YANG TERGAPAI DAN YANG TERHILANG

Posted on Updated on

http://4.bp.blogspot.com/-YYVpeNACuHM/UBf_h-SwKNI/AAAAAAAAHt4/ETf7R9nGzc8/s1600/broken+families.jpg

Jerry dan Arin termasuk pasangan muda yang  beriman dan hidup bahagia. Mereka dikaruniai 2 orang anak yang tumbuh sehat dan cerdas.  Meskipun tidak kaya raya, kehidupan mereka tercukupi dengan baik. Jerry adalah type pria yang baik dan sabar. Ia bekerja sebagai manager di sebuah perusahaan.  Sedangkan Arin yang lemah lembut dan murah hati  berfungsi sebagai ibu rumah tangga penuh waktu.  Mereka saling mencintai dan merupakan gambaran keluarga ideal. Belum pernah terjadi pertengkaran atau konflik yang serius diantara mereka.

Suatu hari, mereka diundang ke  pesta pernikahan salah satu teman  Jerry  semasa kuliah. Disana mereka bertemu kembali dengan teman-teman lama Jerry. Dengan segera mereka berbaur dan saling mengenalkan pasangan masing-masing. Arin begitu terpesona dengan teman-teman wanita  barunya yang berpenampilan “wah”.  Mereka kelihatan seperti wanita-wanita yang smart dan sukses, bukan seperti dirinya yang hanya ibu rumah tangga sederhana.  Dalam benaknya dia mulai membandingkan dirinya dengan mereka, dan berangan-angan seandainya dia juga bisa  seperti mereka.  Sementara itu, Jerry terlihat serius berbicara dengan seseorang, seorang temannya yang telah sukses besar sedang memotivasi dia untuk maju dan memberikan tawaran untuk  satu posisi pekerjaan yang cukup menggiurkan.

Sepulangnya dari pesta itu, Jerry memberitahu istrinya tentang tawaran tersebut. Setelah mempertimbangkan beberapa keuntungan yang bisa didapatkan, antara lain gaji, bonus dan fasilitas-fasilitas, akhirnya mereka sepakat untuk Jerry menerima pekerjaan itu. Pucuk dicinta ulam tiba, pikir Arin. Arin sangat bersemangat dan membayangkan kehidupannya yang baru, dia akan bisa menyamai penampilan seperti teman-teman wanita tadi, sedangkan Jerry termotivasi ingin sukses dan menjadi kepala keluarga yang bisa dibanggakan.

Tidak lama sejak itu, Jerry memulai aktivitas barunya, dia bekerja dengan baik dan penuh semangat sehingga berhasil mencapai prestasi-prestasi dalam waktu singkat. Bonus-bonus mengalir deras ke dalam pundi-pundinya. Mereka mulai mengalami peningkatan drastis dalam hal perekonomian. Ia  memanjakan istri dan anak-anaknya dengan menghujani mereka dengan barang-barang yang mahal dan  belum pernah mereka miliki sebelumnya. Arin mulai membentuk komunitas bagi dirinya dan berhubungan dengan teman-teman barunya, dia merasa sangat bangga bisa menyamai mereka.

Perubahan mulai terjadi ketika Jerry semakin kecanduan kerja, waktu yang seharusnya dibagi untuk keluarganya mulai berkurang. Dilain pihak, karena pergaulannya yang meluas,  Arin-pun mulai lupa diri akan perannya sebagai seorang ibu. Dia menggaji pembantu khusus untuk kedua anaknya yang balita, dan begitu menyibukkan diri dengan setumpuk  arisan dan  kesibukannya yang lain yang tidak jelas manfaatnya.

Kehidupan baru sangat membius mereka, sehingga mereka tidak memperhatikan sinyal-sinyal peringatan dari hati nurani mereka. Peningkatan taraf kehidupan yang mendadak, membuat keduanya tidak menyadari bahwa mereka sudah kehilangan pengendalian diri. Mereka malah merasa bahwa Tuhan memberkati mereka dengan luar biasa.  Keduanya semakin terjerat,  Jerry menjadi mabuk kekuasaan, dengan uang dia merasa dialah pria terhebat didunia. Arin tidak jauh berbeda, dia  mabuk oleh nafsu bersenang-senang. Yang paling parah, mereka hampir tidak pernah sembahyang lagi. Mereka sudah lupa akan Tuhan. Jerry yang semula sabar mulai menjadi suka tegang dan marah-marah, apalagi bila dia tidak mendapati istrinya di rumah ketika pulang dari kantor. Pertengkaran semakin sering terjadi, diperparah dengan tanggapan istrinya yang  melawan dan  tidak menerima perlakuan Jerry yang dianggapnya kasar. Arin merasa bisa mendapatkan perhatian lebih dari pria-pria yang menyanjungnya diluar sana.  Arin kecewa, dia merasa suaminya berubah, Jerry-pun tidak berbeda, dia merasa istrinya telah berubah.  Kedamaian dalam rumah tangga mereka sudah tercuri. Tujuan mereka untuk memiliki kehidupan yang lebih baik dan lebih bahagia telah menjadi bumerang yang menghancurkan.

