MENJADI DIRI SENDIRI VS IMEJ ? (BE YOURSELF VS SELF-IMAGE)

Posted on Updated on

Mungkin kita pernah merasa tersinggung ketika kita ditatap dengan pandangan mata yang meremehkan dan menghina oleh orang lain yang berada di sekitar kita. Bila itu terjadi, kita jadi bingung, apa sih yang salah pada diri kita sehingga layak diberi tatapan model begitu? Selain “chemistry” yang ga konek, mungkin sikap kitalah yang menyebabkannya.

Contohnya begini, pernahkah kamu merasa terganggu ketika makan di satu meja  yang sama  bersama dengan orang yang terkesan “kurang sopan”? Dia mencelupkan sendok makan yang dipakainya langsung ke lauk yang berada ditengah meja, atau dia makan dengan satu kaki diangkat dan dengan suara berdecap-decap.  Mungkin hal tersebut tidak akan mengganggu bila mereka semua yang berada disatu meja adalah teman karib, tetapi sering kita mendengar satu kalimat seperti ini, ” inilah aku (bila kamu temanku, terimalah aku apa adanya)”, sebagai respon  bila orang tersebut ditegur.  Perilaku atau Imej  secara keliru telah disama-artikan dengan jati diri (menjadi diri sendiri).

Memang benar, bahwa setiap manusia dilahirkan  dengan keunikan masing-masing dan tujuan hidup yang berbeda-beda, itu yang disebut sebagai jati diri, yaitu  rancangan asli “dari sononya”.  Dari sononya biasanya berupa kemampuan-talenta khusus atau disebut juga bakat yang membuat seseorang itu berbeda dengan yang lainnya, dan dengan kemampuannya, dia diharapkan untuk menggenapi rencana Allah atas dunia ini.

Berbeda  dengan perilaku atau imej yang merupakan hasil bentukan lingkungan dan pergaulan. Perilaku/ Imej adalah bagian dari jati diri,  bukan jati diri yang sebenarnya.

Secara garis besar,  jati diri setiap manusia adalah untuk “blessing others”- memberkati hidup orang lain dengan apa yang kita miliki, antara lain cinta, kemampuan, sikap moral, dana dan sebagainya. Kenapa? Karena kita tidak akan mampu memberi/ memberkati orang lain secara tulus dan maksimal bila tidak mengenal jati diri sendiri. Bayangkanlah bagaimana seorang gila bisa membantu dan memberkati orang lain? Orang gila itu menakutkan dan terkadang mengundang rasa kasihan.

Memberkati artinya membuat hidup orang lain menjadi  lebih baik dengan kehadiran kita. Jati diri sesungguhnya tidak bisa dipaksakan kecuali memang dari sononya sudah ada bibitnya.   Contohnya seseorang  memiliki suara yang tidak enak didengar dan fals terhadap tangga nada,  janganlah memaksakan diri untuk menjadi penyanyi.  Aku yakin kamu bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila orang tersebut naik panggung dan bernyanyi dengan suara keras. #suara wooooooo dan lemparan botol …

Namun, Perilaku/Imej bisa dipelajari. Akan lebih baik hasilnya buat yang  tahu  jati dirinya/tujuan hidupnya. Bila kita sadar akan keberadaan kita, kita menjadi  mampu untuk mengoreksi apa yang memjadi kekurangan kita. Sebagai anak Tuhan, kita diberikan ROH yang hidup, yang dinamis, roh yang senantiasa berkembang menuju arah yang lebih baik.  Belajar untuk berperilaku adalah sebuah proses untuk menjadi lebih baik. Seperti anak bayi yang diajarkan berbicara dan beraktifitas, demikianlah kita mengembangkan diri dengan apa yang sudah ada dalam diri kita. Itulah yang dinamakan membangun Imej.

