MELATIH HATI

Posted on

Sudah menjadi tantangan bagi kita untuk meresponi setiap kejadian yang terjadi disekeliling kita. Susah-senang rutin kita alami.  Hati siapapun akan selalu siap untuk menyambut kejadian yang baik. Bagaimana dengan kejadian yang pahit? apakah hati kita cukup terlatih untuk menerimanya sehingga kita tidak gampang terjatuh dalam perasaan tidak berdaya, diabaikan, dikucilkan, ditolak, yang lama kelamaan akan menimbulkan sakit?.

Di gym tempatku berolahraga, ada satu program latihan yang bernama Flexibility.  Sesuai dengan namanya, Flexibility adalah latihan kelenturan  tubuh dimana otot-otot ditarik dan dipanjangkan dengan gerakan-gerakan stretching, sehingga lama-lama otot menjadi mampu menjangkau lebih jauh.

Ketika kali pertama aku bergabung di program itu, aku mengalami beberapa kesulitan dalam melakukan  gerakan terentu dikarenakan otot-ototku yang cenderung keras dan kaku  karena latihan beban. Salah satu gerakan   ( seperti di foto sebelah) kelihatan mustahil untuk aku lakukan, kalaupun bisa, gerakanku sangat jauh dari maksimal. Sulit sekali untuk meletakkan flexor lurus menempel mendatar di lantai, (flexor adalah bagian depan pinggul sampai paha depan), apabila dipaksakan, akan menimbulkan rasa sakit.

Namun, ada beberapa teman yang sudah terbiasa  bisa melakukannya dengan baik sekali, apalagi instrukturnya, sempurna. Sang instruktur yang walaupun memiliki otot-otot yang kelihatan keras, tapi karena sering melakukan latihan ini, tubuhnya menjadi  lentur,  flexible.

Setelah beberapa kali mengikuti program tersebut, menahan rasa sakit akibat otot-otot yang ditarik, belum lagi rasa jarem seluruh tubuh pada keesokan harinya, rasanya bagaikan habis ditimpa sekarung beras,  lambat laun otot-ototku mulai menyesuaikan diri dengan jangkauan latihan dan lambat laun semakin lentur.  Kelenturan otot sangat  diperlukan  untuk latihan apapun juga, fungsinya untuk menghindari cedera.

Aku melihat adanya suatu hubungan dari latihan tersebut  dengan keadaan hati. Bila hati kita tidak terlatih dengan kejadian manis-pahit, senang-susah, maka akan sulit sekali bagi kita untuk menerima masalah dengan lapang dada. Hati tersebut tidak akan memiliki ketahanan ketika menghadapi intimidasi. Hati tersebut tidak akan kuat ketika ditimpa kemalangan. Efeknya adalah  rasa pahit, dendam, kecewa dan sakit hati menjadi menggumpal didalam hati  dan menyebabkannya  menjadi keras. Hati terasa sesak. Pikiranpun ikut menjadi sempit.

Hati yang keras tidak akan mampu menerima kasih dari orang lain, apapun bentuknya kasih itu. Curiga  terhadap maksud baik yang diberikan orang lain, mencibir ketika melihat orang lain berbuat kebaikan disekitarnya. Orang ini tidak akan tahu caranya hidup berbahagia.

Latihan hati sebenarnya kita peroleh sejak masih kanak-kanak. Ingatkah ketika kita dimarahi oleh orang tua? Ingatkah ketika kita mendapatkan hukuman?

Seawaktu kanak-kanak, aku yang terlahir sebagai anak sulung dalam keluarga sering menjadi sasaran kemarahan bila adik-adikku rewel. Hal yang paling sulit adalah jarak  usia ang cukup jauh antara aku dan adik kedua dst, sehingga aku merasa hidupku tiba-tiba kacau sejak saat itu. Aku yang  sebelumnya hampir tidak pernah dimarahi, tiba-tiba jadi sering dijeritin oleh mama.  Setelah akrab dengan kejadian seperti itu, akhirnya aku memilih untuk menghindari masalah.

Karena setiap kali aku merasa tidak pernah terlibat dengan kekacauan di dalam rumah, akhirnya sejak kelas 3 SD, aku sengaja meminta les ini itu sehingga hampir seharian penuh aku tidak berada di rumah. Hal tersebut cukup menenangkan, dan dengan pola demikianlah aku hidup selama bertahun-tahun selanjutnya. Bila ada masalah, aku tidak melawan, tidak menerima, tapi menghindarinya. Aku tidak mau “disakiti”.  Hatiku tidak terima untuk dilatih karena ketidakmengertian.

Bila waktu itu aku menerima “kemarahan” dari orang tua yang walaupun tidak bersalah, aku pasti akan banyak belajar bagaimana menghadapi masalah, bagaimana menghadapi adik yang menangis, apa yang harus dilakukan.  Bila berulang-ulang dilakukan, lama-lama perasaan jengkel karena dimarahin pasti akan hilang digantikan dengan perasaan menerima dan berusaha melakukan sesuatu supaya orang tua tidak marah-marah lagi. Aku akan belajar mengontrol adik-adik, belajar mengasihi dan melindungi mereka. Anyway, it was the past! Believe me, I am a far different person now. 😀 😀 😀

Hati yang terlatih adalah hati yang lapang.  Flexibility bicara tentang kemampuan menyesuaikan diri dengan keadaan, flexibility bicara tentang ketahanan, dan kekuatan. Flexibilty bicara tentang kapasitas yang lebih besar, lebih luas, lebih kuat. Dan begitu juga seharusnya dengan hati kita.

Firman Tuhan dalam 2 Korintus 6:13b…bunyinya..bukalah hatimu selebar-selebarnya.  Kita diperintah untuk membuka hati karena hati yang luas dan lapang akan mampu meresponi kejadian apapun dengan benar.  Meresponi dengan benar bicara tentang menyelesaikan persoalan dengan jalan Tuhan. Contohnya: meminta maaf duluan walaupun kita dalam posisi tidak bersalah. Bukan karena takut, tetapi itulah hukum kasih yang diajarkan Tuhan Yesus.

Jadi, marilah kita melatih hati dengan menghadapi setiap persoalan yang terjadi, walau kadang rasanya sakit, janganlah dienyahkan dengan menghindari dan mencari jalan pintas. Untuk menghadapi rasa sakit dan tidak enak, ikutlah Tuhan, karena Dia memberi kelegaan (Mazmur 119:32.. Aku akan mengikuti petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab Engkau melapangkan hatiku), latihlah menghadapi masalah sesuai dengan ajaranNya, bukan dengan keegoisan dan harga diri kita.

Sama seperti latihan otot dengan flexibility tadi, kita harus terus menerus melatih hati kita.  Firman Tuhan,   nasehat dan teguran dari orang tua, saudara, teman dan lain lain terkadang kedengarannya menyakitkan, tetapi sesungguhnya itulah latihan untuk kita.

Kita harus belajar menahan sakit, dan berusaha terus maju ke arah yang benar. Bila kita sudah terlatih, maka kita akan tahan dan kuat terhadap badai dan gelombang kehidupan.  Bila kita tidak mau menerima rasa sakit untuk berubah, maka jangan ragukan bahwa suatu hari penyesalan akan datang.

 

God bless you

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s