MELEPASKAN HAK MILIK, RELAKAH?

Posted on Updated on

Siang itu sepulang dari sekolah, terlihat beberapa tamu yang sedang berkunjung ke rumah kami. Ketika melihat siapa  mereka, seketika timbul rasa muak, ah…sumbangan lagi..sumbangan lagi. Meskipun sejak kecil kami sudah diajarkan untuk menberi sedekah. Namun, untuk pertama kalinya pemandangan di ruang tamu siang itu membuatku bertanya-tanya. Ngapain sih papa meladeni mereka terus?

Suka tidak suka, aku tidak bisa protes apa-apa karena memberi/ menyumbang/ meminjamkan adalah salah satu kebiasaan papa.  Bermacam-macam jenis sumbangan, mulai dari biaya sekolah, kuliah, bahkan taruna yang hendak melanjutkan studi dll, membangun rumah ibadah, memperbaiki jalan raya dan fasilitas umum, dan sebagainya. Tindakan sosial memang lekat dengan nama dan wajah papa di kota kami tinggal.

Kemurahan hatinya juga terlihat ketika berbelanja. Misalnya, kami dilarang untuk menawar dengan “keterlaluan” kepada tukang sayur. Menurutnya, menanam itu sangat sulit, dan kadang-kadang tidak berhasil. Begitulah pribadinya.

Meskipun papa punya penghasilan besar, dan dengan itu kami hidup dengan nyaman, ada satu  benda yang papa tidak mau beli,  yaitu mobil pribadi yang bagus, menurutnya mubazir karena jarang dipakai. Saat itu kami tinggal di kota kecil, jadi kemana-mana cukup dengan berjalan kaki atau dengan menumpang becak. Kalaupun harus keluar kota, kami selalu naik mobil pick-up atau truk.  Pernah suatu kali aku protes, “papa sih… selalu sumbang sana, sumbang sini, akhirnya kita ngga bisa beli mobil bagus”. Papa bilang, ” tahukah kamu, kalau papa tidak melakukannya, kalian belum tentu bisa hidup senyaman ini”.  Jadi, dari papa-lah kami belajar, bahwa memiliki dan menumpuk  harta pribadi bukanlah  hal yang terutama dalam hidup. Papa giat mencari uang, tetapi uang itu bukan untuk keperluan pribadinya. Selain untuk kebutuhan rumah tangga dengan anggota yang cukup banyak,  aku sering melihat uluran tangannya membantu kehidupan orang lain, orang yang kekurangan, orang yang sedang terjepit keadaan,  orang yang sedang membutuhkan.

Tahun-tahun berlalu dan kami semua tumbuh dewasa.  Bagai buah jatuh tak jauh dari pohonnya, sikapku maupun sikap saudara-saudaraku dalam hal keuangan tak jauh  berbeda dengan papa. Meski sesekali kami membeli barang mahal untuk kebutuhan tertentu, tapi tidak semua penghasilan digunakan untuk kepentingan sendiri.  Ada saja hal-hal  yang membuat hati tergerak, baik menyumbang maupun meminjamkan, walaupun meminjamkan  sering kali tidak kembali..hehe..

Suatu ketika, aku membeli kado ulang tahun untuk seseorang. Kusiapkan kertas kado yang bagus, berikut kartu ucapan. Seseorang berkata begini,”untuk apa kamu bungkus bagus-bagus, toh nanti disobek juga”. Aku menjawab,”tidak apa-apa, yang penting aku tulus memberikannya”. Ketika mengucapkan itu, tiba-iba ada satu pertanyaan menggelitik hatiku, benarkah tulus? bagaimana kalo dia ngga suka kadonya dan memberikan kepada orang lain?  Aku bingung dengan perasaanku saat itu.