Ada suatu masa dimana aku memandang “membangun imej” itu sebagai sesuatu yang tercela. Haram. Sebab pada saat itu, aku mengira bahwa membangun imej adalah pekerjaan yang sia-sia, dan berupa kepuraan-puraan. Namun, pada firman Tuhan Yesaya 11:2a disebutkan bahwa, RohTUHAN  akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan….., aku mendapati bahwa kita diharuskan  bertindak dengan hikmat, bukan sesuka-hati sampai-sampai tidak menghiraukan gangguan yang kita sebabkan bagi hidup orang lain. Sejak itu, aku mulai paham pentingnya sebuah imej positif, apalagi sebagai anak Tuhan.

Sebagai ciptaan Tuhan, kita diberikan Roh. Tergantung apakah kita akan mengaktifkan Roh itu di dalam diri kita. Dalam konteks membangun Imej, kita memerlukan Roh hikmat dan pengertian. Bila kita memerlukan imej tertentu untuk suatu pekerjaan misalnya, maka belajarlah. Contoh sebagai seorang sekretaris, layakkah bila dia berpakaian dan berdandan serampangan? Tidak layak karena, dia senantiasa mendampingi atasannya yang mempunyai relasi-relasi dan kolega-kolega bisnis yang memperhatikan imej. Jangan mempermalukan atasanmu, terlebih lagi mempermalukan diri sendiri dengan perilaku yang tidak layak.

Jadi, tidak ada salahnya untuk belajar “berperilaku” dan membangun “imej” yang positif, karena itu adalah sebuah proses mengembangkan diri.  Jangan takut untuk berubah, berubah menjadi lebih baik, jangan takut bahwa hal itu akan menghapus jati dirimu. Bagaimanapun, Perilaku/ Imej hanyalah kulit luar saja. Seperti rumah atau pakaian, hanya bangun luar saja yang  dilihat secara fisik. Didalamnya? didalamnya adalah jati diri kita yang sebenarnya, jati diri yang telah dirancangkan Tuhan sejak kita dibentuk di dalam kandungan bunda. Selanjutnya,  tergantung pilihanmu, apakah kamu akan membiarkan jati dirimu hilang tertutup oleh imej, ataukah jati dirimu yang  memperkuat imej  itu.

Aku akan memberikan satu contoh. Suatu ketika aku mendapat kesempatan untuk menghadiri sesi yang dibawakan oleh Jill Lowe.  Jill adalah seorang wanita yang luar biasa, dia tinggal di Singapura dan mempunyai karir sebagai seorang konsultan imej. Aku tidak bisa menilai bagaimana hasil orang-orang yang dilatihnya karena belum pernah berjumpa dengan mereka, namun, melihat kepada kepribadian Jill, aku mendapatkan dia sebagai seorang wanita yang sangat atraktif – menarik. Secara fisik, dia tidak kelihatan seperti Miss Universe, dia tidak tinggi, dan wajahnyapun biasa-biasa saja, tetapi dia begitu menarik dan kelihatan begitu hidup! Dan dia tidak kelihatan seperti boneka-boneka yang kadang kita lihat pada saat pemilihan Miss Universe,  tetapi lebih daripada itu. Semua yang dilakukannya kelihatannya sangat menarik, dan aku yakin itu adalah peran dari Roh dan jati diri yang ada didalam dirinya. Dia tahu siapa dirinya, dia tahu tujuan hidupnya.

Ingatlah bahwa kita diciptakan  dengan rancangan yang indah, dan Tuhan memandang semua ciptaaanNya sungguh baik (kejadian 1:1-31), dan ingatlah juga bahwa berperilaku ja’im termasuk di dalam “penguasaan diri” (Titus 2:6; Galatia 5:22-23).  So, why not starting now?

Bacaan Alkitab:

Yesaya 11:2a  ; 2 Timotius 1: 7  ; Kejadian 1:1-31 ; Titus 2:6 ; Galatia 5:22-23

Semoga diberkati 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s