Jagalah dirimu,

supaya hatimu… jangan sarat oleh pesta pora

dan kemabukan… serta kepentingan-kepentingan duniawi 

dan

supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba  jatuh ke atas dirimu 

seperti suatu jerat

Lukas 21:34

Tawaran-tawaran manis yang diberikan dunia, membuat setiap  orang ingin memiliki kehidupan yang lebih baik dan memilih jalannya sendiri untuk mencapainya. Tetapi, seringkali semua usaha dilakukan hanya dengan terfokus pada pencapaian tujuan tanpa mempertimbangkan sisi-sisi yang akan ikut terpengaruh.  Akhirnya,  semua yang telah diperoleh hanyalah kamuflase belaka, keberhasilan atas usaha  malah membuat manusia kehilangan hal-hal yang berharga.

Secara alamiah, kita mempunyai 3 akar keinginan yaitu mengejar kepuasan fisik, mengejar kekayaan dan mengejar nama dan kekuasaan. Contoh keinginan yang alamiah misalnya, nafsu makan yang berfungsi untuk kelangsungan hidup, nafsu seksual untuk melanjutkan keturunan, nafsu mencari nafkah untuk memperoleh tempat tinggal dan taraf hidup yang layak , dan lain lain.   Namun,  tuntutan kehidupan modern membuat kita menjadi rakus.  Keinginan atau nafsu yang seharusnya berada dibawah kendali kita berbalik menguasai kita, malah kita yang menjadi budaknya. Kita kecanduan untuk mengejar kesenangan, yang penting happy, katanya. Kita kecanduan mengejar kekayaan dan kekuasaan, bekerja tanpa henti dan dengan segala cara  demi sebuah kesuksesan.  Akibatnya bisa ditebak, segala sesuatu yang berlebihan membuat emosi menjadi tidak stabil,  orang menjadi suka marah-marah, suka mengeluh, suka menjelek-jelekkan, suka berlaku kasar, dan lain-lain. Emosi-emosi itulah yang  merupakan titik sempurna  yang mengawali retaknya hubungan dengan sesama, dalam hal ini pahitnya, adalah keluarga yang semula bahagia.

Dao De Jing, seorang filsuf Cina membuat satu karya sastra yang berbunyi:

manusia dibutakan oleh warna-warni dunia …

tuli telinga oleh irama dunia…

rasa dunia sungguh membangkitkan  selera…

mengejar kesenangan membuat pikiran menjadi gila…

mengejar hal yang tidak bisa dicapai membuat manusia bertindak tidak wajar…

Manusia bijak tidak mempedulikan pikirannya dan meletakkan telinganya dalam hatinya …

 

Memang benar, tawaran-tawaran yang diberikan kehidupan di dunia cenderung  membuat kita  cacat indra, kita seolah-olah dibutakan dan ditulikan oleh kerlap kerlip dan hiruk pikuk dunia, kita lupa menanyakan ke hati yang terdalam, benarkah ini jalannya?  Pikirkanlah untuk apa DIA memberikan kita hikmat dan akal budi.  Mengejar impian dan cita-cita itu wajib. Tapi kita harus hidup cerdas dan bijak untuk memilih apa baik dan berkenan kepadaNya.  Dan bila kita diberikan kapasitas besar untuk sukses, maka kita harus mengimbanginya dengan semakin dekat dengan Tuhan. Sebab, semakin tinggi pencapaian  seseorang, semakin besar pula-lah musuh yang dihadapi. Musuhnya bukan lagi pencuri-pencuri kecil, tetapi teroris-teroris. Orang sukses biasanya diteror oleh kekhawatiran karena terlalu banyak hal yang dimilikinya yang bisa menjadi umpan untuk mengundang kejahatan.  Mendekat pada Tuhan mutlak diperlukan  untuk memberikan kita kekuatan dan membuat kita senantiasa sadar bahwa ada  DIA  yangberkuasa atas kehidupan kita.

peace-in-heart kolose 314

Ilustrasi keluarga Jerry dan Arin menceritakan tentang  pengendalian diri yang tercuri, yang pada mulanya tidak disadari, mereka hanya melihat tujuan masing-masing. Kehilangan itu membuat sifat  keduanya berubah,  dari yang positif menjadi negatif,  sehingga tidak mampu saling mengasihi lagi.  Kehilangan itu  membawa mereka ke arah kehancuran.  Selain cerita Jerry dan Arin, masih banyak cerita-cerita  lain  yang kita temui sehari-sehari.  Ingatlah untuk tidak meremehkan hal-hal yang tampak tidak berbahaya, pertimbangkan efek jangka panjangnya, dan apa kegunaannya bagi hidup kita. Apapun kemasannya, berhati-hatilah dalam menanggapi setiap persoalan yang muncul. Lindungilah apa yang menjadi tujuan utama hidup kita.

Semoga diberkati 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s