KESETIAAN VS KONSISTENSI

Posted on Updated on

Suatu hari, seorang teman lama memintaku menuliskan tentang kesetiaan. Tentang itu, kenanganku tiba-tiba berhenti pada satu masa, ketika aku masih muda belia. Waktu itu aku bekerja di sebuah perusahaan (PMA) di Jakarta dan merupakan karyawan termuda disana.

Aku senang diterima untuk  bekerja disana.  Semua hal kelihatannya baru karena sebelumnya aku belum pernah bekerja di sebuah perusahaan dengan kantor yang besar dan orang sebanyak itu. Disana banyak departemen yang berbeda-beda dengan total sekitar 60 karyawan. Untungnya, aku cepat belajar. Dengan mempelajari sistem yang telah diterapkan oleh pendahuluku, aku mulai bekerja dengan giat walaupun tugasnya masih sederhana. Alhasil, semua pekerjaan bisa kuselesaikan dengan baik dan cepat, sehingga waktu tersisa cukup banyak.

Di sela-sela waktu yang itu, aku mempergunakannya untuk mengunjungi departemen-departemen lain, menanyakan apakah ada hal-hal yang bisa kubantu. Sekalian mengamati dan sambil belajar cara kerja mereka yang senior-senior. Dari sanalah aku kemudian tahu, ketika diminta untuk mengambilkan alat-alat tulis di ruangan stok, bahwa ruangan itu terbuka dengan bebas, siapapun yang butuh sesuatu, boleh mengambilnya disana, dan tidak ada penjaganya.

Ternyata secara kebetulan, ruangan itu tidak jauh dari tempatku. Dan tidak lama kemudian, aku menyadari satu hal, bahwa ada orang yang secara rutin mengambil barang dari dalam sana. Awalnya saya pikir mereka mengambil karena butuh, misalnya bulpen. Tetapi pas kami berada bersama-sama diluar kantor, aku melihat orang itu memakai bulpen dari kantor, notes blok dari kantor, untuk urusan pribadinya.

Aku mulai tertarik dengan perilaku-perilaku para pekerja, dan aku mencatat beberapa hal dalam benakku.    Ada yang yang keluar makan siang jam 12.00, kembali 14.00, padahal waktu makan siang hanya diberikan 1 jam yaitu sampai pukul 13.00.  Ada yang datang pagi-pagi sekali dan selalu tidak pulang pada saat semua karyawan bubaran kerja, padahal sewaktu jam kerja, kerjaannya lebih banyak ngerumpi, dan saat orang-orang sibuk siap-siap mau pulang, orang itu baru mulai mengerjakan pekerjaannya dan pulang malam, artinya lembur.  Pada waktu itu aku hanya melihat sebatas hal yang tidak baik atas dasar standar norma dan etika yang diajarkan keluargaku. Aku jelas belum mengerti, ternyata hal-hal tersebut termasuk tidak setia.

 

APA ITU KESETIAAN?

Kesetiaan adalah hal dituntut kepada orang yang mengikatkan diri pada satu aturan, individu maupun komunitas. Dan jenisnya pun bermacam-macam. Pada zaman kuno, sebagai negara-negara yang lemah memberikan upeti kepada negara yang kuat sebagai tanda bukti kesetiaannya.  Bahkan kita mengenal cerita  tentang Abraham yang bersedia mempersembahkan anaknya  sebagai bukti kesetiaan kepada Allah. 2 individu yang saling mencintai mengikat janji untuk saling setia sampai selama-lamanya.

Kesetiaan,  bila dibandingkan dengan masa dulu semakin memudar. Ini adalah fenomena dari individualisme yang kental.  Masyarakat masa kini saling berlomba untuk mengungguli satu sama lain, dan buruknya, terkadang dengan menghalalkan segala cara. Mereka berani mengorbankan apapun  demi kepentingannya sendiri, ya, kepentingannya sendiri. Manusia sekarang lebih setia terhadap dirinya sendiri  melebihi apapun juga. Dan kesetiaan bisa diperjualbelikan dengan UANG.  Orang yang meng-klaim dirinya baik pun belum tentu mampu bersikap setia terhadap sesuatu selain kepada dirinya sendiri.

Bila anda suka menonton film sejarah kolosal, akan anda temukan bahwa orang-orang yang setia jumlahnya selalu kalah banyak dengan para pemberontak dan orang jahat .  Komplotan yang ber-konspirasi untuk menjatuhkan sang penguasa, sering kali memakai uang dan harta untuk memuluskan jalan. Mereka membeli orang-orang yang terdekat dengan penguasa. Dan orang-orang itu sedemikian mudah tergoyahkan kesetiaannya, demi uang.

Keserakahan, haus kekuasaan dan iri hati sering membuat kesetiaan itu hilang. Contohnya   Kain membunuh Habil karena iri hati. Yakub menipu Esau karena kekuasaan. Yudas menjual Yesus demi beberapa keping emas. Tetapi dari cerita-cerita itu, kita tahu bahwa  hidup orang-orang yang tidak setia tersebut akan berakhir dengan penyesalan.  Dan Bila kita memberikan kesetiaan kita kepada orang yang pantas mendapatkannya,   kita akan berkesempatan  menerimanya kembali, berlipat-lipat kali ganda. Setidaknya, rasa aman dan damai dalam diri yang membebaskan kita untuk melakukan perkara dengan baik dan benar.

BAGAIMANA SUPAYA TETAP SETIA?

