MENOLONG KALAJENGKING

Posted on Updated on


scorpionSeringkali lebih mudah mengulurkan tangan bagi orang-orang yang sama sekali tidak kita kenal …

Ada satu ilustrasi yang bagus untuk direnungkan mengenai seorang guru dan  seekor kalajengking yang jatuh ke air. Diceritakan bahwa ada seorang guru sedang berjalan-jalan di pinggiran sungai, tiba-tiba ia melihat seekor kalajengking didalam air  yang sedang berusaha untuk keluar dari sana. Karena kasihan, ia pun mencoba menolongnya. Didekatinya kalajengking itu dan diulurkannya tangannya untuk membantunya.  Namun apa yang terjadi? Sang kalajengking tersebut malah menyerangnya dan bahkan menyengatnya.  Sang guru itu tidak menyerah, ia mencoba berulang-ulang sampai tangannya membengkak karena bisa si kalajengking.

Beberapa orang yang berada disekitar sana yang melihat perbuatannya bertanya-tanya, mengapa guru yang kelihatannya bijak itu melakukan perbuatan bodoh dengan membiarkan dirinya disengat? Buat apa menolong kalajengking itu toh tidak ada untungnya, lagian reputasinya jelek dan mengerikan.   Merasa penasaran, bertanyalah mereka kepada sang guru, “Guru… mengapa anda mau menolong binatang itu dan membiarkan diri anda disengat?”

Sang  guru tersenyum dan menjawab,”Sebab… menyengat adalah naluri-nya, sedangkan menolong adalah nurani-ku.” (nurani : baca Aku Bukan Generasi Monyet).

Bagaimana menurutmu? apakah guru tersebut adalah orang bodoh?

Setujukah kamu bila aku bilang bahwa kita hampir selalu menemui kesulitan untuk melakukan hal yang sama dengan guru tersebut.  Pasti kamupun pernah mengalami yang namanya disakiti ketika ingin menolong.  Aku pernah mencoba menolong seseorang  namun ternyata malah akhirnya tuduhan dan hinaan yang didapat. Sakit? Tentu saja!  Tapi itulah ujiannya, ujian hati terutama  bagi kita yang mengaku kaum orang beriman. Ujian yang menghendaki kita membuka pintu maaf dan memaafkan, ujian yang menghendaki kita merendahkan diri dan mempercayakan hidup kita di tangan Tuhan. Ketika kita menolak meminta maaf atau memberikan maaf, itu sama artinya kita tidak mempercayai Tuhan. Begitu seringnya kita menghindar, dan memilih tidak mengikuti ujian itu. Kita yang pernah disakiti cenderung  memilih menyingkir jauh-jauh. Kita lebih rela kehilangan daripada menerima rasa sakit. Padahal, bukankah kita lahir sebagai manusia untuk saling tolong menolong dan saling membangun satu sama lain?

Kenyataan membuat kita melihat bahwa ajaran agama sering hanya menjadi kedok, hanya menjadi alat propaganda yang digaungkan tanpa dipraktekkan. Kalaupun dipraktekkan, yang dipilih hanya bagian-bagian yang enak, yang mempunyai resiko paling kecil untuk kita terluka. Lihatlah ketika Lebaran, Hari Raya dan Tahun Baru, semuanya beramai-ramai mempraktekkan  kasih dengan memberi disana sini. Panti Jompo, Panti Asuhan dan segala panti-panti yang membutuhkan kasih sayang dan uluran tangan, penuh dikunjungi dari segala arah. Begitu gampang kita mengasihi sesama dengan memberi.  Bahagia ketika melihat tawa bahagia mereka. Memang lebih gampang memberi dan menolong orang-orang yang tidak kita kenal.

Bagaimana dengan orang yang kita kenal dan orang yang pernah kita kenal? Mungkin mereka adalah orang yang pernah menyakiti kita, orang-orang yang reputasinya jelek yang tidak akan pernah kita pilih untuk menjadi teman kita.  Seharusnya kita jangan  melupakan bahwa medan peperangan setiap orang itu tidak sama. Materi ujiannya tidak sama, dan setiap individu harus berjuang sendiri untuk memenangkan medan peperangannya sendiri. Termasuk kita! Dengan begitu, mungkin akan lebih mudah bagi kita untuk menentukan sikap ketika berhadapan dengan seseorang yang sangat  membutuhkan pertolongan dari kita. Haruskah kita menolongnya atau membiarkannya.

Manusia cenderung suka menghakimi terutama orang-orang yang merasa hidupnya paling benar sendiri, mereka yang  tidak mau dinasehati apalagi dihakimi, tapi selalu menghakimi. Aku beri contoh sebuah kejadian antik.  Ingatkah kamu akan sebuah organisasi extreem yang sering melakukan tindakan anarkis atas nama agama? Satu hal yang lucu adalah ketika mereka menuntut salah satu majalah porno untuk tidak beredar di Indonesia, mereka melakukan segala upaya untuk tidak membiarkan hal itu terjadi. Diluar tujuannya,  apa yang ditemukan kemudian? Sang ketua malah mempunyai puluhan koleksi majalah tersebut. MUNAFIK!

Sama seperti orang Farisi yang menghakimi Yesus atas perbuatanNya menolong orang berdosa. Padahal, seharusnya orang Farisi merupakan para imam besar, orang yang beragama, bahkan mempunyai kedudukan penting dalam organisasi keagamaan.

Seperti ketika seorang pelacur meminta ampun kepada Yesus, dengan begitu banyak orang disekelilingnya dengan batu ditangan masing-masing dan siap melemparinya  hingga mati? Apa kata Yesus ketika itu? BARANG SIAPA YANG TIDAK BERDOSA, JADILAH ORANG YANG PERTAMA melempar batu itu”.

Menyedihkan!  Di zaman hampir semua manusia mengaku beriman dan percaya kepada Tuhan, disaat yang sama juga kemunafikan meluas. So, marilah kita belajar untuk tidak melihat selumbar dimata sesama kita. Belajarlah untuk instropeksi diri senantiasa. Biasakan diri untuk  merenungi perbuatan kita setiap hari, hal itu akan sangat membantu pengembangan diri kita sendiri.

hypocrite-1

Dengan memperbaiki dan membangun karakter kita dengan hal-hal yang baik dan positif,  percayalah kita akan menjadi lebih baik dari hari ke hari, sedikit demi sedikit, dan pada suatu hari kita akan menemukan bahwa kita sudah berubah sedemikian jauh dari sebelumnya.

Kita tidak perlu menghakimi orang lain. Terhadap keluarga, saudara ataupun teman, berilah teguran, berilah peringatan, tapi jangan  dihakimi seolah-olah kita tidak pernah berbuat kesalahan. Sebaliknya, kitapun tidak perlu   peduli apa kata orang tentang perbuatan kita manakala  hal yang kita lakukan adalah benar  dan seturut dengan Firman Tuhan, karena sebaik apapun sebuah perbuatan,  akan selalu ada perkataan buruk tentang dirinya.

Yuk, belajar seperti Sang Guru, belajar seperti Yesus, belajar mengasihi sesama, lebih dan lebih lagi. Maka kita akan melihat dengan jelas, bahwa nyatanya Yesus itu hidup di dalam kita.

Ibrani 13:16 …

Dan janganlah kamu lupa… berBUAT BAIK

dan memBERI BANTUAN…

Haleluya! Terpujilah nama Tuhan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s