga, Tuhan memanggil dan memberitahumu bahwa kamu akan segera dilahirkan di dunia. Kemudian IA bertanya, “apakah ada permintaan khusus sebelum kamu dilahirkan?” (layaknya  permintaan terakhir sebelum meninggal). Lalu kamu menjawab, “Iya dong, Tuhan, mintanya dilahirkan di keluarga salah satu orang paling berpengaruh di dunia. Yang sering masuk majalah yaa. Tapi ga mau lahir sebagai cina ya, bule aja, Tuhan, minta mata berwarna biru dan berhidung mancung. Lahirnya di RS, jangan di jamban. Hahaha.. akan lucu sekali bila bisa seperti itu. Tapi ternyata tidak ada kejadian seperti itu. Kita semua lahir tanpa syarat, tanpa diminta, lahir dimana, jadi anak siapa, jadi suku bangsa apa, kita tidak minta semuanya itu. Kita lahir begitu saja, sebagai salah satu suku bangsa di dunia lengkap dengan ciri khas-nya. Sama sepertiku, aku tidak minta dilahirkan berdarah Cina. Tapi mau diapakan lagi? Kenyataannya aku berdarah Cina. Dan aku dilahirkan di Indonesia, menghirup udara Indonesia, makan makanan Indonesia, minum dari sumber air Indonesia, berpendidikan Indonesia, mencintai Indonesia dan bangga sebagai bangsa Indonesia. Jadi dalam hal ini, aku merasa sudah 99.99% asli Indonesia.

Sebagai anak yang lahir di zaman ORBA, aku pikir saat itu kurikulum pendidikan dasarnya cukup baik. Selain Membaca dan Berhitung, ada pelajaran Sejarah mengenai perjuangan bangsa. Ada pelajaran IPS yang menyatakan bahwa ciri bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah tamah, sopan santun, dan suka bergotong royong. Ada pelajaran PMP yaitu Pendidikan Moral Pancasila, yang sangat disayangkan kenapa dihapus, padahal pelajaran itu sangat penting untuk membentuk budi perkerti dan dasar sebagai nasionalis yang tahu GBHN (Garis Besar Haluan Negara) dan UUD (Undang Undang Dasar) 45, serta makna kebangsaan negara Indonesia  yang tercermin dari PANCASILA. Secara tidak langsung, pendidikan itu menumbuhkan benih nasionalisme dalam diri. Bangga ketika Indonesia merupakan  negara pemimpin di ASEAN, Bangga ketika pertandingan Bulu Tangkis piala Thomas Cup dimenangkan oleh Rudi Hartono dkk. Pokoknya Bangga sebagai bagian dari Bangsa Indonesia.

Selain pelajaran di sekolah, didikan di dalam keluarga yang sangat baik toleransi sosialnya juga kuterima. Jujur, zaman aku masih kecil, isu ras itu masih terasa. Secara umum, ada keengganan dari warga keturunan untuk bergaul dengan Indonesia asli, demikian juga sebaliknya.   Tetapi keadaannya berbeda di keluarga kami. Orangtua kami cukup berperan mengenalkan kami kepada keluarga-keluarga yang bukan keturunan cina. Ayah mempunyai relasi yang luas, ada karib-karibnya di militer dan kepolisian daerah. Jadi, bagi kami, main di Yonif militer (jika tidak salah ingat, yonif 121) bukan hal yang mengherankan. Disekolahpun, aku banyak bergaul dengan teman2 Indonesia asli dan beberapa keturunan India. Guru-guru disekolah sejak SMP juga sebagian besar adalah suku Batak. Aku juga masih ingat, pekerjaan ayah sebagai pemborong yang membutuhkan banyak bantuan tenaga kerja (kira-kira 60 orang multi ras pada waktu itu), tidak salah karena aku sering menghitung piring untuk makan siangnya mereka. Karena seringnya berinteraksi dengan multi ras,  kemampuan berbahasa Indonesia-ku menjadi sangat baik. Alhasil, nilai pelajaran bahasa Indonesia, baik membaca, menulis maupun mengarang, selalu mendapat nilai terbaik dibanding teman-teman yang masih tidak terbiasa berbahasa Indonesia (di Sumut, bahasa sehari-hari yang dipakai oleh warga keturunan Cina adalah bahasa Hokkian).  Jadi, isu ras pada saat itu tidak ada artinya bagiku, karena adanya hubungan dan interaksi yang baik di komunitas tempat aku bertumbuh.

