PENDEWASAAN (Maturity)

Posted on Updated on

Pertama-tama, aku ingin mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2014. Semoga perjalanan kita di tahun 2014 ini dipenuhi dengan hikmat dan penyertaan Tuhan. Maafkan aku karena beberapa bulan terakhir tidak mampu mengatur waktu untuk menulis. Sebagai balasannya, aku membuat tulisan ini sebagai bahan renungan terutama bagi teman-teman yang bergereja dan terlibat dalam pelayanan. Karena seiring dengan pergerakan gereja kami yang semakin intens, dengan jumlah jemaat yang semakin bertambah, tahun ini tema pendewasaan kembali digulirkan. Dan dengan pergerakan intens tersebut, gereja harus membuat beberapa sistem dan peraturan yang diharapkan bisa membantu mengontrol kerapian dalam berjemaat, dan  terutama dalam kelompok-kelompok pelayanan. Bisa jadi sistem dan peraturan baru adalah penyaringan bagi kita. Seperti menyaring tepung, pasir dan batu tentu tidak akan lolos. Maaf beribu maaf bila tulisan ini akhirnya akan membuat beberapa orang merasa terhakimi, tersinggung atau sakit hati, tapi sekali lagi tujuanku bukan itu, karena aku sendiri bukan jenis orang yang gampang ditundukkan begitu saja dan sedang belajar utk menjadi lebih baik. Jadi mari kita bersama-sama merenungkan bagaimana seharusnya kita menanggapi dan menjalani setiap perubahan yang tidak biasa, yang kita anggap tidak nyaman, suatu perasaan yang mungkin menyebabkan kita memberontak dan timbul akar pahit. Alasan lainnya adalah sejak visi 2013 tentang pendewasaan dan pelipatgandaan (the year of Maturity dan Multiplication), ternyata  telah “menghengkangkan” bahkan beberapa orang yang aku kenal, hanya karena tidak mau menerima jenis makanan yang “keras”.

silakan disimak…

Pendewasaan berasal dari kata dewasa, yang menurut definisinya berarti:

  • cukup umur (bukan kanak-kanak atau remaja lagi)
  • cara berpikir dan bertindak sudah matang, mampu menguasai diri dengan baik, mampu menerima tanggungjawab yang lebih besar, mampu menerima konsekwensi atas tindakannya. .
  • alat reproduksinya sudah mulai berfungsi utuh.

Pendewasaan adalah sebuah proses atau cara untuk menjadi dewasa. Proses pendewasaan itu akan semakin dipercepat oleh munculnya bermacam-macam ujian dan tantangan.

Sebenarnya semua proses menuju pendewasaan tidak lepas dari kata “belajar”. Belajar berarti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu melalui latihan atau pengalaman. Coba bayangkan kembali masa ketika kita masih anak-anak, kita mengalami begitu banyak jatuh bangun ketika belajar hal-hal baru untuk pertama kalinya. Mungkin yang bisa kita ingat hanya sejauh sejak kita belajar membaca dan menulis, tetapi sebelum itu kita sudah melalui banyak hal dari mulai menelan makanan, merangkak,  berjalan,  bicara, berlari  sampai seluruh anggota tubuh dapat beroperasi dengan sempurna. Bukan hanya itu, kita juga belajar untuk taat pada perintah orangtua/guru. Kita belajar menerima konsekwensi bahwa ketika tidak taat, yang ada hanyalah rasa sakit. Seperti kita merasakan sakit ketika jatuh, ketika dihukum/diajar  oleh orangtua/guru kita, termasuk gaji dipotong apabila tidak masuk kerja. Semua pengalaman itu menjadikan kita dewasa, dewasa untuk tahu memilih mana yang baik dan mana yang harus dihindari.