Memberikan secara tulus memang diajarkan kepada kita sejak kecil. Mungkin iya, pada saat kita ingin memberi, kita tidak memikirkan balasan atau apapun. Tapi bagaimana bila pemberian kita tidak dihargai? Mari kita  coba untuk re-check diri,  pernahkah kita merasa marah ketika pemberian kita tidak dihargai? Pernahkan kita marah ketika suatu saat kita kesusahan dan orang yang pernah kita bantu malah tidak berbuat apa2 atau orang tersebut menolong tetapi sangat perhitungan dengan kita? Coba tanyakan kepada diri sendiri dan jawab dengan jujur terhadap diri sendiri.  Bila kita marah karena tidak menerima kembali balasan atas kebaikan kita, itu berarti kita tidak memberi tanpa pamrih.

Aku kira  dalam hal meminjamkan-pun tidak ada bedanya. Menurutku, meminjamkan atau memberikan pinjaman itu sama saja artinya dengan memberi. Mengapa? karena kita tidak pernah tahu apakah pinjaman tersebut akan dikembalikan atau tidak. Aku belajar sesuatu bahwa, ketika  memberikan pinjaman itu berarti hati sudah siap merelakan apabila pinjaman itu tidak kembali. Dan, kenyataannya sudah ada beberapa kasus yang kualami, pinjaman yang tidak kembali, meskipun awalnya sulit menerima, namun akhirnya aku memutuskan untuk tidak membiarkan kejadian itu mencuri damai sejahteraku.  Direlakan saja. Kalau rasa tidak rela itu diteruskan, akibatnya  akan terjadi perpecahan. Kenyataan membuktikan bahwa banyak kasus perpecahan terjadi akibat pinjaman yang tidak dibayar, bahkan diantara saudara maupun keluarga sendiri.

Pernah ada seorang teman yang galau karena pinjamannya tidak dikembalikan. Waktu itu dia berdoa sekuat tenaga memohon uangnya dikembalikan. Aku berkata kepadanya, untuk apa dia bersusah hati? Apakah uang yang menjadi prioritas utama dalam hidupnya? Apakah tanpa uang itu dia jatuh miskin? kekurangan makan? kehilangan tempat tinggal? Dia menjawab, “tidak’.  Disambung dengan ,”masih banyak (hartanya)”. Nah, kalau begitu, buat apa menangisi uang tersebut, kalau orangnya tidak mau bayar, masa mau menangis terus? susah hati terus? Direlakan saja dan syukuri apa yang masih ada sekarang. Jagalah hati dan doakan supaya penuh damai sejahtera. Akhirnya, dia setuju dan mengaku merasa jauh lebih baik setelah mengerti persoalan itu.

Hati yang penuh damai sejahtera jelas lebih membantu kita menjalani hari-hari. Memampukan kita untuk fokus mencari lagi yang hilang.  Memiliki uang atau harta adalah kapasitas yang diberikan Tuhan. Bila hal tersebut hilang sewaktu-waktu, baik oleh alasan apapun, kita tidak berhak protes sama Tuhan. Bahkan kita diajarkan untuk tidak membebankan bunga terhadap pemberian pinjaman, atau mengambil barang apapun dari rumah orang yang kita pinjami itu sebagai ganti hutangnya, melainkan orang tersebut yang harus membayarkannya langsung kepada kita. (Lukas 6:34 Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu?)

Kenyataan ini sesuai dengan apa yang diajarkan oleh salah satu guru spiritual-ku, bahwa ketika kita memberi, kita harus memutuskan benang antara hati kita dengan benda yang kita berikan. Artinya, bila sudah diberikan kepada orang lain, maka hak milik sudah berpindah tangan, dan tidak ada sangkut pautnya dengan kita lagi.