Menjelang Pilpres 2014. Isu RAS ini kembali mencuat. Kalap dan saling serang yang tanpa batas norma antara kedua kubu Capres yang cukup mengejutkan,  karena sebelumnya belum pernah terjadi saling serang terbuka antara pendukung. Mungkin karena zaman demokrasi, ala Barat, semua orang menjadi bebas mengutarakan isi kepalanya meskipun tidak dalam kadar kesopanan dan kelayakan. Teror akan trauma masa lalu-pun mulai menghantui kalangan komunitas Cina dan Kristen.  Jujur, akupun merasa was-was.  Apa yang akan terjadi nanti? Siapa yang paling tepat yang harus kupilih?  Isu kerusuhan 1998 menjadi senjata handal membangkitkan trauma. Bicara mengenai kerusuhan, aku-pun masih ingat. Ketika itu hanya ada bayiku yang berusia 1,5 tahun, pembantu dan aku di rumah. Ditengah suasana yang mencekam, si Mbak pembantu memasang mukena-nya di pagar rumah sebagai pertanda agar rumah kami aman. Dia menyuruhku bersembunyi saja kalau ada yang datang.  Kalau dia mau, dia bisa saja meninggalkanku (makasih, mbak..dimanapun sekarang kamu berada). Pada saat yang bersamaan, di Sumatera Utara  di sepanjang jalan tempat orangtuaku tinggal, semua rumah dirampok dan dijarah sampai habis,  kecuali rumah orangtuaku tidak disentuh. Kenapa? Apakah karena ada tentara yang menjaga? TIDAK. Teman2 ayahku lagi ditugaskan ke tempat lain semua, dan hanya bisa menelpon dan menanyakan situasi. Apakah ada Polisi? TIDAK.  Ajaibnya rumah ayahku aman karena perintah seorang kepala preman. Kok Bisa? Karena ayah sering membantunya kalau dia lagi butuh uang, meskipun tidak jarang dia dimaki-maki dulu sebelum uangnya dikasih. (Gayanya ya mirip-mirip AHOK, tapi suaranya lebih berat dan besar  kalo bentak-bentak dan marah-marah kepada orang-orang yang dianggapnya ga becus). Kenapa yang lain dijarah? karena PELIT dan SOK ELIT. Selain itu, nenek, ibu, dan adik-adikku yang masih remaja, diungsikan pekerja-pekerja ayah ke desa mereka selama seminggu. Mengapa? Tidak lain karena mereka merasa diperhatikan sebagai karyawan dan berhutang budi karena diberi pekerjaan dan penghasilan yang baik.

Dari pengalaman ini semua, aku (termasuk semua saudara saudariku) belajar, untuk memanusiakan manusia, jauh sebelum aku mengenal Firman Tuhan di Kitab Galatia 5:14 (Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.)  Kami belajar untuk tidak membedakan suku, tidak membedakan kasta. Bahwa kami  harus berlaku baik dan sopan terhadap semua orang. Semua orang sama derajatnya (kecuali orang2 bebal dan yang semau gue, tidak ada etika hahaha). Percayalah, bahwa terkadang rasialisme itu terjadi adalah akibat sikap kita sendiri karena  menganggap diri sebagai kaum eksklusif. Tidak heran bila Cina dan Kristen sering dimusuhi karena sikap eksklusif tersebut. Sombong, sehingga menimbulkan kebencian.