Sejak aku menjadi seorang ibu, berbagai pelajaran tentang cara mengasuh dan mendidik anak kuamati dan kupelajari. Mulai dari orangtua yang cuek terhadap anaknya sampai yang over protective. Seperti yang pernah kusinggung dalam beberapa artikel sebelumnya, papa mendidik kami dengan cara yang unik, yaitu membekali dengan nilai-nilai yang harus kami sandang, tetapi tanpa pendampingan yang intensif. Kami diberikan tanggung jawab dan dilatih untuk mandiri, karena kedua orang tua kami sangat sibuk. Sejak SD aku sudah berangkat sekolah sendiri, diberikan uang untuk bayar uang sekolah sendiri (yang mana jumlahnya tentu terlalu besar untuk dibawa seorang anak kecil), mendaftarkan diri ke kursus-kursus sendiri, termasuk menyelesaikan konflik sendiri, semua dilakukan sendiri kecuali dalam hal mencari uang.  Terkadang timbul iri hati, terutama ketika orang tua dari teman datang ke sekolah hanya untuk memarahi guru karena anaknya diejek oleh anak lainnya. Betapa orang tua yang lain sangat membela anaknya untuk hal sepele. Dan bila ejekan terjadi pada diriku, dan aku ingin mendapatkan perhatian yang serupa, orangtuaku akan berkata,”biarkan saja orang mau bilang apa, tidak usah didengarkan”. Sekarang aku tahu bahwa  tidak menghiraukan ejekan negatif termasuk salah satu cara pendewasaan. Jangan sedikit-sedikit mengadu dan menjadi anak manja. Setelah dewasa, aku mengetahui kebanyakan orang dewasa yang tidak mampu bertanggungjawab bahkan kepada dirinya sendiri ternyata dibesarkan dengan pola dimanjakan. Berbeda dengan pola didikan yang kuterima, alhasil, aku tumbuh menjadi anak yang bermental kuat dan keras hati sebelum kenal Tuhan.

Lahir sebagai manusia, menjadi dewasa secara fisik dan pikiran saja tidak cukup. Untuk menjadi utuh, kita juga harus dewasa secara rohani. Inilah bagian dari pelajaran yang tersulit. Karena dalam hal kerohanian, rata-rata kita baru benar-benar bertemu dengan hadiratNya ketika usia kita sudah beranjak dewasa.  Usia dimana pola asuh dari orang tua dan lingkungan semasa anak-anak telah terbentuk dan melekat menjadi kebiasaan dan karakter. Sehingga secara tidak sadar, kita menuntut perlakuan yang sama ketika mengalami proses untuk menjadi dewasa dalam hal rohani. Bila pada masa anak-anak kita tidak berani memprotes peraturan-peraturan yang ditetapkan, pada usia dewasa akan berbeda karena kita sudah bebas menentukan pilihan.

Satu hal lain yang sering membuat rohani mandeg alias tidak tumbuh adalah ketika membuat kita membuat hitung-hitungan dengan Tuhan. Kita berhitung sebagai jemaat sebuah gereja, yang merasa memberikan telah persembahan yang besar, merasa memberikan pelayanan gratis, sehingga merasa layak untuk diperlakukan spesial. Kita menganggap bahwa gereja adalah bentuk kasih dari Tuhan. Bila ditempat lain kita bisa menerima ganjaran atas perbuatan kita, melanggar hukum dan menerima hukuman, tetapi untuk gereja? no no no… gereja adalah transformasi bentuk kasih Kristus sehingga sudah seharusnya memperlakukan dan mengayomi kita dengan lemah lembut dan penuh kasih sehingga harus menuruti kemauan kita. I love you full gitu loh… Hellooo..??? Tidak, saudaraku… Gereja adalah komunitas tempat kita belajar tentang Firman dan KasihNya dan cara-cara untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan kita. Mengaplikasikan Firman Tuhan sehingga menjadi hidup dalam kehidupan kita itulah namanya pengalaman. Disitulah prosesnya terjadi yang menentukan level kedewasaan kita naik, apabila kita mampu melaluinya.

Sungguh disayangkan bahwa pada kenyataannya,  sifat seperti anak-anak yang maunya hanya diberikan susu, yang merengek minta kemauannya dituruti, tidak mau belajar hal baru kecuali dengan rayuan yang intensif persis seperti anak kecil justru muncul dari orang-orang yang sudah lama bergereja. Umur rohaniku termasuk muda (sejak tahun 2000), dan aku heran dengan tanggapan orang-orang yang lebih hafal ayat-ayat Alkitab, lebih lama bergereja, lebih lama pelayanan,  akhirnya memilih berhenti dan hengkang gara-gara tidak dapat menerima sistem operasional yang baru. Bukannya menjadi teladan bagi yang muda dan jiwa-jiwa baru, malahan menyebar akar kepahitan dimana-mana.  

