WARISAN

Posted on Updated on

Harimau mati meninggalkan belang …

Gajah mati meninggalkan gading…

Manusia mati meninggalkan nama …

Semua orang pasti suka dengan warisan, asal bukan warisan hutang. Warisan adalah peninggalan dari masa lalu ke masa selanjutnya. Warisan bisa berupa  ilmu, budaya ataupun harta benda. Ingatkah anda tentang kejadian klaim batik sebagai warisan budaya Malaysia yang sempat gempar dibeberapa saat yang lalu? Warisan ternyata memang penting.

Saya sudah mulai memikirkan warisan apakah yang harus diwariskan kepada keturunanku nanti.  Yang pasti, tempat pertama adalah bekal rohani, lalu ada  tata krama dan ilmu pengetahuan,  dan kalo bisa, boleh ditambahkan warisan uang yang banyak.  Belum kusadari peran “Nama/Reputasi” sebagai warisan sampai pepatah diatas muncul dan melintas dibenakku.

Nama atau Reputasi yang kita tinggalkan ternyata akan berdampak besar di dalam kehidupan anak cucu kita. Satu hal yang sangat nyata adalah peristiwa G30S PKI tahun 1965, dimana para keturunan eks kegerakan tersebut dan ormas-ormas yang berada dibawahnya dijadikan sebagai Tahanan Politik selama 37 tahun dalam era  Pemerintahan Soeharto, mereka hidup terisolasi, dikucilkan, didiskriminasi, tidak boleh ikut dalam PEMILU dll.  Coba bayangkan sulitnya kehidupan mereka, karena mereka mungkin tidak terlibat dalam peristiwa tersebut.  37 tahun cukup untuk melahirkan 2 generasi yang tidak tau apa-apa tetapi harus menerima akibatnya.

Gaya hidup  zaman modern dengan individualitas yang tinggi cenderung membuat kita merasa berhak berbuat semaunya tanpa memikirkan orang lain. Kita bebas melakukan apa saja dengan alasan privacy. Norma dan tata krama seakan-akan menghilang. Terjadi pergeseran dari  beradab menuju biadab. Egois dan sangat mementingkan diri sendiri seakan-akan sedang hidup di zaman purbakala dimana belum ada ajaran sopan santun dan tata krama. Bila ada yang mengkritik, maka akan segera dibantah dengan kalimat sakti , “ini hidupku, tidak usah ikut campur”. Kita  membangun pagar yang tebal dan tinggi untuk melindungi hak kita, melindungi diri dari kritikan ataupun nasehat yang baik.

Demikian juga dalam hal pertemanan. Saya baru mengerti ternyata ada model pertemanan yang hanya untuk bersenang-senang dan dilarang mengkritik atau menasehati. Kelompok yang terdiri dari orang-orang yang mau diterima apa adanya, tetapi tidak mau menerima orang lain apa adanya. Artinya, mereka mau diterima dengan segala sisi kepribadian mereka, tetapi tidak mau menerima dikritik oleh orang lain.  Dengan dalih “teman sejati selalu menerima diri kita apa adanya”,   berarti secara sadar manusia mengakui ada sisi buruk dari dirinya yang sebenarnya bisa  diubah meskipun sulit. Kalau memang bisa diubah menjadi baik, kenapa menolak berubah?

Bila kalimat tersebut dipertanyakan kepada kita, apakah kita sanggup atau mampu menerima orang lain dengan baik buruknya juga? sebagian mungkin menjawab bisa, sebagian mungkin tidak, karena  saya kira  setiap orang pasti mempunyai batas toleransi keburukan yang bisa diterimanya. Saya memutuskan untuk meninggalkan reputasi yang baik buat keturunanku. Reputasi dan keharuman nama yang membuat mereka bangga memiliki diriku sebagai ibu ataupun leluhur.

Ada sebuah cerita nyata yang pernah saya dengar, dimana seorang wanita karena keegoisannya, secara tidak langsung telah  mengakibatkan hidup anak perempuannya berakhir . Wanita tersebut adalah seorang tua tunggal yang supel dan baik.  Dalam kehidupan normal sehari-hari, dia sangat lemah lembut, tetapi ada satu halaman mengenai tingkah lakunya yang menjadi sorotan yaitu suka bergonta-ganti pasangan. Anak perempuannya sudah dewasa dan  mempunyai calon suami dari keluarga yang sangat mapan, mereka akan segera menikah.  Suatu hari, wanita ini bersama seorang pria keluar dari  hotel sambil berpelukan mesra, dan kejadian itu terlihat oleh seseorang yang mengenalnya,  hal tersebut menjadi gosip panas dari mulut ke mulut, dan sampai ke telinga calon keluarga besannya. Mereka merasa malu dan membatalkan pernikahan. Anaknya tidak sanggup menerima kenyataan tersebut akhirnya bunuh diri.  Satu akibat dari perbuatan orang tua yang egois dan tidak bijak.

Nah, Warisan seperti apakah yang akan kita tinggalkan bagi orang yang sangat kita kasihi? Mari kita mulai berbenah diri dan meningkatkan kualitas, berpikir dan bertindak  lebih bijak, berbuat lebih baik, bersikap lebih santun, dan yang terpenting tetap taat dan setia pada Tuhan, anak cucu kita tidak akan meminta-minta…

♥ Semoga Diberkati ♥

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s