Nuansa baru yang terjadi di kancah politik Indonesia dengan direkrutnya Ahok sebagai Wagub DKI membuat darah Cina-ku bergelora. Ahok yang sudah kami dengar namanya sejak bertahun-tahun yang lalu akhirnya nyampe di Ibukota. Ada harapan baru bahwa  ini zaman Indonesia Baru yang menunjukkan kesatuan.  Bahwa tidak akan ada lagi rasialisme. Tidak akan ada pengusiran warga keturunan cina kembali ke negeri Cina seperti kejadian pada tahun 1963 (kalau terjadi, aku harus kemana? tidak ada keluarga satupun disana, dan jujur, negeri Cina bukan merupakan negeri favoritku dan..shh..jangan bilang ayahku yaaa..haha). Bahwa tidak akan ada pemurnian agama, karena ideologi kita bukan negara agama (kalaupun terjadi, dan bangunan gereja tidak ada lagi, tidak akan berpengaruh karena iman kekristenan bukan ditentukan oleh bangunan, namun hubungan pribadi dengan Allah yang tidak bisa diganggu gugat). Tapi serangan isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan sumber dan kebenaran cerita sedikit banyak mempengaruhi ketentraman kaum minoritas sebagai pemilih. Namun aku juga yakin, kedua calon adalah putra terbaik Bangsa yang bersedia memimpin Bangsa Indonesia yang besar dengan berbagai ragam suku budaya dan masalah yang sering bikin pusing kepala ini. Tidak akan mudah, tapi aku bersyukur ada visi misi beliau berdua untuk memajukan Bangsa ( ayukk… berdoa untuk kesuksesannya.. aku ingin bangga lagi dong atas prestasi bangsa di masa yang akan datang.)

So, mari kita bersatu amankan Pilpres ini. Jangan rusuh, Jangan berperang. Marilah kita mengusung pilihan kita dengan hati yang benar dan dengan hati yang  besar. Namanya juga  politik, pastilah ada kepentingan-kepentingan dari jajaran orang-orang yang berkepentingan dibaliknya. Tugas kita hanya memilih. Karena menjadi Presiden adalah tugas yang sulit, maka selain visi misi, kita perlu mencermati kriteria-kriteria antara lain:

  1. Harus orang yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, bukan ajaran-ajaran klenik dll
  2. Harus bisa menjaga kesatuan NKRI, negeri dengan 13000 pulau dan ratusan budaya suku Bangsa.
  3. Harus mampu berpikir dan bertindak secara politis dan strategis.
  4. Harus punya pengalaman tergembleng oleh keadaan-keadaan kritis dan sulit.
  5. Harus bisa mengambil keputusan yang tepat pada saat darurat.
  6. Harus mampu menempatkan orang-orang yang tepat di posisi jabatan masing-masing di kabinetnya (menurutku ini sangat penting, karena katanya pemimpin sejati adalah pemimpin yang sukses menghasilkan pemimpin-pemimpin baru yang sukses).
  7. Harus mampu menenangkan rakyat
  8. Harus mampu memotivasi rakyat untuk maju.
  9. … (boleh kamu tambahkan dengan kriteriamu)

Inilah pemikiranku mengenai Indonesia sebagai bangsa Indonesia. Walaupun aku keturunan cina, aku adalah asli Indonesia. Semoga pemerintahan selanjutnya, tidak ada lagi orang-orang malas dan orang-orang bodoh. Tunjukkanlah bahwa Bangsa Indonesia adalah Bangsa yang berkarakter tinggi dan berkwalitas sehingga untuk bernilai tinggi di dunia International, bukan dikenal sebagai negeri sarang teroris sehingga bangsa lain takut untuk datang ke negeri kita. Semoga Tuhan menyertai kita semua.  Salam Indonesia Damai. MERDEKA!

 

 

 

 

 

Iklan

One thought on “WALAUPUN AKU (keturunan) CINA, …

    […] RSS ← WALAUPUN AKU (keturunan) CINA, … […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s