Untuk itu, hendaklah kita bersikap bijak dan memikirkan baik-baik ketika hendak memberi atau meminjamkan, apapun bentuknya.   Apakah hati kita rela dan  siap untuk segala resikonya. Bila tidak? Silakan jawab sendiri … hehehe

Semoga diberkati 🙂

Iklan

3 thoughts on “MELEPASKAN HAK MILIK, RELAKAH?

    degradasisenja said:
    Desember 27, 2013 pukul 2:20 pm

    Saya senang membacanya walaupun telat 1thn :D..
    Itu yang sedang saya alami sekarang, saya saat ini terlilit hutang hingga 80juta. saya berhutang buat biaya berobat saya, usia saya masih muda baru 27 tahun.. Tapi beberapa bulan lalu saya tiba2 baru tahu kalau saya memiliki kista endometriosis di rahim kanan dan kiri dgn ukuran yg lumayan besar bahkan sudah terjadi pelengketan ke usus.
    Akhirnya saya dioperasi laparascopi habis kurang lebih 30juta.. Saya waktu itu masih bekerja dan mencoba mengajukan pergantian pengobatan. Tetapi sayang sekali hanya diganti 8 juta dari kantor saya.
    Tidak lama berselang hanya 2 minggu saya koleps dua kali masuk UGD karna peradangan batu empedu.. Dan tidak ada jalan lain.. Harus dioperasi dan diangkat kantong empedunya karna kondisinya sudah sangat paraah..
    Saya melewati 2 kali operasi pengangkatan kantong empedu..
    Suatu hari ketika saya dirawat pasca operasi saya nangis sangat sedih meminta maaf kepada kedua orang tua saya.. Karna saya takut umur saya tidak akan lama..
    Lalu Ibu saya berbisik.. Kamu harus kuat, sabar dan menerima dengan lapang dada apa saja yg di berikan oleh Tuhan, Rezeki itu anugrah begitupun penyakit.

    Akhirnya saya kehilangan pekerjaan karna terlalu lama di RS, sementara itu biaya RS membengkak hingga 175juta. Maka saya berusaha membantu cari pinjaman. Itulah awal saya di usia yg muda ini memiliki hutang yang besar.
    Sampai detik ini saya menulis, saya berusaha mengajukan pinjaman utk bayar hutang yg sudah jatuh tempo. Tapi tak ada 1pun teman saya yang membantu..
    Saya sedih, nangis dan kecewa.. Kenapa?? Kenapa mereka tidak mau membantu saya saat saya terpuruk seperti ini? Padahal saya selalu bantu kalau mereka meminta pertolongan.
    Setelah saya baca tulisan anda di atas, saya tahu ternyata saat kita dulu memberi pertolongan kpd org lain kadang secara tidak sadar mungkin kita mengharapkan suatu saat akan kembali jasa kita atau bantuan kita. Sebenarnya yg salah kita.. Atau saya pribadi karna saya berharap demikian berharap kalau membantu orang suatu saat kita akan dibantu.. Padahal kalo kita tidak berharap demiikian kita tentu tidak akan merasa sekecewa itu.

    Hmmm.. Inilah hikmah.. Makna dibalik cobaan.. Selalu ada pelajaran buat kita memperbaiki diri.
    Walaupun saya rasanya mau bunuh diri karna belum bisa bayar hutang.. Tapi saya yakin badai pasti berlalu.

    Suka

      Juely responded:
      Desember 31, 2013 pukul 10:56 pm

      Terima kasih sudah bersedia membaca coretanku ini. Aku setuju dengan pernyataan ibu-mu. Apapun yang kita alami selalu ada maksud dibaliknya dan terkadang membutuhkan waktu sebelum kita benar2 mengerti maknanya. Ora et labora, jangan lupa tetaplah berdoa dan berusaha, suatu saat kamu pasti lepas dari lilitan ini bahkan tanpa kamu sadari. Tuhan bisa membuka jalan melalui 1001 cara yang sering tidak kita pahami. Tuhan memberkati.

      Suka

    ay ling said:
    November 2, 2012 pukul 1:16 pm

    Dgn belajar memberi kita belajar melepaskan segala keterikatan kita akn suatu kenyamanan.
    Apalagi pd saat kita memberi,kita lg pd posisi jg sama2 membutuhkan..relakah kita..
    Ketulusan hati menentukan kelulusan kita dlm memberi..menjadi berkat bagi org lain n percayalah Tuhan akn semakin memakai kita menjadi saluran berkatNya..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s