JANGAN KELEWAT BATAS

Posted on Updated on

Untitled-2

Propaganda bertemakan “FREE YOURSELF”, “DON”T LIMIT YOURSELF” dan sejenisnya telah sangat mempengaruhi pola berpikir manusia masa kini, sehingga batasan batasan penting yang semula dibuat dan ditujukan demi kebaikan pun banyak yang ditinggalkan dan terlupakan begitu saja. Batasan-batasan telah terlupakan karena manusia telah menganggap halal segala cara supaya tujuannya tercapai. Tanpa mempedulikan apakah yang dilanggar adalah hak orang lain, maupun  yang dilanggar adalah perbuatan dosa.  Perbuatan-perbuatan kelewat batas banyak ditemui mulai dari hal yang sepele misalnya menipu teman sendiri sampai hasutan untuk mengadakan kerusuhan atas dasar kepentingan pribadi  sehingga tujuan dapat tercapai. Apapun itu, perbuatan kelewat batas selalu dimulai dari kehilangan kontrol diri atau  tidak bisa menguasai diri.

Batas, pembatasan dan dibatasi acap membuat kita jengkel bahkan frustasi. Tetapi untuk hidup  sebagai manusia beradab dan tahu aturan,  mau tidak mau kita harus berdampingan dengannya. Kita memang harus diatur karena kita memiliki kecenderungan melewati batas, karena rasa keingintahuan, mungkin karena kita diciptakan sebagai makhluk terpintar didunia.

Keingintahuan yang dibatasi itulah yang  memicu  pemberontakan dan menimbulkan gerakan-gerakan menuntut hak kebebasan, contoh gerakan HAM, gerakan kebebasan pers pada zaman orde baru,  yang contohnya bisa dilihat sekarang di negara kita,  betapa dunia media sangat bebas menampilkan apapun yang mereka inginkan bahkan sering tanpa rambu apakah sajian tersebut pantas ditonton oleh usia dan segmen tertentu, karena siapapun bisa mengakses apapun yang disodorkan.

Bukankah kita sering  lupa menyadari bahwa  batasan pasti dibuat bukan tanpa alasan. Bahwa batasan dibuat untuk menciptakan keadaan yang teratur, aman dan damai. Bahwa batasan dibuat supaya kehidupan tidak kacau balau. Selain batasan-batasan baku sepeti yang disebutkan dalam hukum taurat dan injil, adalah normal bahwa ada beberapa batasan yang tidak baku namun berkembang dan  mengalami pergeseran, sesuai dengan dengan tingkat kepentingan dan pengetahuan yang bersangkutan dan orang-orang yang terlibat didalamnya.  Misalnya: batasan pada saat anak-anak yang diwarisi dari didikan keluarga akan mengalami pergeseran pada saat ia menjadi dewasa, ketika ia mendapat pengertian serta  pengetahuan yang cukup, ia akan memilah dan membuat keputusan apakah batasan itu masih perlu, ataukah perlu diperketat lagi, atau dilonggarkan atau ditiadakan. Atau, apakah perlu membuat batasan-batasan baru untuk hidupnya. Apapun batasannya, itu dibuat supaya tidak dilanggar. Melanggar batasan selalu menuai resiko yang harus dibayar.

Suatu ketika, ada seorang pemuda yang  sangat pandai berenang sedang berada di sebuah pantai  yang sangat indah. Sembari menikmati pemandangan pantai, tiba-tiba pandangan matanya terhenti pada sejalur garis kuning panjang di kejauhan, mengapung-ngapung  di di atas permukaan air.  Rasa ingin tau membuatnya bertanya, mengapa di pantai dan laut yang kelihatan tenang ini dipasang garis batas pengamanan, padahal tidak terlihat ombak yang menghantam-hantam ataupun batu-batu karang yang tajam.  Sekilas ia melihat ada papan peringatan tanda BAHAYA untuk tidak berenang diluar garis kuning tersebut.

