999.9

Posted on Updated on

Fine-Gold copy

Tidak banyak diantara kita sebagai anak Tuhan yang menyadari bahwa hidup kita sekonyong-konyong berada dibawah lampu sorot sejak kita memutuskan untuk menerima Kristus dan menjalani hidup kekristenan. Tanpa kita sadari, orang-orang disekitar memberikan standar khusus untuk label “Kristen” kita. Kita dituntut untuk selalu hidup benar, hidup suci, hidup kudus tanpa cacat cela. Anehnya, biasanya orang-orang tersebut adalah kelompok yang belum menerima Yesus Kristus. Mereka mengutip penggalan ayat-ayat Alkitab untuk menilai dan memojokkan apabila mendapati kita melakukan kesalahan. Misalnya seperti yang paling sering digunakan, tidak boleh membalas perlakuan yang kita terima kepada orang lain  “berikan pipi kiri setelah  pipi kanan ditampar”.  Mereka melihat bahwa hidup kekristenan adalah gaya hidup yang SEMPURNA dan suci seperti dewa.  Aku bahkan pernah menerima pernyataan2 dari beberapa orang yang belum percaya dan yang mengakui telah mempelajari 4 kitab suci berkata bahwa dari semua ajaran yang ada, ajaran kekristenan adalah ajaran yang paling benar, paling sempurna,  dan karena itu disimpulkan bahwa kekristenan adalah hal mustahil utk dipraktekkan dalam kehidupan.

SEMPURNA. Kata itu indah sekaligus mengerikan.Itulah standar yang dilabelkan kepada kita para anak Tuhan. Kita boleh saja protes dan berpikir perlakuan tersebut tidak adil, bagaimanapun juga kita hanya manusia. Tetapi, suka atau  tidak suka kita tetap harus menerimanya karena itupun merupakan panggilan kita. Selain itu juga merupakan  kehendak Bapa. Ada waktu-waktu kita merasa putus asa misalnya sewaktu kehilangan hikmat atau ketika menyadari bahwa betapa jauhnya kita dari harapan Allah Bapa. Kita menyandang kelemahan dan keinginan ini dan itu.  Jadi, apakah mereka benar? Bahwa kehidupan kekeristenan itu mustahil dijalankan? Bahwa kita tidak mungkin bisa? Haruskah kita menyerah? Bertahun-tahun yang lalu ketika aku disodori pertanyaan ini, aku tidak mampu menjawabnya. Tapi sekarang, setelah melalui banyak waktu berjalan bersama Tuhan, aku rasa sebagian jawabannya sudah kutemukan dan ingin kubagikan disini.

Pertama, cobalah mundur ke masa lalu dan cari jawaban mengapa kita bertobat dan menerima Yesus sebagai Juru Selamat? Mungkin waktu itu, kita hanya diberitahu bahwa Tuhan mengasihi kita dan menerima kita apa adanya, menerima sekotor atau senajis apapun keadaan kita pada saat itu. Dia menerima, memeluk, membersihkan, dan meletakkan kita di posisi yang seharusnya. Dia memberikan hadiah untuk memulai segala sesuatunya dari baru, yaitu kekudusan (kita dikuduskan oleh darahNya). Oleh karena itu, setiap petobat baru dikatakan  telah lahir baru, menjadi manusia baru, dan “kebaruan” itu menjadi titik awal untuk menjalani proses hidup bersama Tuhan dengan tunduk, taat dan setia. Bahwa sejak saat itu Kristus-lah yang mengambil alih kemudi kehidupan kita (Karena Yesus, aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku – Galatia 2:20a).

Adalah normal bila dalam perjalanan itu timbul keraguan dari dalam diri kita.  Ketika masalah muncul dan kita dituntut untuk taat, kita akan bertanya mengapa sulit sekali hidup bersama Yesus? Bukankah janjiNya  kita akan hidup senang bahagia bebas masalah? Mengapa pada waktu kita dirugikan dan disakiti,  kita harus menelan bulat2 keinginan untuk membalas hanya karena harus taat? Mengapa kita harus sempurna? Bukankah mereka yang diluar sanapun hidupnya baik-baik saja, bahkan ada yang jauh lebih baik malahan. Kalau begitu, ayo kita mundur lagi ke masa penciptaan… Bagaimana Tuhan menciptakan manusia? Standar seperti apa? Contoh seperti apa? (Tuhan menciptakan manusia menurut gambarNya.. Kejadian 1:27). Tidakkah itu berarti bahwa sebelum manusia jatuh ke jurang dosa, manusia itu kudus dan sempurna adanya. Jadi kita memang harus kembali, seperti itu lagi. Sempurna seperti pertama kali diciptakan.

