HIDUP INI TIDAK ADIL?

Posted on

Kita tentu menyadari bahwa Senang dan Susah bagaikan dua sisi koin yang bergantian terbolak-balik dalam hidup kita. Kadang-kadang Senang diatas, kadang-kadang Susah diatas. Ketika sisi Senang berada diatas dan hidup semulus permukaan puding, kita tidak pernah berkeberatan dengannya.

Lifes-Not-Fair-Photo

Tetapi, ketika sisi Susah mengambil alih, reaksi kita akan berbeda. Seakan tidak sabar untuk segera membalikkan keadaan, kita mulai mengerahkan seluruh kekuatan yang ada dan berusaha mengubahnya. Dan bila  tidak berhasil, maka kita akan mulai komplain,  menangis dan berteriak “TIDAK ADIL”. Berulang-ulang pertanyaan kenapa kita harus mengalaminya, kenapa bukan orang lain? Mulailah kita menghakimi orang lain yang menurut penilaian kita, lebih pantas menerimanya. Dan menyalahkan keadaan, apapun yang bisa disalahkan.

Bila kita mengaku sebagai orang Kristen yang telah ditebus oleh darah Yesus, maka pertanyaan “Mengapa kita sulit bertahan dalam “kesusahan?” adalah wajar dipertanyakan. Sebelum memilih mengikuti Yesus, sepertinya banyak orang yang terjebak dengan slogan: Ikutlah Tuhan, maka hidup akan bebas dari masalah.  Sehingga  Yesus diterima dengan motivasi untuk membebaskan masalah. Hal itu menjadi dasar yang sangat lemah terhadap Keselamatan. Keselamatan yang ditawarkan Yesus diterjemahkan dengan salah, bahwa “hidup akan mulus-mulus dan bahagia selamanya”. Benarkah? SALAH BESAR! Apa buktinya?

Yesus memberikan perumpamaan tentang 2 rumah, yang satu dibangun diatas batu karang, lainnya dibangun diatas pasir. Lalu, datanglah angin badai yang kencang bertiup, rumah yang diatas batu karang tetap berdiri kokoh, sedangkan  rumah yang berada diatas pasir hancur dan berterbangan kemana-mana. Apa artinya? Artinya, dalam hidup tidak selalu cerah, BADAI  akan datang sewaktu-waktu,  ke rumah siapapun   (Matius 7).

Itulah yang dijelaskan Yesus kepada kita, bahwa IMAN kepadaNya adalah dasar batu karang bagi kita. Sehingga,  ketika badai datang, kita akan tetap kuat berdiri sampai badai itu reda. Bagaimana bila kita tidak kuat? Maka lihatlah Ayub.  Jika masih kurang, lihatlah Yesus ketika disalib. Lihatlah apa yang telah dilakukan Ayub dan Yesus sehingga layak diperlakukan demikian. Adilkah?

Jadi, kesusahan datang kepada kita, tidak selalu berarti tidak adil. Dan sebagai umat, kita semestinya percaya bahwa ada rencana yang indah dibalik setiap kesulitan yang kita alami. Mungkin kamu meragukan apakah aku pernah mengalami kesusahan berat. Atau, mungkin bertanya apakah mudah bagiku untuk bertahan ketika dalam kesusahan? Jujur tidak. Tidak ada yang mudah dalam bertahan. Rasanya seperti menerima pukulan terus menerus dan menahan sakit dan memar-memar,  namun harus tetap berdiri tegak.  Satu hal yang kuingat selalu ketika dalam kesusahan adalah janji Tuhan, bahwa semuanya akan baik-baik saja., bahwa keselamatan abadi ada disana.  Itulah senjataku untuk bertahan.

Berbicara soal adil tidak adil juga sering melibatkan tentang keinginan. Contohnya seperti anak kecil yang menginginkan mainan yang bagus, dan bila tidak diperolehnya, maka ia akan merasa diberlakukan tidak adil.

Tetapi hidup sebagai orang dewasa, tidak semestinya kita berperilaku seperti anak kecil. Sadarilah bahwa ada yang mengatur hidup kita. Oleh Dia yang  yang terlebih dahulu mengetahui apa yang kita butuhkan sebelum keinginan kita tercapai.  Dan memang sudah seharusnya kita mengutamakan kebutuhan daripada keinginan. Primer diatas sekunder. Tetapi gaya hidup kita sekarang berjalan terbalik, memenuhi keinginan menjadi lebih diutamakan.  Ada pepatah,” ada banyak orang yang menjadi miskin, karena hendak kelihatan kaya”.   Atau, gaya hidup kumpul kebo dulu, baru menikah. Hal-hal yang berjalan tidak seperti seharusnya itulah yang sering membawa kita menuju “kesusahan'”.

ADIL

Jadi, Jika kita berada dalam kesusahan akibat ngotot untuk memenuhi keinginan, itu bukan tidak adil namanya. itu BODOH. Kesimpulannya, Adil adalah bila kita mendapatkan apa yang kita butuhkan.  Artinya, kesusahan yang dialamipun merupakan salah satu bentuk keadilan. Mengapa? Karena disitulah Tuhan membentuk kita menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Untuk apa? Untuk menerima rencanaNya yang lebih besar lagi dalam hidup kita. Amin.

Semoga memberkati 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s