Rasa penasaran ditambah dengan keahliannya berenang, membuatnya merasa bahwa ia akan sanggup menguasai keadaan bila tiba-tiba ada ancaman bahaya. Maka berenanglah ia menuju garis batas tersebut. Karena kesukaannya berenang, sekejap saja ia telah lupa dengan ancaman bahaya tersebut, dan laut diluar sana semakin menggodanya.

Setelah sampai digaris batas, ia  mendorong tubuhnya keatas dengan kedua tangan bertumpu pada pelampung pembatas, dan  dengan sigap meloncat kembali kedalam lautan diluar pembatas itu. Air yang sejuk dan suasana yang hening membuatnya benar-benar nyaman. Ia tertawa dalam pikirannya, mana bahayanya? Tidak terlihat apapun disini, tidak ada ombak, tidak ada sirip ikan hiu yang mondar mandir.  Terlena, dia melanjutkan renangnya makin jauh ke tengah lautan.

Sembari menikmati lautan, tiba-tiba, ia merasakan arus yang sangat kuat menariknya ke bawah. Arus itu menarik dirinya dan ia melakukan perlawanan. Namun, arus itu sangatlah kuat dan terasa semakin lama semakin kuat. Tenaganya terkuras dan ia mulai panik. Akhirnya ia-pun pasrah dan tenggelamlah ia.

Esok harinya, seorang nelayan menemukan sesosok mayat yang terdampar di pantai yang lain. Ternyata pemuda itulah korbannya. Pertanyaannya: Mengapa pemuda itu mati? Apakah karena lautan yang kejam? atau karena keputusannya melewati garis batas?

Itu hanya sekedar ilustrasi untuk menggambarkan bagaimana kita tertimpa masalah ketika kita melanggar garis batas. Dan tidak jarang, kita mencari kambing hitam atas masalah yang kita alami. Ketika masalah muncul, bukankah pertanyaan pertama yang muncul adalah salah siapa?  salah dimana? Jawaban pertama hampir tidak pernah ditujukan kepada diri sendiri.  Hampir selalu menyalahkan keadaan,  menyalahkan orang lain sebagai penyebabnya. Seharusnya kita introspeksi terhadap diri sendiri  terlebih dahulu, apa yang telah kita lakukan sehingga timbul masalah itu.

Ada 2 penyebab masalah dalam hidup kita:

  1. Hal yang terjadi karena kesalahan/ keteledoran kita (contohnya pemuda tadi).
  2. Hal yang terjadi akibat imbas dari keadaan atau  perbuatan orang lain (contohnya terluka parah karena huru hara massal).

Pemimpin rohaniku mengajarkan, bila yang terjadi adalah akibat perbuatan orang lain, maka kita harus bersabar. Bila yang terjadi adalah bersumber pada diri kita sendiri, maka haruslah kita mohon ampun dan segera bertobat, bukan dengan menyalahkan pihak-pihak yang bisa disalahkan, atau malah berdoa minta diluputkan.

Aku pernah mengenal seseorang yang kelihatannya baik secara rohani dan jasmani. Setelah beberapa saat, terbongkarlah latar belakangnya, dimana dia sama sekali bukan seperti yang sering dia ceritakan. Dia banyak berbohong dan memanipulasi teman-temannya mengenai banyak hal.  Sewaktu terbongkar, dia tidak mau mengakui satu halpun, dan bahkan berkata tentang Tuhan Tuhan dan Tuhan.  Dia menyalahkan orang lain sebagai penyebab dia berbohong, dia menyalahkan orang lain yang dianggapnya telah mencemari dirinya sehingga dia melakukan perbuatan itu. Mengetahui hal itu, teman-temannya sangat kecewa dan memilih meninggalkan dirinya karena dianggap dia telah melewati batas.