Tuhan ingin menebus kekudusan yang sudah tercemar itu. Maka Dia merencanakan memberikan kesempatan kedua kepada manusia. Rencana itu diwujudkan dengan hadirNya Yesus Kristus dalam kehidupan kita. Melalui diriNya dan bersama diriNya, kita membangun roh sehingga diberikan kemampuan menjalani proses kehidupan yang “sukar” tersebut. Tujuannya? lagi-lagi untuk “menjadi serupa denganNya”,  lagi.  Kesempatan ini gratis, tetapi tidak semua orang mau. Bagai sales door to door, Tuhan mengetuk hati manusia, satu persatu supaya mengizinkanNya masuk. Kesempatan gratis ini menjadi kesempatan langka, karena  hanya sedikit orang yang terketuk dan membukakan pintu dan mengizinkannya masuk. Berbahagialah kita karena termasuk orang yang bersedia membukakan pintu dan menerimanya. Dan Tuhan memberikan balasan berupa modal yang mahal, berupa kuasa untuk mampu memilih dan menjalani hidup yang benar, untuk berhikmat dan menaklukan segala keinginan buruk yang ada didalam diri kita.

Memilih hidup yang benar untuk mencapai kesempurnaan,  bukan berarti kita hidup tanpa emosi dimana kita harus kelihatan senantiasa tegar dalam segala situasi, tidak boleh marah, tidak boleh menangis, tidak boleh terlihat terlalu bersenang-senang. Ataupun sebaliknya, bukan berarti sama dengan kita hidup aman-aman saja tanpa konflik, kudus dalam urusan seksual, atau memilih hidup selibat. Semua hal itu bukan inti dari hidup yang suci. Hidup suci hanya terjadi bila kita berada dibawah kendali Roh kudus dan kesadaran untuk menguasai diri sendiri dalam melawan hawa nafsu dan keinginan pribadi. Lawannya adalah lingkungan kita yang hiruk pikuk sebagai medan peperangan kita untuk membuktikan diri. Dalam hal hidup suci, aku malah membayangkan, rasanya  akan lebih mudah untuk hidup menyendiri, bertapa diatas gunung, hidup diluar akses yang menyajikan kenikmatan yang ditawarkan dunia.

Dan jangan membayangkan medan peperangan sebagai hidup dalam kekerasan. Peperangan yang kita hadapi bukan dalam rupa fisik. Ada sebuah cerita yang kontroversial yaitu dimana Yesus sebagai lambang KASIH ternyata bisa ngamuk juga. Yesus mengusir para pedagang dari Bait Allah ketika didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang  duduk di situ. Ia  mereka mengusir dengan cambuk, memporakporandakan dan membalikkan meja-meja. Uang penukar-penukar dihamburkanNya ke tanah (Yoh 2:14-22). Aku menangkap sebuah pesan yang berhubungan dengan kekudusan di dalam cerita ini. Sebagai manusia baru, otomatis hati kita menjadi  Bait Allah dimana Roh Kudus berdiam. Maka tidak heran ada saat-saat kita mengalami konflik batin, hati kacau balau, bahkan sewaktu  hanya memikirkan atau berniat buruk saja.  Itu karena Roh Kudus mulai mengingatkan dan menegur. Dia tidak akan sudi tinggal bersama-sama dengan roh-roh yang  jahat didalam hati kita.

Dari dasar itu, aku mengingat beberapa catatan dimana kita bisa mulai memilh yang mungkin bisa membantu untuk memudahkan kita menjalani hidup:

  1. Utamakan keluarga dan cintailah dengan sunguh-sungguh. Keluarga adalah teman terdekat kita sepanjang usia.
  2. Bagi para jomblo-er yang mencari pasangan, jangan buru-buru terikat dengan seseorang hanya karena tampangnya (umumnya bagi para  lelaki), atau hartanya (umumnya bagi para perempuan). Mintalah keberanian dan hikmat untuk membuat batas-batas yang melindungi kita dari godaan. Pertimbangkan dengan serius apakah orang tersebut membantu kita menumbuhkan iman, atau malah menjauhkan kita dari Tuhan. Pikirkanlah apa yang menjadi tujuan dari hubungan tersebut. Sia-sialah jika sebuah hubungan hanya demi kesenangan belaka. Sebaiknya, jika belum mapan, jangan buru-buru mencari pasangan hidup. Atau jika belum berniat niat dan tujuan berumah tangga, lebih baik tidak usah berpacaran dulu.
  3. Pilihlah teman-teman terdekat dengan orang-orang yang kuat secara rohani, tempat dimana kita dapat meminta saran, motivasi dan harapan yang diperlukan ketika sedang menghadapi persoalan. Sebaliknya, jadilah saudara yang menguatkan bagi yang lain ketika diperlukan.
  4. Jangan ragu untuk mengakhiri setiap hubungan yang tidak sehat dalam hidup kita,  contohnya teman yang mencoba menguasai kita dan memperlakukan kita tidak sepantasnya. Aku melihat dan mengalami ada beberapa type orang yang memperlakukan orang lain seperti suruhannya dimana temannya harus selalu menuruti kemauannya.
  5. Ketika berada dalam konflik, mintalah kebesaran hati untuk memaafkan bila tidak bersalah, dan kebesaran hati untuk meminta maaf apabila bersalah, baik secara sengaja maupun tidak. Minta tuntunan Roh Kudus supaya dapat merespon dengan benar dan menjaga batas-batas yang sehat untuk melindungi diri dari orang-orang yang tidak menunjukkan penyesalan atau perubahan perilakunya.
  6. Perlakukan tubuh dengan respek sebagai Bait Allah tempat Roh Kudus berdiam. Hiduplah dengan pola hidup yang sehat. Hormati dengan kekudusan secara seksual,  jagalah kesehatan dengan baik dan hindari hal-hal yang merugikan fisik apalagi dengan merokok, menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan terlarang.
  7. Pastikan untuk memiliki saat teduh setiap hari. Berusahalah berbicara denganNya kapanpun dan dimanapun disaat sedang sendirian. Kebiasaan ini akan membantu kita meletakkan hubungan dengan Allah diatas segalanya. Hubungan ini akan mempertajam roh sehinga mempermudah kita mendeteksi bilamana ada sesuatu yang “salah” dengan diri kita maupun di lingkungan kita. Jangan menjadi anak Tuhan yang hanya mengenakan “kostum” Kristen.
  8. Belajar penguasaan diri. Belajar membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Kita harus yakin bahwa Tuhan sudah memenuhi setiap kebutuhan kita. Kebutuhan adalah pangan, papan dan sandang. Bila ada keinginan yang belum tercapai, seperti ingin memiliki sesuatu yang belum mampu dicapai dengan kemampuan yang ada sekarang, menunggulah. Jangan berhutang untuk memiliki sesuai yang kurang penting/ tidak penting. Hindari  gaya hidup hedonisme bila tidak mampu sehingga terjerat dalam kesusahan akibat hutang.  Keinginan yang tercapai tanpa melibatkan kejahatan adalah bonus dari Tuhan.

Bukan ketidaksempurnaan kita yang dipandang Tuhan, Dia memandang sejauh mana kita mau berjalan dan berusaha menundukkan kelemahan kita dibawah kaki kita. Lihatlah Petrus yang temperamental, dia membuktikan kasihnya dengan bekerja mati-matian dalam pelayanan untuk menebus penyangkalannya. Lihatlah kehidupan Daud yang kacau balau,  Tuhan berkenan karena kejujurannya menyuarakan isi hatinya secara frontal, baik ataupun buruk, Daud tidak menyimpan kebusukan2nya, tapi dikatakan bahwa Tuhan mengasihi Daud melebihi siapapun.  Lihatlah Paulus dengan kedua  tangannya yang berlumuran darah orang percaya, Tuhan berkenan atas pertobatannya. Jika saja Yudas waktu itu berbalik tidak jadi menjual Yesus, akupun percaya Tuhan berkenan karena dia mengurungkan niatnya. Satu tips terakhir, pada saat kita mengeraskan hati untuk mengabaikan suara Tuhan dan mengikuti keinginan kita diluar kehendakNya, ingatlah pertanyaan Tuhan Yesus kepada Petrus, “apakah engkau mengasihi Aku?”. Tanyakanlah berulang-ulang pada diri sendiri, sebesar apa kita mengasihiNya.

Sebuah proses menuju kesempurnaan tidak pernah mudah, tapi teruslah berusaha sampai menang. Lihatlah emas murni batangan, diatasnya tercetak tulisan 999.99 Fine Gold.. Mengapa disebut sebagai Emas murni, padahal tidak dicetak angka 1000.00? Karena kemurniannya tidak bisa mencapai 100%. Mungkin kita sebagai manusia berdosa yang diberikan kesempatan kedua juga tidak akan pernah mencapai 100%. 100% murni, kudus, suci dan sempurna. Tapi bila kita mau taat dan mendengarkan dan menjalankan apa kataNya, aku yakin kita 100% berkenan bagiNya, sungguhpun nilai kita hanya mencapai 999.99.  Jadi, janganlah menyerah terhadap dunia. Mari kita bersama-sama bertanding sampai akhir. Bersinarlah!  Amin.

Dan kita semua mencerminkan kemuliaan  Tuhan  dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya,  dalam kemuliaan yang semakin besar. (2 Korintus 3:18)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s