HOW LOW CAN YOU GO?

Posted on Updated on

Hari-hari ini aku mendengar banyak sekali tekanan dialami oleh orang-orang , kebanyakan berkisar seputar pekerjaan. Memang, keadaan ekonomi saat ini sedang kurang baik, antara lain penjualan yang menurun, serta hutang piutang yang sulit dibayar/terbayar. Hal ini mengakibatkan efek domino yang bersinggungan antara satu dengan yang lain. Piutang yang sulit ditagih mengakibatkan hutang sulit terbayar. Hal ini pun tidak luput dari perusahaan tempatku bekerja.

Bagi perusahaan kami, kredibilitas termasuk prioritas utama. Kami selalu membayar tepat waktu. Keadaan seperti sekarang secara tidak langsung menjadi satu beban pikiran. Antara rasa malu karena harus menunda pembayaran dan  rasa enggan untuk menagih, dan perasaan-perasaan itu bercampur menjadi satu  sehingga meningkatkan tekanan dalam bekerja. Aku ingin segala sesuatunya normal seperti biasanya. Tetapi dengan keadaan sekarang ini,  aku juga tidak mau membiarkan tekanan itu menguasaiku sehingga mempengaruhi kinerja dan aspek kehidupanku yang lain.  Caranya adalah berusaha lebih fleksibel dalam urusan hutang piutang ini, kemudian melihat situasi dengan cermat dan pelan-pelan maju selangkah demi selangkah untuk mencapai goal seperti yang sudah sudah atau bisa lebih baik lagi.

Ada sebuah tarian yang sangat menarik dan menantang, yaitu Limbo Dance. Limbo Dance berasal dari Trinidad dan Tobago, dan sejak dipopulerkan  oleh Julia Edwards  pada tahun 1957, tarian ini menjadi sangat terkenal di Karibia, Eropa, Amerika Utara dan Selatan, Asia dan Afrika. Mungkin kamu pernah melihat salah satu iklan rokok dan akrab dengan lagunya yaitu How Low Can You Go? Nah, dalam iklan itu digambarkan beberapa orang yang sedang party dan  bersenang-senang dengan tarian Limbo.

Secara tradisional, tarian  limbo menandakan kehidupan setelah melewati kematian yang diwakili dengan melewati bawah tongkat  melintang yang diletakkan dengan ketinggian  serendah mungkin.

Sebuah tongkat dan 2 tiang penyangga dibutuhkan dalam tarian ini (tongkat bisa juga diganti dengan tongkat berapi, atau cuma tali saja). Setelah peralatan tersebut dipersiapkan,  para penari harus melewati bawah tongkat  itu dengan posisi tertentu.  Mereka harus merendahkan tubuhnya, lutut ditekuk  dan badan  dijatuhkan ke belakang, kemudian berjalan dengan pinggul berada didepan. Penari dinyatakan gugur  jika ada bagian tubuhnya menyentuh tongkat yang mereka lewati, atau jika tangannya menyentuh lantai.  Dalam perlombaan, para penari yang bersaing akan melewati bawah tongkat, dan tongkat akan diturunkan secara bertahap sampai serendah mungkin, sehingga  tersisa hanya satu penari, yang tidak menyentuh tiang maupun lantai. Dan dialah yang akan menjadi pemenangnya.

Jika diamati,  tarian limbo hampir mirip dengan keadaan kita sewaktu hidup dibawah tekanan. Apa yang harus kita perbuat ketika tekanan dirasa semakin berat? bagaimana supaya bisa melewatinya?  Tak lain adalah berusaha merendahkan hati lebih lagi di hadapan Tuhan, bila perlu…bersungkurlah. Jaga emosi agar tetap tenang dan belajar lebih fleksible dalam pelaksanaan peraturan2 kerja dan berhati-hati. Bila kita gagal melakukannya dengan benar, niscaya tekanan itu akan semakin menghimpit dan bahkan melukai kita. Contohnya dalam tarian Limbo yang menggunakan tongkat api, sehingga tubuh yang tersentuh tongkat itu akan terluka/terbakar.

Ingatlah bahwa tekanan yang kita terima tidak akan melampaui kemampuan kita (Pencobaan yang kita terima tidak akan melebihi kekuatan kita). Karena Tuhan tidak pernah merencanakan yang buruk untuk kita, melainkan rencana yang baik dan indah (baca : Tuhan punya Rancangan Yang Indah). Apakah rencana itu akan tergenapi adalah tergantung bagaimana cara kita menghadapi kehidupan.  Bila kita bertindak dan meresponi dengan benar, kita tidak akan celaka. Tidak banyak orang yang berhasil menjadi pemenang karena tidak mampu menguasai diri dari keadaan yang menimpanya. So, stay alert! Tetap rendah hati, tenang, bertindak hati-hati dan membuat strategi. Maukah kamu?

Iklan

4 thoughts on “HOW LOW CAN YOU GO?

    Agus DM said:
    Mei 16, 2013 pukul 12:07 pm

    Hai bu, senang bisa berkunjung ke blog ini.. Btw keren bgt analogi limbo-nya.. 🙂

    Suka

      Juely responded:
      Mei 16, 2013 pukul 11:11 pm

      Terima kasih, pak Agus, seng bisa memberkati… ayo, menulis :D…

      Suka

    Juely responded:
    Oktober 27, 2012 pukul 7:53 pm

    ya, bro, terima kasih utk supportnya.. JLU :))

    Suka

    hermankristantoh said:
    Oktober 27, 2012 pukul 3:58 pm

    yess juely, seperti apa yang saya hadapi sekarang dan tulisanmu sangat bagus dan memberikan inspiratif buat kami untuk lebih baik thanks ya, ……….terus menulis Tuhan Yesus Memberkati, Amin

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s