Tetapi jangan karena tulisannya ini kubuat berarti aku ini senantiasa menurut dan taat pada  setiap pembaharuan sistem atau peraturan. Akupun dalam kedaginganku tidak jarang memprotes dan ngomel-ngomel duluan.  Membaca atau mendengar peraturan hanya mengerti bunyi kalimatnya tanpa mencari maknanya. Tetapi sebelum berlarut-larut, I’ll be right on track, aku akan kembali melakukan apa yang seharusnya dilakukan, yaitu mempelajari, mencerna, mencocokkan dengan Firman Tuhan dan jalur laju dari visi gereja. Mengapa? karena aku mau belajar dewasa dan benar-benar terlibat dalam Kerajaan Allah dengan nilai yang utuh yang dilakukan dengan hati yang tindakan yang benar. Dan satu hal yang penting, aku tidak mau tertinggal. Mengapa? Sebab gereja dengan  slogan “we are on the move” berarti senantiasa bergerak maju menuju visi Tuhan, dan  tidak ada waktu bermalas-malasan.  Lalu mengapa kita semua tidak mau bersama-sama mengejarnya? Bukankah kita semua makan dari sumber yang sama? Alkitab yang sama? jenis makanan yang sama? porsi yang sama?

Sungguh dari hatiku aku ingin berkata kepada semua orang, dimanapun gerejamu berada, stay with its vision and collaborate with the mission. Peganglah visi rumah kedua-mu dengan iman yang teguh. Tentukan prioritas dalam hidupmu, apakah kamu telah mengorbankan waktu yang seharusnya dipanggil untuk melayani untuk hal yang kurang penting. Misalnya: minta off pelayanan gara-gara diajak jalan-jalan ke mall. Sungguh, harganya tidak pantas. Aturlah waktumu dan hidupmu dengan baik. Ingat, yang kumaksudkan bukan mengutamakan pelayanan lebih dari kewajiban dasar. Tanyalah pada pendetamu atau guru/mentor rohanimu, apakah benar membiarkan keluarga terlantar kelaparan karena mengutamakan pelayanan daripada memenuhi kewajiban utama seperti menafkahi keluarga. Prioritaskan sesuai dengan urutan kepentingan yang mempunyai nilai. Ingatlah bahwa dewasa berarti cara berpikir dan  bertindak sudah matang, mampu menguasai diri dengan baik, mampu menerima tanggung jawab yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak. Dewasalah… 

Ibrani 12:10-11 Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai  kepada mereka yang dilatih olehnya.

12:14-15 Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh. Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah,  agar jangan tumbuh akar  yang pahit  yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.

Ingatlah bahwa pelayanan itu bersifat sukarela (volunteer). Meskipun begitu, kita tetap harus berkomitmen dalam menjalankannya. Jangan semata-mata tidak dibayar, maka boleh semau gue. Jangan karena tidak diupah, maka seenaknya keluar masuk.  Ingatlah bahwa Pelayanan bukanlah untuk mencari upah. Pelayanan bukan karena tidak ada kerjaan. Pelayanan bukan untuk mengisi kekosongan hati karena itu adalah tempatnya Tuhan. Jadi dewasalah, apalagi bagi yang sudah lama melayani. Jangan berhenti karena peraturan berganti. Jangan berhenti karena pemimpin berganti. Jangan berhenti karena tidak sesuai di hati. Boleh marah, boleh tidak setuju, tetapi secepatnya kembalikan semua pada pusatnya, check ke dalam diri sendiri, check hati, berdoa dengan rendah hati minta hikmat, namun pleaseee jangan berhenti,,,

Mazmur 84:7 Mereka berjalan makin lama makin kuat,  hendak menghadap Allah di Sion.

spiritual Maturity

Pengalamanku yang bisa dijadikan catatan:

  • ps. Mazmur 84:7 adalah ayat yang sangat memberkatiku, ketika suatu saat beberapa tahun yang lalu, aku kelelahan dan ingin berhenti karena suatu sebab eksternal. Ketika ayat ini dibagikan  dalam suatu kesaksian dalam CG  oleh penilikku Bapak Hadi Wijaya. Seketika itu, aku memutuskan untuk terus berjalan.
  • Tiap kebijakan baru  yang kurasakan tidak sesuai dan belum mampu kupahami, aku selalu membawanya ke para pemimpin rohaniku. Pemimpin rohani bisa berupa siapapun yang levelnya lebih tinggi dari kita. Dan mereka selalu menanggapi protesku dengan ,”nunut saja.. ikuti saja..”. Membuatku berpikir bila orang2 yang berpendidikan jauh lebih tinggi dariku, jauh lebih pintar dariku, mampu menundukkan diri, kenapa aku tidak?

Semoga memberkati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s