KEMENANGAN DALAM DIAM

Posted on Updated on

Renungan Jumat Agung/Paskah

Dalam keheningan malam, tanpa ada tanda-tanda apapun, tiba-tiba segerombolan serdadu muncul di tengah kegelapan. Para serdadu ini hanya mempunyai satu tujuan, yaitu menangkapNya. Kita tahu bahwa cerita ini menceritakan tentang proses pengkhianatan terhadap Yesus Kristus sampai Dia disalibkan, dikuburkan dan kemudian Bangkit pada hari ke 3. Ya, kisah ini berulang-ulang diceritakan dalam 4 Kitab Injil utama, yaitu dalam Matius 26-28, Markus 14-16, Lukas 22-24 dan Yohanes 18-19.

Pengkhianatan kerap mewarnai cerita perjalanan hidup kita, apakah itu hubungan percintaan, hubungan antara atasan-bawahan, hubungan antara teman, hubungan antara keluarga, intinya pengkhianatan terjadi ketika kita memberikan kepercayaan kepada seseorang, namun kepercayaan itu diselewengkan. Dan ketika kita mendapati diri kita dikhianati, umumnya kita tidak terima, kita meresponi dengan perlawanan, karena hati menolak untuk  menerima rasa sakit yang ditimbulkan oleh pengkhiatanan tersebut.  Penolakan dan perlawanan cuma menunjukkan bahwa kita kuat dan tidak gampang  diintimidasi atau diakali oleh orang lain, tetapi bukan untuk  membuat keadaan semakin membaik apalagi menyembuhkan, malah cenderung membuat masalah  semakin lebar dan semakin dalam. Dan itu bukanlah respon yang benar.

Mari kita simak contoh dibawah ini:

Illustrasi 1 :

Pernahkah anda melakukan test darah?  Saya kebetulan mempunyai daya tahan yang lemah terhadap  “darah”.  Sewaktu saya remaja, saya berkali-kali pingsan bila mendapati salah satu bagian tubuhku mengeluarkan darah, baik akibat tergores ataupun jatuh, maka tubuhku  serta merta akan terasa lemas, seakan darah berhenti mengalir, jantungku juga melemah, penglihatanku mulai buram dan kemudian tidak sadarkan diri. Pengalaman2 itu secara tidak langsung membuatkan keder duluan apabila hendak menjalani test darah, bahkan pada masa yang lalu, setiap kali test darah, setiap kali saya pingsan. Mengapa itu bisa tersjadi? karena saya dikuasai rasa takut dan menolak untuk menerima akibatnya. Untunglah tidak lama kemudian, saya berhasil mengetahui cara untuk mengatasinya. Pada waktu kita mau test darah, perawat akan menggunakan jarum suntik untuk dimasukkan kebawah kulit kita dan kemudian darah kita akan disedot dengan jarum suntik tersebut, untuk mencegah rasa sakit, maka pada saat jarum masuk ke dalam kulit, hiruplah nafas dalam-dalam dan kemudian bernafas secara teratur sewaktu darah mulai mengalir ke tabung injeksi. Duduk manis dengan diam adalah solusi terbaik untuk mencegah sakit, semakin kita banyak bergerak, semakin terasa sakitnya.

Illustrasi 2 :

Terkadang satu masalah kecil bisa memicu masalah besar, apalagi bila masalah tersebut menimpa seseorang yang mempunyai “pengaruh” dalam satu komunitas.  Jono adalah seorang pria yang sangat disukai dalam kalangan teman-teman sekerjanya, pada suatu hari si Bossnya Jono,  tiba-tiba memanggil si Jono, dan kemudian tanpa alasan memPHK si Jono. Jono tentu saja tidak terima, dan tidak habis pikir, dan semakin diolah, semakin dia tidak menemukan alasan apapun yang masuk akal sehinggga Boss itu memecatnya. Dia  sakit hati dia sama si boss dan mendendam. Lalu dia  memprovokasi teman-temanya untuk mendukungnya, mereka protes, dan akhirnya teman-temannya terseret dan ikut-ikuan di PHK.  Bila Jono bersedia  menerima keputusan itu dengan lapang dada, kemudian memfokuskan diri mencari pekerjaan yang baru, maka dia tidak perlu mencelakakan teman-temannya yang sebenarnya tidak berhubungan dengan masalah itu. Sebuah respon yang buruk, bukan?