Kesetiaan sangat memerlukan konsistensi.  Konsisten adalah kemampuan untuk melakukan perkara-perkara yang benar setiap hari tanpa tergantung situasi dan suasana hati.

Melakukan hal-hal baik secara konsisten akan membuahkan hasil yang luar biasa, contohnya pelajar biasa  yang konsisten belajar akan menjadi lebih pintar dari pelajar berbakat yang malas. Semakin konsisten kita melakukan suatu hal, semakin kuat hal tersebut akan mengakar dalam diri kita.

3 JENIS KESETIAAN YANG MUTLAK DILAKUKAN:

 1. Setia pada Tuhan, apa yang kita lakukan sebagai bukti kesetiaan kita?

Apa yang menjadi ukuran kesetiaan yang kita berikan kepada Tuhan untuk nyawa kita yang ditebusnya? Apakah dengan rajin beribadah? Apakah dengan  cara hidup kita sehari-hari?  Apakah Dia yang menjadi pengharapan kita dalam segala situasi? Apakah kita bersyukur atas apa yang kita miliki pada saat ini?

Pikirkanlah dan bandingkanlah dengan Kasih setia Tuhan kepada kita, Dia   mengokohkan dan menopang ketika kita goyah, yang menghibur dan menenangkan ketika kita galau, yang memberikan kita hikmat dalam menyelesaikan masalah, yang membalaskan kejahatan orang fasik ketika kita dianiaya, karena kasih setiaNya untuk selama-lamanya,  setinggi langit dari bumi, sejauh timur dari barat.

2. Setia terhadap pasangan (keluarga)   

Dalam hal kesetiaan terhadap pasangan, saya teringat kepada alm.  Ibu Tien Soeharto  sebagai penggagas PP10.  UU Pemerintahan  tersebut isinya  melarang setiap anggota pemerintahan/ pejabat negara  beristri lebih dari satu. Gagasan tersebut didasari oleh pemikiran “bila terhadap istri saja tidak bisa setia. bagaimana bisa setia terhadap negara”.

Suami istri harus konsisten terhadap komitmen yang telah disepakati bersama, saling mengasihi, saling menghormati. Suami atau Istri adalah urutan kedua yang harus diutamakan setelah Tuhan, karena laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, bukan orang lain. Satu pesan moral yang juga teramat penting bagi kehidupan suami isteri adalah tidak boleh berselingkuh. Bila satu pernikahan itu bersih dan sejalan dengan janji pernikahan, maka doa keduanya tidak akan terhalang. Tuhan menjanjikan bonus buat kedua orang itu. Berjaga-jagalah.

      

3. Setia dalam pekerjaan

Bila kamu berdomisili di kota Surabaya, kamu pasti tahu ada satu rumah makan yang sangat terkenal. yaitu Warung Bu Rudi. Aku tau tepat itu sejak lama, sejak bangunannya masih kontrak, dan kecil. Saat ini, Warung Bu rudy tidak pernah sepi pengunjung. Bahkan sudah menjadi salah satu acuan untuk menikmati kuliner di kota ini. Yang menjadi perhatianku adalah, sang pemilik, yaitu Bu Rudi. Bu Rudi tidak banyak berubah. Aku mengenal sosoknya sejak dulu, dan beliau masih tetap ramah dan rajin walaupun saat ini usahanya berkembang pesat. Sesekali aku mampir untuk makan disana, dan melihatnya masih membereskan pekerjaan,berbincang-bincang dengan tamu  atau sekedar mengusir lalat. Sementara ditempat lain kita banyak melihat bahwa,  ketika kesuksesan menghampiri seseorang, orang itu akan cenderung lupa diri dan  merubah gaya hidupnya.

Tuhan bilang, setialah kepada perkara-perkara kecil. Kesetiaan dalam perkara kecil  memancing rezeki datang mendekat.   Hukum  juga berlaku untuk kita. Kerjakanlah segala hal dengan sepenuh hati, mulai dari hal terkecil, dan kita akan dipercayakan untuk mengerjakan hal-hal yang lebih besar. Karena Tuhan melihat, orang-orang yang setia pada perkara kecil, akan setia pada perkara besar.

Contoh  kesetiaan lain yang bisa  kita lakukan sehari-hari antara lain setia kepada sahabat dan mendampingi teman dikala kesusahan. Mentaati peraturan dan hukum negara menunjukkan kesetiaan terhadap negara.

KESETIAAN ITU MAHAL HARGANYA.

MENJALANKAN KONSISTENSI PERLU PENGORBANAN.

 

Ilustrasi tambahan :

Anda tentu tidak asing dengan kisah “Hachiko”, seekor anjing yang setia menunggu tuannya yang tidak kunjung datang. Anjing tersebut akhirnya mati dalam  penantiannya. Bila seekor anjing dikenal dengan kesetiaan, bagaimana dengan kita? Mari kita periksa ke dalam diri mengenai kesetiaan kita kepada Tuhan, kepada pasangan hidup/ keluarga, kepada majikan/pimpinan kita di bidang pekerjaan, kepada lembaga/  organisasi2 tempat kita melibatkan diri, kepada bangsa dan negara kita. Bila mendapati ada hal-hal pemicu yang membuat kita tidak setia, kajilah lebih lanjut dan renungkanlah dengan hikmat dan doa.

 *) foto Hachiko yang asli dan patung peringatan kesetiaannya.
 
 
 
 
 

 ♥God Bless You♥

 
 
 
 
 
 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s