Seandainya saat itu dia minta maaf secara tulus kepada teman-temannya, mungkin mereka masih bisa berteman. Tetapi dia membalas dengan ungkapan-ungkapan rohani  seakan-akan dia adalah korban, sehingga teman-temannya menjadi muak dengannya.

So, kembali ke garis batas, kita harus belajar membatasi diri, dalam arti menguasai diri. Karena kelewat batas sama saja dengan tidak bisa menguasai diri, sehingga perbuatan-perbuatan jahat dan tidak berguna merasuk dan mengkonsumsi jiwa dan pikiran kita. Jangan sampai itu terjadi.

Terhadap batasan-batasan yang ditentukan dalam kerohanianpun sama. Pelajarilah dan lakukanlah. Alkitab menjabarkan secara lengkap untuk menuntun hidup kita, bahkan mulai dari pola makan-pun ada didalamnya.

Hidup dalam batasan tidaklah menjemukan seperti yang orang-orang pikirkan. Seperti pemuda itu, jika dia berenang di dalam batasan, dia tidak harus berenang dengan gaya bebas saja kan? Masih banyak gaya yang lain, bisa juga diving, atau apalah. Selama kita kreatif, hidup dalam batasan tidak akan menjemukan. Cobalah untuk tidak melewati garis batas hanya karena ingin mencicipi hal-hal yang tidak pernah kita rasakan. Jangan! karena kita akan terbawa arus dan.. mati…

Saat kita diselamatkanNya, secara tidak langsung kita sudah terikat dengan peraturan yang ditetapkanNya dalam hidup  kita.

1 Tes 2:12 …

supaya kamu hidup sesuai  dengan kehendak Allah

yang memanggil kamu ke dalam

Kerajaan dan kemuliaan-Nya.

Jika saat ini hidupmu bermasalah, Cobalah check :

  • Menderita penyakit komplikasi (jantung, kolesterol tinggi, asam urat, diabetes, darah tinggi dll)?  cobalah check asupan makanan yang dikonsumsi setiap hari, cari tahu dan batasilah diri untuk mengkonsumsi makanan yang dilarang. Jangan menyalahkan istri, pembantu atau tukang masak yang menyediakan makanan tersebut.
  • Menderita penyakit menular seksual? Check diri apakah pernah berhubungan intim dengan orang lain selain pasangan resmi. Jangan menyalahkan pasangan sebelum intropeksi diri, dan jangan menyalahkan orang lain yang menginfeksi kamu dengan penyakit itu.
  • Punya banyak hutang? Check gaya hidup, apakah banyak pengeluaran yang tidak penting.
  • Usaha tidak maju-maju atau tidak mendapatkan promosi jabatan atau tidak naik kelas? Check apakah sudah sungguh-sungguh melakukan pekerjaan dengan baik dan bertanggungjawab. Jangan menyalahkan orang lain telah menjegal langkahmu supaya tidak bisa maju.
  • Ditinggalkan pasangan hidup, pacar, teman? Check apakah kita punya sifat-sifat yang menyebalkan atau  atau gaya hidup yang tidak baik?

Keluar batas selalu menuntut harga. Bahkan hal kecil seperti Kartu Kredit yang dipakai over limit-pun akan dikenakan denda.

Banyak orang melakukan kebodohan karena

tidak tahu cara membatasi diri.  

Membatasi diri  tidak akan membuat kita terbatas,

karena dengan membatasi diri artinya kita menjaga

tetap fokus dengan tujuan,

sehingga bisa mencapai hasil yang tidak terbatas.

Semoga memberkati. GBU^^

Iklan

2 thoughts on “JANGAN KELEWAT BATAS

    Paulus Trimanto Wibowo said:
    April 23, 2013 pukul 9:34 am

    Terima Kasih untuk sharingnya. TUHAN memberkati.

    Suka

      Juely responded:
      April 23, 2013 pukul 12:20 pm

      @Paulus TW : sama-sama 🙂
      JLU :))

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s