Ada beribu-ribu alasan  kita dikhianati atau disakiti dan  kita tidak selalu tahu alasan yang sebenarnya. Mungkin saja alasannya karena rasa iri seperti kaum Farisi yang merasa tersaingi. Mungkin demi menjaga posisi atau kedudukannya seperti Pontius Pilatus. Mungkin juga demi uang seperti yang dilakukan Yudas Iskariot, bahkan mungkin juga untuk menghindari masalah seperti Petrus.

Dalam kisah itu, diceritakan bahwa ketika Yesus ditangkap, dihina dan disiksa, Yesus tidak melawan sama sekali, bahkan  menyembuhkan telinga seorang serdadu yang ditebas oleh Petrus, muridNya. Bahkan mengucapkan doa pengampunan kepada orang-orang yang menganiaya DiriNya. Merasakan dicambuk dengan cambuk berduri yang masuk ke bawah kulit dan kemudian tertarik keluar dengan daging yang hancur dan darah bercucuran, perjalanan di via Dolorosa ketika memanggul salib yang kasar dan berat, sampai dipaku di tiang salib, sungguh tak mampu dibayangkan rasanya.

Apakah  hal tersebut menderingkan sesuatu dalam benak kita? Kita diajarkan bahwa Yesus mati di kayu salib demi menebus dosa umat manusia, memang itulah tujuan Dia dilahirkan (Yohanes 3:16). Tetapi hari ini saya mendapatkan hikmat untuk menuliskan tentang respon Yesus terhadap penderitaanNya, yaitu DIAM. Dia diam karena Dia tahu bahwa inilah yang harus Dia terima.

  • Bila hari ini engkau dikhianati, terimalah dan jangan berkata apa-apa, tidak perlu mengumbar sakit hatimu,  karena itulah yang dilakukan Yesus ketika dikhianati dan dijual oleh Yudas, bahkan terhadap Yudas-pun, Dia tidak menuntut.

Amsal 11:6 berbunyi: Orang benar dilepaskan oleh kebenarannya, tetapi PENGKHIANAT tertangkap oleh hawa nafsunya. Kita tahu bahwa pada akhirnya Yudas bunuh diri karena terperangkap oleh rasa bersalah yang tidak mampu dia tangani. Hal ini juga mengajarkan kita untuk tetap setia terhadap hal-hal yang benar dan jangan tergoda dengan kesenangan atau keuntungan sesaat.

  • Bila hari ini engkau terluka demi hal yang benar, diamlah, jangan berkata apapun, dan terima saja, karena itulah yang dilakukan oleh Yesus ketika dicambuk dan disiksa oleh serdadu Roma.

Menerima dalam diam demi satu hal yang benar dan pantas dibela, bukan berarti kita bodoh dan lemah. Bukan berarti kita tidak mampu membalas dan memenangkan pertarungan yang dapat diperlihatkan kepada orang-orang.

Menerima dalam diam adalah langkah pertama kita untuk memaafkan. Dan ketika semuanya terungkap, siapa yang bernilai akan berkilau pada akhirnya. Sama seperti Yesus dalam diamNya, menerima sampai mati, demi satu kebenaran, bahwa Dia adalah Tuhan dan Raja atas segala Raja, dan sudah dibuktikanNya melalui kebangkitanNya di hari 3. Haleluya!

Amsal 11:13b 

Siapa yang setia, menutupi perkara.

Berlakulah setia kepada Tuhan dan kepada hal-hal yang benar yang diajarkanNya, maka semua akan  baik pada akhirnya.

Tuhan Yesus memberkati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s