TULUS atau BULUS?

Posted on

Mengapa sukar melakukan perbuatan dengan ketulusan hati di dunia ini?

sincerity 

Di  salah satu artikelku yang lalu,  aku pernah menyebutkan bahwa sewaktu aku masih usia sekolah, aku suka sekali duduk bersama orang-orang tua  dan mendengarkan cerita dari mereka. Nah, suatu hari dimasa itu, ada seorang engkong (kakek) bercerita, bahwa ia masih bisa hidup tenang di masa tuanya dan termasuk bahagia  karena ia masih mempunyai banyak harta yang belum diwariskan. Pada usiaku yang masih sangat muda di saat itu, aku kurang memahami apa maksudnya.  Ia mengatakan,  bahwa waktu ia sakit dan perlu mendapatkan perawatan yang cukup lama, dia mendapatkan perhatian dan pelayanan penuh dari seluruh anggota keluarganya, yaitu anak-anaknya, menantu-menantunya sampai kepada cucu-cucunya. Semua berlomba-lomba melayaninya.

Di lain kesempatan,  seorang engkong (kakek) lainnya mengatakan hal yang serupa tapi tak sama. Engkong satu ini tidak mempunyai banyak harta yang tersisa karena sudah membagikan warisan kepada anak-anaknya beberapa tahun sebelumnya.  Dan ketika ia sakit, tak ada satupun dari anak-mantu-cucu yang sungguh-sungguh memberikan perhatian kepadanya.  Mereka hanya menyediakan seorang suster  untuk mengurusi semua kebutuhannya. Bahkan ketika ia dijenguk, cucu-cucunya tidak diperbolehkan mendekat kepadanya  seolah-olah ia adalah orang tua uzur yang menjijikkan.

Dua cerita diatas membuatku gusar. Bukankah melayani dan memberi perhatian kepada anggota keluarga  yang sakit, apalagi kepada orang tua adalah wajib hukumnya? Mengapa harta kok bisa-bisanya  ikut campur dalam hal ini?

Sekarang aku menyadari, bahwa kejadian tersebut sudah merupakan hal yang dianggap “wajar” karena manusia telah meletakkan materi diatas segalanya. Segala perbuatan  dilakukan menurut ukuran materi  yang akan diterima. Masih mampukah kita menolong dengan kasih yang berasal dari dasar jiwa? (I Yohanes 5: 19 … kita tahu kita berasal dari Allah, dan  seluruh dunia berada dibawah kuasa si jahat…)

Tanpa bermaksud menghakimi, aku melihat fenomena yang sama dari cara manusia memperlakukan Tuhan. Tidak jarang seseorang bertobat, beribadah dan rajin bersembahyang  hanya  untuk dilancarkan rezekinya. Motivasinya beribadah kepada Tuhan bukan lagi karena kita adalah ciptaanNya dan Dia yang berkuasa penuh atas hidup kita, bukan lagi karena kasih yang menebus segala dosa dan menjadikan kita manusia yang baru, bukan lagi  kewajiban karena tertulis di hukum Taurat urutan pertama,  tetapi karena ada udang dibalik batu, ada keinginan tersembunyi.

Kita bisa melakukan uji motivasi pada diri kita sendiri, biasanya yang paling besar efeknya adalah di bagian perekonomian/ materi. Jika motivasi kita  hanya mencari materi dalam hal ketuhanan, kita akan merasa sangat menderita ketika kehilangan sedikit harta, apalagi kalau banyak. Kita akan meronta terus, dan merengek-rengek terus sama Tuhan supaya  harta itu kembali, bahkan tak jarang  sampai berpuasa untuk itu. Semua kebaikan yang Tuhan pernah berikan dalam hidup kita seolah-olah terlupakan, begitu banyaknya sehingga sulit diingat.

Ingatlah bahwa ada 3 dasar utama yang membawahi keseluruhan hidup kita untuk mencapai hidup sebagai manusia yang utuh, yaitu:

  • Mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi, artinya dengan apapun juga yang kita miliki, termasuk kepintaran, logika dan rasionalisme kita, apapun itu walaupun apa yang terjadi tidak dapat diterima secara rasional, hukumnya tetap, yaitu mengasihi Dia. Orang yang tidak mengasihi Tuhan akan hidup terkutuk (I Korintus 6:22). Aku menyaksikan orang-orang yang ber-intelegensia tinggi, yang bilamana intelektualitasnya  digunakan untuk berkarir secara profesional,  aku super yakin mereka akan menjadi orang-orang yang berada diperingkat atas, mereka adalah orang-orang yang akan digaji tinggi. Tetapi, mereka memilih melayani di ladang Tuhan, dan mengeyampingkan apa yang menjadi cita-cita mereka. Dan buktinya, hidup mereka baik-baik saja, bahkan sangat baik, Tuhan angkat mereka, jauh tinggi walaupun bukan di dunia bisnis/profesi.  Ketulusan selalu berbuahkan kebaikan.
  • Mengasihi dan menghormati kedua orang tua kita, tanpa peduli apapun yang mereka miliki. Sebab ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi (Efesus 6:2-3). Tidak dikatakan kita harus menghormati untuk dapat warisan harta dari orang tua.  Bukan harta materi, tapi kebahagiaan dan umur panjang. Bukankah kedua hal tersebut yang paling dicari semua orang?
  • Mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri (Matius 19:19). Inilah artinya  ketulusan.  Siapa yang tidak tulus terhadap dirinya sendiri pastilah tidak waras. Seperti orang gila yang lari telanjang di jalanan, yang tidak mampu mengasihi dirinya sendiri.

Aku punya sebuah kisah nyata tentang mengasihi orang tua. Salah seorang temanku  memilih meninggalkan hidupnya yang mapan di Eropa setelah ayahnya meninggal dunia, ia dan pulang ke Indonesia demi menemani dan merawat ibunya yang sudah tua, di sebuah kota kecil darimana dirinya berasal. Banyak orang yang mungkin mengatakan ia bodoh, tapi apa yang dilakukannya adalah sebuah bakti murni kepada ibunya. Meskipun ada kejadian-kejadian tidak enak menyambutnya di tanah air, ia tetap bertahan, demi ibunya.  Merenungkan kejadian itu, aku sendiri belum mampu meyakinkan diriku sendiri apakah akan sanggup melakukan hal yang sama, meninggalkan kehidupan yang sudah nyaman dan mapan, hal yang paling jauh yang bisa aku pikirkan adalah, mungkin orangtuaku yang harus pindah ke kota tempatku menetap.

Tapi, kembali lagi ke esensi dasar kita. Apa yang menjadi motivasi dan prioritas untuk kita lakukan dalam kehidupan kita? Bagiku,  menjalankan hidup  sebaik-baiknya sebagai manusia yang utuh dan bernilai, dan  tidak ada hal lain selain ketiga hal diatas, yang bisa dirangkum menjadi satu, yaitu KETULUSAN.

Ingatlah,  Orang yang hidupnya dijalani dengan ketulusan pasti akan menerima kebaikan-kebaikan dalam hidupnya.

 Mazmur 125:4

Lakukanlah kebaikan, ya TUHAN,  

kepada orang-orang baik dan

kepada orang-orang yang tulus hati

Immanuel.

(Allah beserta kita-kita akan mampu melakukannya).

Iklan

2 thoughts on “TULUS atau BULUS?

    Christian said:
    April 10, 2013 pukul 8:21 pm

    Mantappppp…..

    Suka

      Juely responded:
      April 11, 2013 pukul 5:47 pm

      makasihh…hihihihi..

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s